Grid.ID - Jelang HUT RI ke-81, perjalanan lahirnya Pancasila kembali menjadi bagian penting dalam sejarah bangsa. Dasar negara Indonesia itu tidak muncul dalam waktu singkat, melainkan melalui proses pemikiran panjang yang dialami Presiden pertama RI, Ir. Soekarno atau Bung Karno di bawah pohon sukun.
Puncak gagasan tersebut disampaikan Bung Karno dalam sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada 1 Juni 1945.
Dalam pidato yang berlangsung penuh semangat, ia menawarkan lima prinsip yang diyakininya mampu menjadi fondasi bagi Indonesia merdeka. Lima prinsip itulah yang kemudian dikenal sebagai Pancasila dan menjadi dasar penetapan 1 Juni sebagai Hari Lahir Pancasila.
Pengasingan di Ende Menjadi Awal Lahirnya Gagasan Besar
Jauh sebelum pidato bersejarah itu disampaikan, Bung Karno telah melewati masa pengasingan di Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur. Masa pembuangan tersebut menjadi periode penting yang membentuk pemikiran dan pandangannya mengenai kehidupan berbangsa.
Pada 14 Januari 1934, Bung Karno tiba di Ende bersama istrinya, Inggit Garnasih, ibu mertuanya, Ibu Amsi, serta anak angkat mereka, Ratna Djuami. Pemerintah kolonial Belanda sengaja mengasingkannya ke wilayah yang jauh dari pusat politik agar hubungan Bung Karno dengan para pendukungnya terputus.
Di kota kecil itu, kehidupan Bung Karno berlangsung sederhana dan jauh dari aktivitas politik yang biasa ia jalani sebelumnya. Kondisi tersebut justru memberinya ruang untuk lebih banyak membaca, merenung, dan memperluas wawasan.
Memperdalam Agama, Seni, dan Nilai Keberagaman
Selama berada di Ende, Bung Karno tidak hanya mengisi waktu dengan berkebun dan membaca berbagai literatur. Ia juga kembali menyalurkan minatnya di bidang seni melalui kegiatan melukis dan menulis naskah drama.
Selain itu, Bung Karno aktif berdiskusi dengan sejumlah tokoh agama. Ia menjalin korespondensi dengan ulama T.A. Hassan di Bandung sekaligus sering bertukar pikiran dengan Pastor Huijtink di Ende.
Interaksi tersebut memperkaya pandangannya mengenai ajaran Islam sekaligus memperdalam pemahamannya tentang toleransi dan kehidupan dalam masyarakat yang majemuk. Pengalaman inilah yang kemudian diyakini ikut memengaruhi lahirnya nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila.
Pohon Sukun di Tepi Pantai Ende Menjadi Tempat Kontemplasi
Di antara berbagai lokasi di Ende, terdapat satu tempat yang menjadi favorit Bung Karno untuk menyendiri. Tempat itu berada di bawah sebuah pohon sukun yang menghadap langsung ke Pantai Ende, sekitar 700 meter dari rumah pengasingannya.
Menurut berbagai catatan sejarah, Bung Karno kerap mendatangi lokasi tersebut seorang diri, terutama pada Jumat malam. Di bawah rindangnya pohon sukun itu, ia menghabiskan waktu berjam-jam untuk merenungkan masa depan Indonesia.
Dalam kisah yang pernah ia sampaikan, Bung Karno mengaku merasakan dorongan batin yang membuatnya terus kembali ke tempat tersebut. Sambil memandang hamparan laut dan ombak yang datang silih berganti, ia memaknai perjuangan bangsa Indonesia sebagai sebuah revolusi yang tidak pernah berhenti, layaknya gelombang samudra yang terus bergerak. Perenungan itu juga memperkuat keyakinannya bahwa kehidupan, perjuangan bangsa, dan cita-cita kemerdekaan berada dalam kuasa Tuhan Yang Maha Esa.
Dari Ende Menuju Sidang BPUPKI
Hasil pemikiran yang tumbuh selama masa pengasingan kemudian berkembang menjadi konsep dasar negara yang disampaikan Bung Karno dalam sidang BPUPKI pada 1 Juni 1945.
Di hadapan para anggota sidang, Bung Karno menegaskan pentingnya Indonesia memiliki landasan bersama sebagai pedoman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Lima prinsip yang ia paparkan kemudian dikenal sebagai Pancasila dan menjadi fondasi bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Pohon Pancasila Menjadi Saksi Sejarah
Setelah Indonesia merdeka, Bung Karno kembali mengunjungi Ende pada tahun 1950. Dalam kesempatan tersebut, ia kembali mendatangi pohon sukun yang dahulu menjadi tempatnya merenung dan mengenang proses lahirnya gagasan Pancasila.
Sejak dekade 1980-an, lokasi tersebut dikenal masyarakat sebagai Pohon Pancasila. Meski pohon sukun asli telah mati pada 1970-an, pemerintah daerah kemudian menanam kembali pohon sukun di titik yang sama sebagai simbol sejarah lahirnya dasar negara Indonesia.
Hingga kini, kawasan tersebut menjadi salah satu situs sejarah yang mengingatkan bahwa Pancasila lahir dari perjalanan panjang, refleksi mendalam, serta semangat Bung Karno dalam merumuskan dasar negara yang mampu mempersatukan keberagaman Indonesia. itulah salah satu sejarah yang membuat HUT RI ke-81 masih dirayakan sampai sekarang. (*)
Artikel Asli




