DBS Bank menilai penunjukan Destry Damayanti sebagai Pejabat Sementara (Pjs) Gubernur Bank Indonesia (BI) memberikan ketenangan kepada pasar.
IDXChannel - DBS Bank menilai penunjukan Destry Damayanti sebagai Pejabat Sementara (Pjs) Gubernur Bank Indonesia (BI) memberikan ketenangan kepada pasar pascapengunduran diri Perry Warjiyo selaku Gubernur bank sentral.
Senior Economist DBS Bank, Radhika Rao melihat keputusan Perry mundur sebagai Gubernur BI cukup mengejutkan. Dia mengungkapkan, pergantian pada pucuk pimpinan tertinggi BI di luar ekspektasi pasar.
"Ini merupakan perkembangan yang sangat mengejutkan. Saya rasa tidak ada yang memprediksinya, terlebih karena rapat bank sentral baru saja digelar pekan lalu. Saya juga sempat mengikuti analyst call yang saat itu dipimpin langsung oleh beliau, sehingga kabar ini benar-benar tidak disangka,” ujar Radhika dalam Media Briefing DBS Institutional Forum 2026, Rabu (29/7/2026).
Namun, keputusan Perry mundur relatif tidak menimbulkan gejolak berlebihan di pasar mengingat independensi BI menjadi taruhan di tengah kondisi perekonomian yang menantang. Rao menilai, penunjukan Destry sebagai pejabat sementara merupakan langkah awal yang tepat untuk menjaga stabilitas kebijakan moneter. Pengalaman panjang Destry disebutnya menjadi fondasi kuat dalam mengawal kebijakan BI.
“Mengenai penunjukan Ibu Destry, saya menilai beliau adalah sosok yang sangat berpengalaman. Saya pernah mendapat kesempatan untuk bertemu langsung dengan beliau. Beliau telah mengemban jabatan tersebut sejak 2019, berlatar belakang sebagai ekonom, dan berpengalaman di lembaga regulator. Beliau memiliki kombinasi yang sangat baik serta pemahaman yang kuat dalam perumusan kebijakan bank sentral,” tuturnya.
Menurut Radhika, rekam jejak tersebut tercermin dari pergerakan pasar yang relatif tenang pascapengumuman transisi kepemimpinan.
“Oleh karena itu, kita dapat melihat bahwa rupiah tidak mengalami tekanan ekstrem dan imbal hasil (yield) obligasi juga belum menunjukkan tekanan yang signifikan sejauh ini,” katanya.
Menjelang penetapan Gubernur BI secara definitif, Radhika menekankan pentingnya kriteria yang harus dimiliki oleh calon gubernur BI yang baru, yakni kredibilitas, pengalaman, serta independensi dalam mengambil keputusan moneter.
“Lantas, apa yang kita harapkan dari Gubernur BI yang baru? Saya pikir harapannya sama seperti yang diinginkan dari gubernur bank sentral mana pun di dunia. Kita menginginkan sosok yang seberpengalaman mungkin, memiliki kredibilitas yang teruji, serta independen dalam mengambil keputusan kebijakan. Hal-hal tersebut merupakan ciri khas utama dari setiap bankir sentral di mana pun,” kata Radhika.
Radhika menyoroti rekam jejak Perry Warjiyo selama 7-8 tahun memimpin BI yang dipenuhi berbagai krisis, mulai dari pandemi COVID-19, siklus kenaikan suku bunga The Fed pada 2022, hingga ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Oleh karena itu, pimpinan BI berikutnya dituntut memiliki kapasitas kuat sebagai manajer risiko.
“Bagi pejabat yang baru, mereka harus benar-benar mampu menjalankan peran sebagai seorang manajer risiko. Sebab, selain harus menangani tantangan domestik, ada pula tantangan global yang tak kalah berat,” ujarnya.
Selain independensi, sinergi antara kebijakan moneter yang ditetapkan Bank Indonesia dan kebijakan fiskal pemerintah juga dianggap sebagai krusial untuk menjaga stabilitas perekonomian nasional.
“Jadi, menurut saya, kualifikasi yang dibutuhkan mencakup kredibilitas, pengalaman, kemampuan mengambil keputusan kebijakan secara independen, sekaligus kapasitas untuk berkolaborasi dengan pemerintah, di mana keselarasan antara kebijakan moneter dan fiskal sangat diperlukan dalam menghadapi kondisi yang penuh tekanan,” katanya.
(Rahmat Fiansyah)





