REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Tim Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-PM) EcoWorth menggelar pelatihan pembuatan sabun serbaguna dan hand sanitizer berbasis eco enzyme bagi anggota PKK RW 012 Kelurahan Cipinang Melayu, Kecamatan Makasar, Jakarta Timur.
Kegiatan yang berlangsung pada Rabu (24/6/2026) lalu di Balai RW 012 Cipinang Melayu, Jakarta Timur ini menjadi bagian dari program pemberdayaan masyarakat yang bertujuan meningkatkan keterampilan warga dalam mengolah limbah organik menjadi produk rumah tangga ramah lingkungan yang memiliki nilai guna sekaligus berpotensi menjadi sumber penghasilan.
Tim PKM-PM EcoWorth diketuai oleh Nazwa Syifa Fitriani dengan anggota Raka Muhammad Setia, Shahnaz Hafiza Bilqis, dan Nasywan Abhinaya, di bawah bimbingan Johan Hendri Prasetyo selaku dosen pendamping.
Pelatihan diawali dengan pemaparan mengenai manfaat eco enzyme sebagai hasil fermentasi limbah organik yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan rumah tangga. Selanjutnya, peserta dikenalkan pada alat dan bahan yang digunakan, dilanjutkan demonstrasi pembuatan produk, serta praktik langsung membuat sabun serbaguna dan hand sanitizer berbasis eco enzyme.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok agar dapat mengikuti setiap tahapan secara langsung, mulai dari menyiapkan bahan, melakukan pencampuran sesuai formulasi, hingga proses pengemasan produk. Selain keterampilan teknis, peserta juga memperoleh wawasan mengenai peluang pengembangan produk ramah lingkungan sebagai usaha berbasis masyarakat.
Ketua Tim PKM-PM EcoWorth, Nazwa Syifa Fitriani mengatakan kegiatan ini tidak hanya bertujuan mengurangi limbah organik, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
“Eco enzyme tidak hanya bermanfaat untuk pengelolaan limbah organik, tetapi juga dapat diolah menjadi berbagai produk rumah tangga yang memiliki nilai tambah. Melalui pelatihan ini, kami berharap anggota PKK mampu mempraktikkan proses pembuatannya secara mandiri, bahkan mengembangkannya menjadi peluang usaha yang berkelanjutan,” ujar Nazwa.
Menurutnya, pemilihan produk sabun serbaguna dan hand sanitizer didasarkan pada tingginya kebutuhan masyarakat terhadap produk kebersihan yang praktis dan ramah lingkungan.
“Jika dikelola dengan baik, mulai dari proses produksi, pengemasan, hingga pemasarannya, produk-produk ini memiliki peluang untuk dipasarkan dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat,” kata dia.
Pada kesempatan ini, ketua PKK RW 012 Cipinang Melayu, Ive Sulistiah, mengapresiasi pelatihan yang menghadirkan metode praktik langsung sehingga mudah dipahami oleh para peserta.
“Pelatihan ini memberikan pengalaman baru bagi kami. Tidak hanya belajar mengolah eco enzyme, tetapi juga mengetahui bahwa limbah organik ternyata dapat diubah menjadi produk yang bermanfaat dan memiliki nilai ekonomi. Kami berharap ilmu ini dapat diterapkan serta dibagikan kepada warga lainnya,” kata Ive.
Johan Hendri Prasetyo, selaku dosen pendamping PKM-PM EcoWorth menegaskan program tersebut merupakan implementasi nyata peran mahasiswa dalam menyelesaikan persoalan masyarakat melalui inovasi.
“Program PKM-PM menjadi wadah bagi mahasiswa untuk menerapkan ilmu pengetahuan secara langsung di tengah masyarakat. Melalui EcoWorth, mahasiswa tidak hanya memberikan edukasi mengenai pengelolaan limbah organik, tetapi juga mendampingi masyarakat agar mampu menghasilkan produk yang bermanfaat, bernilai ekonomi, dan berkelanjutan,” kata dia.
Melalui pendampingan yang berkelanjutan, Tim PKM-PM EcoWorth juga akan memberikan pelatihan lanjutan mengenai pengembangan produk turunan eco enzyme, penyusunan identitas merek (branding), desain kemasan, perhitungan harga pokok produksi (HPP), hingga strategi pemasaran digital agar produk mampu bersaing di pasar.
“Program ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan limbah organik berbasis ekonomi sirkular sekaligus mendorong lahirnya usaha rumah tangga yang ramah lingkungan,” kata dia.
Sebagai Kampus Digital Bisnis, Universitas Nusa Mandiri terus mendorong mahasiswa untuk menghadirkan inovasi yang berdampak langsung bagi masyarakat melalui kegiatan penelitian, pengabdian, dan pemberdayaan berbasis teknologi serta kewirausahaan.
“Langkah ini menjadi bagian dari komitmen UNM dalam mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu menjadi agen perubahan yang memberikan solusi nyata bagi lingkungan dan masyarakat,” kata dia.