Main Hakim Sendiri Berulang, Kriminolog UI Singgung Absennya Elemen Negara

kompas.com
2 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Guru Besar Kriminologi Universitas Indonesia Adrianus Eliasta Meliala mengatakan, fenomena vigilantisme atau main hakim sendiri di tengah masyarakat dinilai bukan lagi sekadar reaksi spontan, tetapi juga akibat absennya peran negara.

Peran yang dimaksud adalah pencegahan maupun penanganan saat kejadian berlangsung.

“Jadi ini sudah menjadi semacam dalam tanda kutip 'budaya' yang kemudian diamini bersama. Tidak ada elemen masyarakat yang berusaha untuk mencegah hal itu, menghilangkan hal itu. Juga tidak ada elemen negara yang berusaha untuk menghilangkan hal itu ya,” ujar Adrianus kepada Kompas.com, Rabu (29/7/2026).

Baca juga: Guru Besar UI: Tekanan Ekonomi Picu Kasus Kejahatan Berujung Main Hakim Sendiri

Menurut Adrianus, budaya kekerasan ini begitu mengakar sehingga menciptakan kondisi di mana para pelaku kriminal justru merasa lebih aman jika segera ditangkap oleh pihak kepolisian dibandingkan harus berhadapan dengan amukan massa di lokasi kejadian.

“Bagi mereka lebih memilih untuk ditangkap polisi ketimbang kena massa kan. Karena kalau kena massa kan lalu efeknya bisa jauh, bisa sampai mati, bisa sampai dibakar gitu kan,” jelas Adrianus.

Selain itu, Adrianus menilai yang dinilai menjadi akar masalah bukan hanya absennya peran negara, tetapi juga kondisi ekonomi yang menjadi penyebab aksi pencurian berujung main hakim sendiri.

Baca juga: Yusril: Jika Negara Gagal Beri Rasa Aman, Main Hakim Sendiri Akan Meningkat

Menurutnya, tekanan ekonomi menyebabkan pergeseran pola masyarakat yang kesulitan mencari nafkah di sektor formal mulai beralih ke jalur kriminalitas sebagai alternatif penghasilan.

“Maka yang kemudian lalu paling gampang dilakukan adalah kejahatan-kejahatan yang tanpa skill kan, tanpa knowledge, tanpa persiapan, yakni mencuri. Mencuri, lalu mencopet, menjambret gitu ya, itu kan kejahatan-kejahatan yang tanpa skill kan,” tuturnya.

Main hakim sendiri di dua daerah dalam waktu berdekatan

Aksi main hakim sendiri alias vigilantisme di tengah masyarakat dalam menghadapi terduga pelaku kejahatan berakhir dengan kematian, seperti yang terjadi di Kabupaten Tabanan, Bali, dan Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah.

Baca juga: Amnesty Internasional: 2 Korban Main Hakim Sendiri di Bali dan Morowali Adalah Tulang Punggung Keluarga

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Di Tabanan, seorang pria berinisial KD tewas setelah menjadi sasaran amuk massa saat berupaya menyelamatkan diri karena diduga mencuri ayam pada Jumat dini hari 24 Juli lalu.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Makassar Jadi Tuan Rumah Rakernas GWS 2026, Aliyah Mustika Ilham Dorong Sinergi Organisasi Perempuan dan UMKM
• 13 jam laluterkini.id
thumb
Waspada Bentrok Warga Susulan! Aparat Gabungan TNI-Polri Patroli di Menteng
• 11 jam lalukompas.tv
thumb
Dari PRSU Hingga Kursi Kepemimpinan: Kisah "Cinta Tukang Parkir'
• 16 jam lalumediaapakabar.com
thumb
Telkom Gelar Forum Kolaborasi Nasional untuk Perkuat Kesiapan Post-Quantum Cryptography
• 4 jam laluidxchannel.com
thumb
Tak Hanya Personal Febrie Adriansyah, Tim 9 Kejagung Didesak Usut Dugaan Keterlibatan Pihak Lain
• 20 jam laluwartaekonomi.co.id
Berhasil disimpan.