VIVA – Respons aktris Kirana Larasati terhadap kasus tewasnya seorang pria yang diduga menjadi korban pengeroyokan massa di Kabupaten Tabanan, Bali, menuai perhatian publik. Pernyataan yang diunggahnya di media sosial memicu perdebatan karena dinilai memiliki sudut pandang yang berbeda dari sebagian besar orang yang lebih menyoroti nasib keluarga korban, terutama sang anak.
Kasus tersebut sebelumnya menjadi sorotan setelah beredar video yang memperlihatkan seorang anak perempuan menangisi jenazah ayahnya. Rekaman itu viral di berbagai platform media sosial dan mengundang simpati luas.
Banyak netizen mengaku tersentuh melihat kesedihan sang anak yang harus kehilangan ayahnya dalam peristiwa tragis tersebut.
Diketahui, pria berinisial KD meninggal dunia setelah diduga menjadi korban pengeroyokan oleh sejumlah warga di Banjar Dinas Juwuk Legi, Desa Batunya, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Bali. Berdasarkan informasi yang beredar, insiden bermula ketika KD diduga tertangkap tangan mencoba mencuri ayam milik warga.
Peristiwa itu kemudian berkembang menjadi perbincangan nasional. Di satu sisi, banyak pihak mengungkapkan belasungkawa terhadap keluarga yang ditinggalkan. Di sisi lain, muncul pula pandangan bahwa tindakan kriminal yang diduga dilakukan korban tidak sepatutnya diabaikan hanya karena berakhir dengan kisah yang mengundang empati.
Melalui akun Threads miliknya, Kirana Larasati menyampaikan pandangannya secara lugas. Ia menilai masyarakat seharusnya tidak mengabaikan akar persoalan, yakni dugaan tindak pidana yang dilakukan oleh korban sebelum insiden pengeroyokan terjadi.
"Kata aku sih stop meromantisasi hidup maling. Maling uang rakyat juga banyak. Cuma gak bisa kena gebuk warga aja," tulis Kirana Larasati di Threads, dikutip Rabu 29 Juli 2026.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa menurut Kirana Larasati, simpati publik sebaiknya tidak menghapus fakta mengenai dugaan tindak kriminal yang menjadi awal mula peristiwa. Ia juga membandingkan kasus tersebut dengan berbagai bentuk kejahatan lain yang sama-sama merugikan masyarakat.
Tidak berhenti sampai di situ, Kirana Larasati juga menyoroti alasan ekonomi yang kerap dijadikan pembenaran terhadap aksi pencurian. Menurutnya, kondisi sulit bukan hanya dialami oleh satu orang, tetapi banyak masyarakat yang tetap memilih mencari nafkah tanpa melakukan pelanggaran hukum.





