Jakarta (ANTARA) - Kementerian Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) mencatat potensi transaksi dan komitmen kemitraan senilai Rp6,88 miliar dalam penyelenggaraan Kumitra Jambore 2026 yang digelar di Bandung, Jawa Barat, Rabu.
Dalam pembukaan Kumitra Jambore 2026 di Bandung, Rabu, Wakil Menteri UMKM Helvi Moraza mengatakan capaian tersebut merupakan hasil dari proses kurasi produk dan penjajakan kemitraan antara pelaku usaha mikro dengan berbagai mitra strategis.
"Capaian senilai Rp6,88 miliar ini bukan sekadar angka. Ini merupakan bukti bahwa produk pengusaha mikro di Jawa Barat memiliki kualitas, kapasitas, dan peluang untuk menembus pasar yang lebih luas," kata Helvi dalam keterangan pers yang diterima di Jakarta, Rabu.
Kumitra Jambore merupakan ajang temu bisnis yang digelar Kementerian UMKM untuk mempertemukan pelaku usaha mikro dengan calon mitra usaha guna memperluas akses pasar, memperkuat daya saing, dan mendorong UMKM masuk ke dalam rantai pasok nasional.
Menurut Helvi, program tersebut dirancang sebagai instrumen akselerasi agar pelaku usaha mikro dapat naik kelas melalui kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari dunia usaha, jaringan ritel modern, sektor perhotelan dan pariwisata, industri pengolahan, marketplace, lembaga pembiayaan, hingga perguruan tinggi.
Baca juga: Kementerian UMKM: Inkubator tekan risiko kegagalan usaha ditahap awal
Baca juga: KemenUMKM: Sertifikasi halal sebagai upaya tingkatkan daya saing
Ia mengatakan inisiatif tersebut sejalan dengan Peraturan Presiden Nomor 38 Tahun 2026 tentang Pengembangan Kewirausahaan Nasional, yang diperkuat melalui implementasi Program Kewirausahaan dan Kesejahteraan Produktif untuk mendukung terwujudnya 10 juta penduduk berusaha dan bekerja.
Helvi menyampaikan bahwa dalam mendukung program tersebut, Kementerian UMKM mengintegrasikan layanan pendampingan, legalitas usaha, pembiayaan, hingga akses pasar melalui platform Sapa UMKM sebagai pintu masuk layanan terpadu berbasis data.
Lebih lanjut, Helvi menilai Jawa Barat memiliki potensi besar sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi nasional dengan sekitar 5,4 juta UMKM yang bergerak di berbagai sektor.
Namun, sebagian besar pelaku usaha masih berada pada skala mikro dan belum terhubung secara optimal dengan pembiayaan, teknologi, pasar, maupun rantai pasok.
Untuk itu, ia berharap Kumitra Jambore di Bandung dapat menjadi titik awal lahirnya kemitraan baru, terbentuknya akses pasar yang lebih luas, serta tumbuhnya wirausaha muda baru.
Kumitra Jambore 2026 diikuti lebih dari 1.000 peserta yang terdiri atas pelaku usaha mikro binaan pemerintah daerah, pengelola Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) UMKM se-Jawa Barat, komunitas UMKM, serta ratusan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Kota Bandung.
Baca juga: KemenUMKM: Banyak penjual di e-commerce belum cantumkan asal produk
Baca juga: KemenUMKM dorong keberlanjutan platform dan biaya layanan seimbang
Dalam pembukaan Kumitra Jambore 2026 di Bandung, Rabu, Wakil Menteri UMKM Helvi Moraza mengatakan capaian tersebut merupakan hasil dari proses kurasi produk dan penjajakan kemitraan antara pelaku usaha mikro dengan berbagai mitra strategis.
"Capaian senilai Rp6,88 miliar ini bukan sekadar angka. Ini merupakan bukti bahwa produk pengusaha mikro di Jawa Barat memiliki kualitas, kapasitas, dan peluang untuk menembus pasar yang lebih luas," kata Helvi dalam keterangan pers yang diterima di Jakarta, Rabu.
Kumitra Jambore merupakan ajang temu bisnis yang digelar Kementerian UMKM untuk mempertemukan pelaku usaha mikro dengan calon mitra usaha guna memperluas akses pasar, memperkuat daya saing, dan mendorong UMKM masuk ke dalam rantai pasok nasional.
Menurut Helvi, program tersebut dirancang sebagai instrumen akselerasi agar pelaku usaha mikro dapat naik kelas melalui kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari dunia usaha, jaringan ritel modern, sektor perhotelan dan pariwisata, industri pengolahan, marketplace, lembaga pembiayaan, hingga perguruan tinggi.
Baca juga: Kementerian UMKM: Inkubator tekan risiko kegagalan usaha ditahap awal
Baca juga: KemenUMKM: Sertifikasi halal sebagai upaya tingkatkan daya saing
Ia mengatakan inisiatif tersebut sejalan dengan Peraturan Presiden Nomor 38 Tahun 2026 tentang Pengembangan Kewirausahaan Nasional, yang diperkuat melalui implementasi Program Kewirausahaan dan Kesejahteraan Produktif untuk mendukung terwujudnya 10 juta penduduk berusaha dan bekerja.
Helvi menyampaikan bahwa dalam mendukung program tersebut, Kementerian UMKM mengintegrasikan layanan pendampingan, legalitas usaha, pembiayaan, hingga akses pasar melalui platform Sapa UMKM sebagai pintu masuk layanan terpadu berbasis data.
Lebih lanjut, Helvi menilai Jawa Barat memiliki potensi besar sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi nasional dengan sekitar 5,4 juta UMKM yang bergerak di berbagai sektor.
Namun, sebagian besar pelaku usaha masih berada pada skala mikro dan belum terhubung secara optimal dengan pembiayaan, teknologi, pasar, maupun rantai pasok.
Untuk itu, ia berharap Kumitra Jambore di Bandung dapat menjadi titik awal lahirnya kemitraan baru, terbentuknya akses pasar yang lebih luas, serta tumbuhnya wirausaha muda baru.
Kumitra Jambore 2026 diikuti lebih dari 1.000 peserta yang terdiri atas pelaku usaha mikro binaan pemerintah daerah, pengelola Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) UMKM se-Jawa Barat, komunitas UMKM, serta ratusan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Kota Bandung.
Baca juga: KemenUMKM: Banyak penjual di e-commerce belum cantumkan asal produk
Baca juga: KemenUMKM dorong keberlanjutan platform dan biaya layanan seimbang





