Suku Tengger Pasuruan Jaga Kelestarian Adat dan Alam, Pendidikan Anak hingga Wirausaha Terus Diperkuat

beritajatim.com
3 jam lalu
Cover Berita

Ringkasan Berita:

Pasuruan (beritajatim.com) – Masyarakat Suku Tengger di Kabupaten Pasuruan terus menunjukkan komitmennya dalam menjaga kelestarian adat istiadat serta keseimbangan alam di tengah pesatnya pembangunan dan perkembangan sektor pariwisata di kawasan lereng Gunung Bromo. Di saat yang sama, berbagai program pemberdayaan sosial, pendidikan, dan penguatan ekonomi masyarakat terus dikembangkan untuk meningkatkan kualitas hidup generasi muda Tengger.

Pendampingan berkelanjutan di Kecamatan Tosari dan Kecamatan Puspo berhasil memperluas akses pendidikan sekaligus menekan angka perkawinan anak secara signifikan. Selain itu, masyarakat juga didorong mengembangkan usaha berbasis pertanian dengan mengolah hasil bumi lokal menjadi produk bernilai tambah.

Ketua Paruman Dukun Pandita Tengger Brang Kulon, Romo Eko Warnoto, menegaskan bahwa masyarakat Tengger tetap memegang teguh nilai-nilai leluhur dalam setiap pembangunan yang berlangsung di wilayah mereka.

“Upacara ini adalah ungkapan rasa terima kasih kepada leluhur dan Ibu Pertiwi serta sebagai simbol sangkan paraning dumadi atau penciptaan alam semesta. Masyarakat boleh melakukan pembangunan dan pariwisata, tetapi jangan sampai melanggar tata cara adat istiadat serta tetap menjaga kesopanan dan kelestarian alam,” kata Ketua Paruman Dukun Pandita Tengger Brang Kulon, Romo Eko Warnoto, Rabu (29/7).

Menurut Romo Eko, perkembangan zaman dan meningkatnya aktivitas pariwisata memang menghadirkan tantangan baru terhadap kelestarian lingkungan, seperti berkurangnya kawasan hutan dan menurunnya debit sejumlah sumber mata air. Namun demikian, masyarakat Tengger tetap mempertahankan kearifan lokal sebagai pedoman dalam menjaga keseimbangan alam.

“Orang Tengger tetap konsisten menjaga alam karena melakukan sesuatu ini adalah wujud bakti, serta memegang prinsip tidak boleh menebang pohon sebelum menanam terlebih dahulu. Dengan cara itu orang Tengger menjaga alam supaya tetap ajeg, di mana alam menjaga isinya dan isinya pun sebaliknya harus menjaga alam,” tutur Romo.

Komitmen menjaga budaya dan lingkungan tersebut berjalan beriringan dengan program pendampingan yang dilakukan ALIT Indonesia sejak 2015. Organisasi tersebut mendampingi anak-anak di Kecamatan Tosari dan Kecamatan Puspo, terutama anak perempuan di wilayah terpencil seperti Dusun Ketuwon, Desa Ngadiwono, dan Dusun Krajan, Desa Palangsari.

Direktur Eksekutif ALIT Indonesia, Yulianti Umrah, mengatakan pihaknya membangun fasilitas pembelajaran untuk memperluas akses pendidikan sekaligus mencegah anak-anak menjadi korban perkawinan usia dini.

“Kami mendirikan gedung sekolah untuk membuka akses sekolah jarak jauh secara online dan homeschooling demi mencegah anak-anak menjadi korban perkawinan anak atau child marriage. Kami juga bekerja sama dengan Kepala Desa Ngadiwono hingga terbit Perdes larangan menikah di usia anak dengan batasan usia di atas 19 tahun,” ujar Direktur Eksekutif ALIT Indonesia, Yulianti Umrah.

Selain meningkatkan akses pendidikan, ALIT Indonesia juga mendorong generasi muda Tengger untuk aktif melestarikan kesenian tradisional. Anak-anak laki-laki dibina memainkan musik slompretan, sedangkan anak-anak perempuan dilatih menari untuk tampil dalam berbagai kegiatan budaya, peringatan Hari Kemerdekaan, Hari Anak Sedunia, hingga penyambutan tamu dan wisatawan.

Program pemberdayaan ekonomi masyarakat juga terus dikembangkan melalui pemanfaatan hasil pertanian lokal. Warga didorong menghasilkan produk bernilai tambah yang mampu meningkatkan pendapatan keluarga.

“Selain mendukung kelas belajar usia dini untuk peningkatan gizi dan ketahanan pangan rumah tangga dengan sayur organik, kami juga membina wirausaha berbasis pertanian. Ibu-ibu di Desa Ngadiwono dan Desa Palangsari kini berhasil memproduksi Mocaf atau modified cassava flour dari singkong, sedangkan para remaja mengolahnya menjadi cookies,” terang Yulianti.

Sinergi antara keteguhan para dukun pandita dalam menjaga adat istiadat dan berbagai program pemberdayaan masyarakat dinilai mampu mempertahankan keajegan budaya Suku Tengger di Kabupaten Pasuruan. Melalui pendidikan yang semakin baik, pelestarian budaya, serta penguatan ekonomi berbasis potensi lokal, generasi muda Tengger diharapkan mampu menghadapi perkembangan zaman tanpa meninggalkan identitas budaya dan kearifan lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun. [ada/beq]


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Saudi Dikepung Drone dari Yaman dan Irak
• 13 jam lalurepublika.co.id
thumb
Cukup ke BK, Bareskrim Kembalikan Laporan Penggugat Pansus Hak Angket DPRD Gowa
• 22 jam laluterkini.id
thumb
Mengenal Kakeibo, Metode Mengatur Uang ala Jepang yang Bikin Menabung Lebih Mudah
• 10 jam lalubeautynesia.id
thumb
"Tidur Ngemper Pakai Tikar Sama Anak" Saat Pak Awang Tinggal di Minimarket Jakbar
• 1 jam lalukompas.com
thumb
Dari PRSU Hingga Kursi Kepemimpinan: Kisah "Cinta Tukang Parkir'
• 15 jam lalumediaapakabar.com
Berhasil disimpan.