JAKARTA, KOMPAS.com - Deretan lapak pedagang di Pasar Ikan Asin Kalibaru, Cilincing, Jakarta Utara, tak lagi seramai dulu.
Di balik aroma khas ikan asin yang memenuhi sudut pasar, para pedagang kini lebih banyak menghabiskan waktu menunggu pembeli yang datang sesekali.
Salah satunya Parida (40), yang sudah 20 tahun berjualan ikan asin di Pasar Kalibaru. Menurut dia, omzet usahanya terus menurun dalam tiga tahun terakhir.
Baca juga: Dulu Satu Orang Beli Semobil, Sekarang Cuma Satu Kantong Terkikisnya Kejayaan Pasar Ikan Asin Kalibaru
"Iya, memang lagi sepi jualan, lagi anjlok banget," ujar Parida saat ditemui di lokasi, Rabu (29/7/2026).
Jika dulu omzetnya bisa mencapai Rp 3 juta hingga Rp 5 juta per hari, kini pendapatannya paling banyak hanya sekitar Rp 1 jutaan per hari.
Harga Naik, Pembeli Berkurang
Parida menilai, penurunan omzet dipicu oleh kenaikan harga berbagai jenis ikan asin akibat stok yang terbatas dalam tiga hingga empat bulan terakhir.
Beberapa jenis ikan asin yang mengalami kenaikan harga antara lain kapasan tawar dari Rp 150.000 menjadi Rp 200.000 per kilogram, layang rebus dari Rp 50.000 menjadi Rp 80.000 per kilogram, serta peda dari Rp 50.000 menjadi Rp 70.000 per kilogram.
Menurut Parida, mahalnya harga ikan asin membuat pembeli tidak lagi datang sesering dulu ke Pasar Kalibaru.
Meski demikian, ia bersyukur ikan asin termasuk komoditas yang dapat bertahan lama sehingga risiko kerugian bisa ditekan ketika barang belum terjual.
Baca juga: Berawal dari Kelas di Atas Perahu, Taman Anak Pesisir Kini Jadi Harapan Anak Kalibaru Jakut
Salah satu cara menjaga kualitas ikan asin adalah dengan menyimpannya di dalam freezer.
"Ditaruh di freezer supaya ikannya tetap bagus, awet, jadi enggak berubah gitu warnanya. Kalau enggak ditaruh di freezer warnanya berubah, sudah langsung jadi merah," jelas Parida.
Selain ikan asin, cumi juga selalu disimpan di dalam freezer agar tidak cepat busuk dan berulat.
Menurutnya, terlambat menyimpan cumi ke dalam freezer selama sehari saja bisa membuat pedagang merugi karena barang tidak lagi layak dijual.
Belum Tertarik Berjualan Online
Selain kenaikan harga akibat stok terbatas, Parida menilai maraknya toko online juga ikut mengurangi jumlah pembeli yang datang langsung ke pasar.