Modifikasi Cuaca Digencarkan untuk Tekan Karhutla Sumsel, tetapi Belum Efektif

kompas.id
1 jam lalu
Cover Berita

PALEMBANG, KOMPAS — Operasi Modifikasi Cuaca atau OMC digencarkan untuk menekan angka kebakaran hutan dan lahan di Sumatera Selatan, serta diklaim telah memberikan hasil positif. Namun, seiring memuncaknya musim kemarau, operasi itu dinilai tidak akan efektif. Peningkatan frekuensi patroli darat dan penegakan hukum dianggap menjadi langkah yang lebih krusial dan ideal untuk meminimalisir karhutla.

Kolonel (Pnb) Asep Wahyu Wijaya, Komandan Landasan Udara (Lanud) Sri Mulyono Herlambang di Palembang yang sekaligus Komandan Subsatgas Udara Satgas Karhutla Sumsel, mengatakan, OMC yang digelar Kementerian Kehutanan dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) berdampak sangat signifikan. Operasi itu diklaim mampu meminimalisir titik api yang ada dan mencegah potensi kebakaran lainnya.

"Dampaknya sangat signifikan. Titik api bisa diminimalisir dan dikurangi. Kami dari subsatgas udara sangat terbantu dengan adanya OMC ini. Setidaknya, lahan gambut yang mulai kering bisa tetap dibasahi hujan buatan agar tidak mudah terbakar," ujar Asep usai memantau persiapan OMC di Palembang, Rabu (29/7/2026).

Baca JugaSumsel Semakin Rentan Dilanda Kebakaran Lahan dan Hutan

Asep menuturkan, OMC kali ini adalah yang pertama di tahun 2026. Operasi itu dilakukan sebagai respons atas meningkatnya titik api di Sumsel sejak Mei lalu. Selama 11 hari beroperasi atau sejak 19 Juli 2026, pesawat Cessna Grand Caravan yang diisi dua pilot, dua ilmuwan, dan dua penabur, telah menebar 12.800 kilogram bahan semai NaCl. Fokus area OMC menyasar kawasan rawan karhutla yang bergambut kering, antara lain di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI).

Mengingat prediksi kemarau masih berlangsung hingga Agustus atau September, Asep pun berharap OMC bisa terus dilanjutkan setelah operasi kali ini berakhir pada 30 Juli. "Cuaca ke depan akan semakin kering. Saya rasa OMC perlu terus dilanjutkan selama musim kemarau masih terjadi," ujarnya.

Prakirawan Cuaca Senior Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pusat Soenardi mengatakan, efektivitas OMC kali ini berada di tingkat keberhasilan yang cukup baik. "Operasi itu sempat menghasilkan hujan cukup deras selama 22-24 Juli di sejumlah wilayah karhutla di sekitar Palembang, seperti Kabupaten Ogan Ilir, OKI, dan Banyuasin," katanya.

Namun, Soenardi mengatakan, OMC mutlak bergantung pada pertumbuhan ataupun keberadaan awan hujan. Pada 25-27 Juli, operasi tidak dilakukan karena kelembaban udara anjlok ke level 0-10 persen atau sangat kering sehingga tidak ada awan hujan.

OMC baru dilakukan kembali saat kelembaban udara naik menjadi 30-90 persen sejak 28 Juli, antara lain di wilayah OKI, Banyuasin, Pagar Alam, hingga sekitar kawasan Bukit Barisan. Karena itu, OMC dioptimalkan lagi pada 29 Juli, khususnya di sekitar OKI.

"Pada intinya, OMC bisa dilakukan kalau masih ada potensi awan hujan. Memasuki awal Agustus pertumbuhan awan hujan masih cukup baik sehingga OMC berpeluang dilanjutkan. Tapi, untuk pertengahan dan akhir Agustus, biasanya cuaca lebih kering. Kalau sudah begitu, OMC lebih baik tidak dilakukan karena peluang keberhasilannya kecil," kata Soenardi.

Baca JugaSumsel Memanas, Kebakaran Hutan dan Lahan Bermunculan
Dinilai kurang efektif

Pandangan berbeda disampaikan Kepala Balai Pengendalian Perubahan Iklim dan Kebakaran Hutan dan Lahan Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto. Menurut dia, OMC kurang efektif karena dampak hujan buatan yang dihasilkan sangat minim.

"Hujan buatan berlangsung hanya beberapa saat dan di titik-titik tertentu saja. Setelah itu, cuaca kembali panas berturut-turut sehingga potensi karhutla meningkat lagi. Kalau hujannya terjadi 5-10 hari, barulah efeknya akan terasa," tutur Ferdian.

Ferdian memperkirakan, ke depan, OMC akan semakin sulit dilakukan seiring minimnya awan hujan yang dipicu cuaca lebih kering. Bahkan, hingga Rabu (29/7/2026) siang, tim darat dari Manggala Agni masih harus berjibaku memadamkan api di sejumlah wilayah.

Di OKI, petugas sedang berjibaku menangani karhutla di Tanjung Lubuk dengan luas sekitar 5 hektar, serta di Tulung Selapan dan Deling yang luasnya belum terhitung. Di Muara Enim, pemadaman lanjutan menyasar kawasan Sungai Rotan dengan luas sekitar 8 hektar.

Pemadaman pun masih dilakukan di Dusun V Muara Medak, Musi Banyuasin, dengan luas mencapai 25 hektar. Pemadaman di sana cukup rumit karena yang terbakar lahan gambut. "Pemadaman darat turut berlangsung di Kelurahan Karya Jaya, Kecamatan Kertapati, Palembang, serta di Desa Sungai Rambutan, Kecamatan Indralaya Utara, Ogan Ilir," ujar Ferdian.

Upaya pemadaman dari udara seperti waterbombing, lanjut Ferdian, tidak menyelesaikan akar masalah karena sebatas mematikan kepala api di area tak terjangkau tim darat. "Untuk menuntaskan pemadaman, terlebih di lahan gambut, itu tetap mengandalkan tim penyapu di darat," ucapnya.

Baca JugaSumsel Incar Ekonomi Karbon untuk Tangani Karhutla

Oleh karena itu, Ferdian mendesak agar penanganan karhutla difokuskan pada peningkatan frekuensi patroli dan bergerak cepat dalam mendeteksi maupun menyampaikan informasi keberadaan karhutla. Dengan begitu, petugas pemadam bisa segera bertindak sedini mungkin sebelum api meluas yang membuat pemadaman lebih sulit.

Faktor krusial lainnya adalah penegakan hukum secara tegas. Sebab, di samping dipicu pembakaran sampah yang tidak terkendali, mayoritas karhutla disebabkan kesengajaan manusia yang membuka lahan untuk ladang, kebun, dan perumahan. "Sosialisasi juga harus digencarkan agar masyarakat sadar betapa bahayanya dampak karhutla, seperti yang terjadi pada 2019-2023 lalu," ucap Ferdian.

Ferdian mengingatkan, ancaman karhutla diprediksi belum akan mereda. Analisis citra satelit mendapati lonjakan luasan area karhutla di Sumsel mencapai 359,47 hektar pada rentang Mei-Juni 2026, atau lebih dari dua kali lipat dibanding periode Januari-Mei tahun ini.

Titik rawan terkonsentrasi di lahan gambut OKI, Ogan Ilir, Banyuasin, dan Muara Enim. "Ancaman itu berpotensi terus memburuk hingga November menyusul fenomena El Nino yang membuat kemarau jauh lebih panjang dan cuaca lebih kering," katanya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
2 Kasus Pelecehan Murid Terbaru, Siswa SD di Tanjungbalai hingga Puluhan Siswi di Makassar
• 9 jam lalutvonenews.com
thumb
Mobil Pikap Terbakar Misterius di Pabrik Batu Coral Ponorogo, Sopir Menghilang
• 7 jam laluberitajatim.com
thumb
Dugaan Pelecehan Pengajar Ponpes di Kota Malang, 4 Santri Jadi Korban
• 3 jam lalukumparan.com
thumb
Pasal Berlapis Menanti Pelaku Balap Liar: Bisa Penjara Belasan Tahun dan Denda Puluhan Juta
• 3 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Perputaran Dana Judol Turun, DPR Ingatkan Penegakan Hukum Tak Boleh Kendor
• 6 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.