Angka ATS dan Putus Sekolah di Bogor Tembus 6.000, DPR Ingatkan Ini ke Pemerintah

idxchannel.com
5 jam lalu
Cover Berita

Fenomena putus sekolah ini ternyata tidak didominasi oleh masalah akses atau biaya pendidikan, melainkan oleh rendahnya kemauan anak-anak itu sendiri.

Angka ATS dan Putus Sekolah di Bogor Tembus 6.000, DPR Ingatkan Ini ke Pemerintah. (Foto: Istimewa)

IDXChannel—Ketua DPR Puan Maharani menyoroti temuan 6.000 anak tidak sekolah (ATS) dan anak putus sekolah di Bogor, Jawa Barat. Temuan ini harus menjadi alarm bagi pemerintah bahwa tantangan pembangunan sumber daya manusia telah memasuki babak baru.

Menurutnya, persoalan pendidikan tidak lagi berkaitan dengan ketersediaan sekolah, bantuan pendidikan, atau akses belajar. Ada tantangan yang jauh lebih besar, yakni memastikan anak tetap memiliki keyakinan bahwa pendidikan merupakan jalan terbaik untuk membangun masa depan.

Baca Juga:
Kemensos Catat Ribuan Siswa Baru Terdaftar di Sekolah Rakyat TA 2026/2027

“Negara sedang menghadapi tantangan dalam menjaga mimpi dan cita-cita generasi mudanya. Jika kondisi ini dibiarkan, yang hilang bukan hanya kesempatan belajar seorang anak, tetapi juga kualitas sumber daya manusia yang akan menentukan masa depan Indonesia,” kata Puan Maharani dalam keterangan tertulisnya yang dikutip, Rabu (29/7/2026). 

Puan pun menyoroti temuan terbaru ATS dan anak putus sekolah di wilayah Kota Bogor yang saat ini menembus 6.000 anak. Forum Komunikasi Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (FKBM) Kota Bogor mengungkapkan bahwa fenomena putus sekolah ini ternyata tidak didominasi oleh masalah akses atau biaya pendidikan, melainkan oleh rendahnya kemauan anak-anak itu sendiri.

Baca Juga:
Potret Ayah Antar Sekolah Hari Pertama di SLB Negeri 02 Jakarta

Berdasarkan temuan FKBM di lapangan, upaya pendataan dan ajakan untuk kembali bersekolah sering kali mendapat penolakan. Misalnya, dari 141 data ATS di Kelurahan Tegallega, hanya 35 anak yang bersedia masuk lembaga pendidikan.

Sementara itu merujuk data terbaru Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, jumlah ATS di Indonesia diketahui mencapai mencapai 3.966.858 atau hampir 4 juta orang. 

Baca Juga:
Akibat Pemotongan DBH, Pemprov DKI hanya Revitalisasi 11 Sekolah Rusak pada 2026

Kemendikdasmen juga mencatat anak kategori Belum Pernah Bersekolah (BPB) sebanyak 1.913.633, dropout/dikeluarkan (DO) ada 986.755 orang, serta Lulus Tidak Melanjutkan (LTM) berjumlah 1.066.470.

Puan pun menegaskan penanganan isu ATS harus dinaikkan statusnya menjadi agenda strategis pembangunan nasional, bukan sekadar program pendidikan.

“Pemerintah perlu menetapkan penurunan angka ATS sebagai salah satu indikator utama keberhasilan pembangunan sumber daya manusia yang mengikat seluruh kementerian, pemerintah daerah, dan menjadi bagian dari evaluasi pembangunan nasional,” jelas Puan.

Puan mengingatkan, keberhasilan pembangunan tidak cukup diukur dari meningkatnya angka partisipasi sekolah. 

“Tetapi juga dari kemampuan negara untuk memastikan setiap anak bertahan hingga menyelesaikan pendidikan dan memiliki bekal untuk memasuki kehidupan yang produktif,” tambah mantan Menko PMK tersebut.

Grand Design Nasional Penuntasan Anak Tidak Sekolah 

Lebih lanjut, Puan mendorong pemerintah untuk menyusun Grand Design Nasional Penuntasan Anak Tidak Sekolah hingga 2045. 

Hal ini disebut dapat menjadi peta jalan lintas sektor yang menyatukan kebijakan pendidikan, perlindungan sosial, pembangunan keluarga, ketenagakerjaan, serta pembangunan daerah.

“Grand design tersebut perlu memuat target nasional yang terukur, pembagian tanggung jawab yang jelas, mekanisme pembiayaan yang berkelanjutan, hingga sistem akuntabilitas yang memastikan tidak ada anak yang keluar dari sistem pendidikan tanpa diketahui dan tanpa diintervensi oleh negara,” pesan Puan.

Puan berpandangan pemerintah perlu mengubah pendekatan dari menangani anak yang sudah putus sekolah menjadi mencegah setiap anak agar tidak pernah meninggalkan sekolah.

“Untuk itu, pemerintah harus membangun sistem nasional yang mampu mengidentifikasi anak-anak yang mulai berisiko putus sekolah,” jelasnya. 

Selain itu, Puan meminta pemerintah mengintegrasikan data pendidikan dengan data perlindungan sosial dan kependudukan. 

“Serta memastikan intervensi dilakukan sejak gejala awal muncul melalui kolaborasi antara sekolah, pemerintah daerah, keluarga, dan layanan sosial,” lanjut Puan.

Di sisi lain, Puan menyebut penurunan angka ATS perlu menjadi salah satu indikator evaluasi kinerja pemerintah daerah. 

“Pemerintah pusat perlu memberikan insentif fiskal dan dukungan program kepada daerah yang berhasil mempertahankan anak-anak di wilayahnya yang tetap berada di bangku sekolah,” usulnya.

“Sekaligus memberikan pendampingan khusus bagi daerah dengan angka putus sekolah yang tinggi. Dengan demikian, menjaga anak tetap bersekolah menjadi tanggung jawab bersama seluruh unsur pemerintahan, bukan hanya dinas pendidikan,” imbuh Puan.

Puan mengatakan, Indonesia Emas 2045 tidak akan ditentukan oleh seberapa banyak sekolah yang dibangun negara, tetapi oleh seberapa banyak anak Indonesia yang berhasil dijaga agar tetap memperoleh pendidikan dan memiliki kesempatan untuk membangun masa depan mereka.

“Negara tidak boleh kehilangan satu generasi hanya karena terlambat menyadari anak-anak mulai meninggalkan sekolah dan anak-anak putus sekolah karena keadaan. Setiap anak yang putus sekolah adalah alarm bagi negara untuk hadir lebih cepat dan bekerja lebih terpadu," pungkasnya.


(Nadya Kurnia)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
FIFA Berencana Jual Saham Piala Dunia ke Investor Swasta dan Menantu Trump, UEFA Marah Besar
• 4 jam lalukompas.tv
thumb
Studi Ungkap Penyebab Sebagian Perokok Terhindar dari Kanker
• 22 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
KPK Tangkap 21 Orang Terkait OTT Bupati Pemalang, Uang Rp21 Miliar Disita
• 4 jam lalurepublika.co.id
thumb
Viral Rombongan Pelajar Diduga Bawa Sajam di PIK, Polisi Cek CCTV-Buru Pelaku
• 5 jam lalukumparan.com
thumb
3 Skenario di Balik Mundurnya Perry Warjiyo dari Kursi Gubernur BI: Tak Ada yang Benar-benar Bersih
• 14 jam laluwartaekonomi.co.id
Berhasil disimpan.