jpnn.com, TAPANULI TENGAH - Lapangan SMAN 1 Plus Matauli Pandan pagi itu berbeda. Bendera Amerika Serikat, Kanada, Jerman, dan Australia berkibar di samping Merah Putih. Sebanyak 35 personel militer dari empat negara, dipimpin Commander Craig dari US Navy, berjalan masuk ke sekolah.
Mereka datang dalam rangka hari ke-7 misi Pacific Partnership 2026. Bukan untuk latihan perang, tetapi untuk berbagi: mengobrol, bermain, dan belajar bersama siswa Matauli.
BACA JUGA: Gabema dan TNI AL-US Navy Tanam 10 Ribu Mangrove di Tapanuli Tengah
Tim COMRELL Pasifik Partnership diterima dan disambut di Mess Yayasan Matauli untuk mendengarkan sejarah bahwa pendiri sekolah ini adalah kolaborasi seorang perwira dari Komando Pasukan Khusus Baret Merah, yang dipuncak kariernya menjabat Panglima Angkatan Bersenjata (Jenderal Feisal Tanjung) dan seorang politisi handal, yang berasal dari Pantai Barat pesisir Sumatra (Akbar Tanjung).
Acara dibuka dengan Tarian Selamat Datang oleh Tim Tari binaan Ibu Refelina Puspita. Tepuk tangan dan tawa pecah saat beberapa personel asing mencoba menirukan gerakan di akhir tarian.
BACA JUGA: Perkuat Kolaborasi dengan Pemkab Tapanuli Utara, BTN Bikin Layanan Publik Makin Modern
Di ruang pertemuan, suasana menjadi khidmat. Lagu kebangsaan lima negara dikumandangkan, dilanjutkan pertukaran cinderamata. Kepala SMAN 1 Plus Matauli Deden Rachmawan memperkenalkan SMA Negeri pertama yang menjalankan Program IB dan memiliki mimpi besar mendunia.
"Kunjungan ini bukan sekadar antarnegara. Ini misi kemanusiaan di bidang sosial dan pendidikan. Ini memperkuat motivasi bahwa Alumni Matauli adalah bagian dari kawasan Pasifik yang akan berperan di dunia internasional," ujar Deden.
BACA JUGA: 912 Warga Tapanuli Tengah Harus Hidup di Tenda Pengungsi Pascabencana
Setelah acara resmi, misi kemanusiaan dimulai. Tim Medis Comrell mengajarkan cara menyikat gigi yang benar kepada siswa. Lalu lapangan berubah menjadi arena sepak bola persahabatan antara Tim Comrell dan Tim Siswa.
Awalnya canggung karena beda bahasa, tetapi 10 menit kemudian semua cair. Gol dirayakan bersama, tanpa memandang seragam.
Puncaknya konser kecil di pelataran asrama. Dari lagu pop Amerika hingga lagu cepat yang membuat semua orang ikut bernyanyi dan bergoyang. Tidak ada jarak antara militer dan pelajar.
Bagi Matauli, English Day ini bukti bahwa sekolah di pesisir Pandan bisa menjadi titik temu dunia. Bahwa mimpi besar dimulai dari hal sederhana: sikat gigi, umpan bola, dan satu lagu bersama. (cuy/jpnn)
BACA ARTIKEL LAINNYA... Dukung Upaya Pemulihan Bencana di Aceh Tamiang & Tapteng, Chubb Life Bagi-Bagi Makanan Bergizi
Redaktur & Reporter : Elfany Kurniawan




