Gempa Dahsyat di Kumamoto, Jepang “Setara dengan 22 Bom Atom” — Pakar: Dikhawatirkan Akan Terjadi Gempa Susulan yang Kuat

erabaru.net
2 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia.com Gempa berkekuatan  Magnitudo 7,1 melanda Kumamoto, Jepang, pada 28 Juli sore. Ini merupakan gempa besar kedua setelah Gempa Besar Kumamoto tahun 2016. Para ahli menyatakan bahwa kekuatan gempa kali ini setara dengan ledakan 22 bom atom. 

Sejumlah ahli menganalisis bahwa gempa tersebut kemungkinan terkait dengan aktivitas Sesar Hinagu, dan tidak menutup kemungkinan terjadinya gempa susulan yang kuat di masa mendatang, sehingga mereka mengimbau masyarakat untuk tetap waspada.

Ahli gempa Taiwan, Guo Kaiwen, menyatakan bahwa gempa Kumamoto kali ini memiliki kekuatan yang sangat besar, dengan energi yang dilepaskan dalam sekejap setara dengan ledakan 22 bom atom. 

Menurutnya, hal ini berkaitan dengan banyaknya zona patahan aktif di wilayah tersebut; jika terjadi pergeseran pada patahan, hal itu dapat dengan mudah memicu gempa dangkal yang sangat merusak, mirip sekali dengan gempa Kumamoto tahun 2016.

Analisis Badan Meteorologi Jepang menunjukkan bahwa gempa kali ini, sama seperti gempa 10 tahun lalu, disebabkan oleh pergeseran horizontal pada patahan daratan. 

Selain itu, pusat gempa berada di dekat Sesar Hinagu, sekitar 20 kilometer dari gempa sebelumnya, dan sama seperti sebelumnya, keduanya merupakan gempa dangkal yang kuat. 

Shinji Kiyomoto, pejabat perencanaan penanggulangan gempa dan tsunami di lembaga tersebut, menyatakan dalam konferensi pers darurat pada  28 Juli malam bahwa dalam seminggu ke depan, perlu diwaspadai kemungkinan terjadinya gempa susulan dengan magnitudo hingga 7. Ia mengutip pengalaman dari Gempa Besar Kumamoto tahun 2016, di mana dalam waktu dua hari terjadi dua gempa berkekuatan 7 skala Richter secara berturut-turut.

Profesor Takuya Nishimura dari Departemen Geodesi, Institut Penelitian Pencegahan Bencana Universitas Kyoto, menyatakan bahwa Gempa Kumamoto tahun 2016 terutama menyebabkan retakan di sisi utara Sesar Hinagu, namun bagian selatan mungkin masih menumpuk tegangan, sehingga kemungkinan gempa kali ini disebabkan oleh pergeseran pada bagian sisa di segmen selatan. 

Ia menambahkan bahwa saat ini belum dapat dipastikan apakah gempa kali ini telah menyebabkan patahan tersebut retak sepenuhnya, sehingga masyarakat perlu waspada terhadap gempa susulan. Selain Sesar Hinagu, sesar-sesar lain di sekitarnya juga mungkin terpengaruh; masyarakat diimbau untuk terus memantau informasi gempa yang dirilis oleh pihak berwenang.

Profesor Seismologi Universitas Tokyo, Aitaro Kato, juga berpendapat bahwa gempa kali ini mungkin disebabkan oleh retakan pada bagian sesar yang belum retak setelah gempa tahun 2016, dan memperingatkan bahwa sesar di arah barat daya pusat gempa mungkin masih menumpuk tegangan. 

“Dalam dua atau tiga hari ke depan, harap waspada terhadap gempa dengan magnitudo serupa,” ujarnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ragam Kendaraan Niaga Isuzu di GIIAS 2026: Campervan hingga Salon Berjalan
• 15 jam lalumedcom.id
thumb
Bintang Obsession, Michael Johnston, dalam Pembicaraan Gabung The Mummy 4
• 23 jam lalukumparan.com
thumb
GIIAS 2026 Jadi Panggung Perdana Debut Mobil Sport Nissan di Asean
• 1 jam laluviva.co.id
thumb
PPASDA: El Nino Menguat, Pemerintah Perlu Perkuat Mitigasi Kekeringan dan Karhutla
• 2 jam lalujpnn.com
thumb
Pramono Minta Pembangunan SDN Cipete Utara 01 Segera Diselesaikan
• 1 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.