Jakarta (ANTARA) - Latihan militer multinasional Rim of the Pacific (RIMPAC) 2028 menguji penggunaan sistem nirawak dan teknologi baru untuk mendukung operasi militer gabungan, sebagai bagian dari lebih dari 35 eksperimen selama latihan.
“Kami juga memasukkan lebih dari 35 eksperimen yang berfokus pada sistem nirawak dan teknologi baru,” kata Commander Combined Task Force (CCTF) RIMPAC 2026 Vice Admiral Jeffrey T. Jablon dalam pengarahan media virtual yang diikuti ANTARA di Jakarta, Rabu.
Jablon mengatakan berbagai eksperimen tersebut dilakukan untuk memahami bagaimana kemampuan teknologi baru dapat diintegrasikan ke dalam operasi militer sekaligus memberikan masukan langsung kepada operator sejak tahap awal pengembangan.
Salah satu eksperimen yang disebutnya bersejarah adalah pengisian ulang perbekalan di laut secara nirawak ketika kapal permukaan nirawak Typhoon secara otonom memasuki well deck USS Essex. RIMPAC 2026 juga mendemonstrasikan pencetakan 3D di kapal yang terhubung dengan pengiriman menggunakan drone otonom.
“Upaya-upaya ini membantu kami memahami bagaimana kemampuan baru dapat diintegrasikan ke dalam operasi, sekaligus memberikan masukan langsung dari para operator di dunia nyata sejak tahap awal pengembangannya,” ucapnya.
Pengujian teknologi tersebut berlangsung di tengah peningkatan kerja sama multinasional dalam RIMPAC. Jablon mengatakan tema kerja sama dengan negara-negara yang memiliki pandangan sejalan untuk memastikan kawasan Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka telah menjadi bagian dari RIMPAC sejak latihan tersebut pertama kali digelar pada 1971.
“Menurut saya, Anda memahami bahwa kerja sama multinasional dengan negara-negara yang memiliki pandangan sejalan untuk menjaga Indo-Pasifik tetap bebas dan terbuka telah menjadi tema utama RIMPAC sejak pertama kali diselenggarakan pada 1971 hingga 2026,” kata Jablon.
Menurut Jablon, RIMPAC pada awalnya hanya melibatkan lima negara pada 1971, tetapi kini telah berkembang menjadi 30 negara, termasuk Indonesia.
Perluasan tersebut, katanya, menunjukkan semakin banyak negara yang memiliki pandangan sejalan bergabung untuk meningkatkan kepercayaan, membangun hubungan, dan meningkatkan kemampuan beroperasi bersama.
Jablon juga menilai perluasan kerja sama tersebut menjadi salah satu dorongan penting dalam menjaga kawasan Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka.
RIMPAC 2026 sendiri mempertemukan lebih dari 30.000 personel, 31 kapal permukaan, lima kapal selam, dan lebih dari 190 pesawat untuk berlatih bersama di dan sekitar Hawaii sejak 24 Juni lalu. Penyelenggaraan tahun ini memasuki yang ke-30, sejak latihan maritim internasional itu dimulai pada 1971.
Baca juga: AS akan perluas latihan tanggap bencana pada RIMPAC pada 2028
Baca juga: Indonesia tunjukkan kesiapan Korps Marinir TNI AL di RIMPAC 2026
“Kami juga memasukkan lebih dari 35 eksperimen yang berfokus pada sistem nirawak dan teknologi baru,” kata Commander Combined Task Force (CCTF) RIMPAC 2026 Vice Admiral Jeffrey T. Jablon dalam pengarahan media virtual yang diikuti ANTARA di Jakarta, Rabu.
Jablon mengatakan berbagai eksperimen tersebut dilakukan untuk memahami bagaimana kemampuan teknologi baru dapat diintegrasikan ke dalam operasi militer sekaligus memberikan masukan langsung kepada operator sejak tahap awal pengembangan.
Salah satu eksperimen yang disebutnya bersejarah adalah pengisian ulang perbekalan di laut secara nirawak ketika kapal permukaan nirawak Typhoon secara otonom memasuki well deck USS Essex. RIMPAC 2026 juga mendemonstrasikan pencetakan 3D di kapal yang terhubung dengan pengiriman menggunakan drone otonom.
“Upaya-upaya ini membantu kami memahami bagaimana kemampuan baru dapat diintegrasikan ke dalam operasi, sekaligus memberikan masukan langsung dari para operator di dunia nyata sejak tahap awal pengembangannya,” ucapnya.
Pengujian teknologi tersebut berlangsung di tengah peningkatan kerja sama multinasional dalam RIMPAC. Jablon mengatakan tema kerja sama dengan negara-negara yang memiliki pandangan sejalan untuk memastikan kawasan Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka telah menjadi bagian dari RIMPAC sejak latihan tersebut pertama kali digelar pada 1971.
“Menurut saya, Anda memahami bahwa kerja sama multinasional dengan negara-negara yang memiliki pandangan sejalan untuk menjaga Indo-Pasifik tetap bebas dan terbuka telah menjadi tema utama RIMPAC sejak pertama kali diselenggarakan pada 1971 hingga 2026,” kata Jablon.
Menurut Jablon, RIMPAC pada awalnya hanya melibatkan lima negara pada 1971, tetapi kini telah berkembang menjadi 30 negara, termasuk Indonesia.
Perluasan tersebut, katanya, menunjukkan semakin banyak negara yang memiliki pandangan sejalan bergabung untuk meningkatkan kepercayaan, membangun hubungan, dan meningkatkan kemampuan beroperasi bersama.
Jablon juga menilai perluasan kerja sama tersebut menjadi salah satu dorongan penting dalam menjaga kawasan Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka.
RIMPAC 2026 sendiri mempertemukan lebih dari 30.000 personel, 31 kapal permukaan, lima kapal selam, dan lebih dari 190 pesawat untuk berlatih bersama di dan sekitar Hawaii sejak 24 Juni lalu. Penyelenggaraan tahun ini memasuki yang ke-30, sejak latihan maritim internasional itu dimulai pada 1971.
Baca juga: AS akan perluas latihan tanggap bencana pada RIMPAC pada 2028
Baca juga: Indonesia tunjukkan kesiapan Korps Marinir TNI AL di RIMPAC 2026





