BI Perkuat Intervensi Valas, Fokus Jaga Rupiah dan Tarik Modal Asing

kumparan.com
9 jam lalu
Cover Berita

Bank Indonesia (BI) menegaskan bakal terus memperkuat bauran kebijakan moneter untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tingginya ketidakpastian ekonomi global. Direktur Eksekutif Senior sekaligus Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea mengatakan stabilitas menjadi prasyarat utama bagi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. "Bank Indonesia terus berkomitmen menjaga stabilitas sebagai prasyarat utama mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Di tengah ketidakpastian global yang tinggi, stabilisasi nilai tukar Rupiah terus diperkuat sehingga konsisten mendukung pencapaian sasaran inflasi dan mendorong kegiatan ekonomi," ujar Erwin dalam keterangan resmi, Rabu (29/7). Menurutnya, BI akan terus mengoptimalkan bauran kebijakan moneter melalui berbagai instrumen, termasuk intervensi di pasar valuta asing dan penguatan instrumen moneter. "Berbagai instrumen, termasuk triple intervention di pasar valas (Spot, NDF dan DNDF) serta optimalisasi instrumen moneter seperti SRBI yang didukung fasilitas insentif swap dan DNDF hedging, terus dioptimalkan untuk menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus mendukung masuknya aliran modal asing," katanya. BI juga memastikan strategi pengelolaan likuiditas pasar uang dan perbankan akan terus diperkuat. Salah satunya melalui pengelolaan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) agar tetap sejalan dengan kebutuhan likuiditas dan menarik aliran modal asing. "Strategi dalam menjaga kecukupan likuiditas pasar uang dan perbankan diperkuat. Posisi SRBI berada dalam tren yang lebih terkendali. Ke depan, penerbitan SRBI terus diarahkan agar selaras dengan kebutuhan pengelolaan likuiditas dan mendukung masuknya aliran modal asing guna memperkuat stabilitas nilai tukar Rupiah," ujar Erwin. Di sisi lain, BI juga akan terus memperkuat kebijakan untuk mendorong pembiayaan ke sektor produktif melalui Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM). "Implementasi Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) akan terus diperkuat guna mendorong pembiayaan kepada sektor-sektor prioritas, termasuk penguatan mekanisme redistribusi likuiditas di sektor keuangan agar transmisi pembiayaan menjadi semakin efektif," tutur Erwin.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kredit BCA (BBCA) Tembus Rp 1.036 T, Cetak Laba Rp 29,5 T di Semester I 2026
• 18 jam lalukatadata.co.id
thumb
Kepala BGN: Program MBG Akan Segera Dipercepat di Daerah-Daerah Stunting Tinggi
• 3 jam lalukompas.com
thumb
Menkop: Gaji Manajer Kopdes Ditanggung APBN Selama 2 Tahun
• 21 jam lalukompas.com
thumb
Pemprov Jabar Bersama ESDM Groundbreaking PSEL Legok Nangka Dimulai, Wamen ESDM Targetkan Beroperasi pada 2029
• 13 menit lalutvonenews.com
thumb
Sembcorp Utilities Beri Sinyal Akuisisi 20% Saham Entitas Prajogo (TPIA)
• 2 jam lalukatadata.co.id
Berhasil disimpan.