Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan bahwa otoritas Teheran dan Muscat (Oman) tengah menggelar pembicaraan teknis mengenai pengaturan perlintasan kapal yang aman melalui Selat Hormuz.
Dikutip dari Primetime News, Metro TV, konsultasi antara kedua negara tersebut dilaporkan masih terus berlanjut. Hingga saat ini, belum ada kesepakatan akhir yang dicapai terkait regulasi perlintasan di perairan strategis tersebut.
Di tengah proses perundingan, Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazim Gharibabadi, kembali menegaskan kedaulatan negaranya secara mutlak di wilayah Selat Hormuz. Ia menyatakan dengan tegas bahwa Teheran tidak akan pernah menerima penggunaan rute pelayaran selatan melalui selat tersebut.
Selama ini, Iran telah mengatur rute yang diklaim aman dan legal di perairan Selat Hormuz. Langkah pengamanan wilayah ini diperketat pasca-agresi yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Zionis, yang dinilai telah merenggut nyawa ribuan warga Iran.
Tolak Pasukan Asing
Lebih lanjut, otoritas Republik Islam Iran juga melontarkan penolakan keras terhadap misi korps multinasional yang dipimpin oleh Inggris dan Prancis. Iran tidak menerima kehadiran pasukan asing tersebut yang berdalih ingin melakukan operasi pembersihan ranjau di kawasan Selat Hormuz.
Teheran memberikan peringatan keras. Jika kapal perang milik Inggris dan Prancis tetap nekat mendekati Selat Hormuz dengan alasan membersihkan ranjau, maka armada militer tersebut akan dianggap sebagai sasaran serangan yang sah bagi angkatan bersenjata Republik Islam Iran.
Selain itu, Iran juga secara resmi membantah berbagai rumor yang menyebutkan bahwa pihaknya telah meminta perlindungan atau bantuan keamanan dari Washington sejak rentetan pertempuran terbaru kembali meletus di kawasan tersebut.




