Di tengah menjamurnya kedai kopi dan minuman kekinian, secangkir teh tubruk mungkin terdengar sederhana. Namun, bagi Ketut Sunyoto, pendiri Teh Mbah Djie, teh bukan sekadar minuman. Di balik aroma daun teh yang diseduh, tersimpan sejarah panjang, budaya, dan harapan untuk menghidupkan kembali kejayaan perkebunan teh di Tulungagung yang pernah dikenal hingga Eropa.
Berangkat dari Desa Dono, Kecamatan Sendang, Kabupaten Tulungagung, Ketut memilih jalan yang tidak mudah. Selama lebih dari 13 tahun ia berjuang membangun merek Teh Mbah Djie sekaligus mengedukasi masyarakat bahwa Indonesia memiliki teh berkualitas tinggi yang layak dibanggakan. Baginya, bisnis ini bukan hanya soal menjual produk, tetapi juga melestarikan warisan budaya dan menciptakan nilai ekonomi baru bagi masyarakat sekitar.
Berawal dari Sejarah Teh Penampean
Tidak banyak masyarakat mengetahui bahwa Tulungagung pernah menjadi salah satu daerah penghasil teh berkualitas pada masa kolonial. Perkebunan Teh Penampean di lereng Gunung Wilis, Desa Geger, pernah mengalami masa kejayaan sejak akhir abad ke-19. Bahkan, teh dari kawasan ini tercatat pernah diekspor ke kota-kota besar di Eropa seperti London, Rotterdam, dan Amsterdam.
Namun, seiring waktu, kejayaan tersebut mulai memudar. Banyak lahan perkebunan teh beralih fungsi menjadi komoditas pertanian lain yang dianggap lebih menguntungkan. Kebun-kebun teh menyusut, bahkan sebagian hanya tersisa sebagai tanaman pagar di lahan milik warga.
Kondisi inilah yang menggerakkan Ketut Sunyoto untuk membangkitkan kembali identitas Tulungagung sebagai daerah penghasil teh. Melalui merek Teh Tubruk Mbah Djie, ia berusaha mengangkat kembali potensi teh lokal yang hampir terlupakan.
“Yang saya lakukan bukan sekadar menjual teh, tetapi menghidupkan kembali sejarah, budaya, dan ekonomi masyarakat melalui teh,” demikian semangat yang tergambar dalam perjalanan usahanya.
Dari Hulu hingga Hilir
Perjalanan Teh Mbah Djie dimulai dari hulu, yakni kebun-kebun teh milik masyarakat yang masih tersisa di lereng Gunung Wilis. Ketut menggandeng para petani lokal untuk mengolah daun teh secara tradisional atau handmade. Selanjutnya, ia mengembangkan produk tersebut hingga memiliki nilai tambah melalui pengemasan, branding, dan pemasaran.
Menurutnya, hilirisasi menjadi kunci agar komoditas teh tidak hanya dijual sebagai bahan mentah, tetapi mampu memberikan pendapatan yang lebih besar bagi petani.
“Dulu tanaman teh hanya menjadi pagar kebun. Sekarang kami mencoba mengubahnya menjadi sumber ekonomi baru bagi masyarakat,” ujarnya.
Bagi Ketut, keberadaan kebun teh juga memiliki manfaat lain. Selain meningkatkan kesejahteraan masyarakat, tanaman teh membantu menjaga kelestarian lingkungan lereng Gunung Wilis serta berpotensi dikembangkan sebagai destinasi wisata edukasi.
Menjual Kepercayaan, Bukan Sekadar Teh
Membangun bisnis teh lokal ternyata tidak semudah menyeduh secangkir teh.
Pada awal usahanya, Ketut harus berkeliling menawarkan produknya ke warung-warung tradisional. Tidak sedikit pemilik warung yang menolak karena menganggap teh lokal kalah kualitas dibanding produk terkenal.
Penolakan demi penolakan justru menjadi motivasi untuk terus memperkenalkan bahwa teh Indonesia memiliki mutu yang tidak kalah dengan teh dari negara lain.
“Saya sedih ketika orang tidak percaya bahwa Indonesia memiliki teh yang bagus. Padahal kualitas daun teh kita sangat baik,” tuturnya.
Selama hampir 14 tahun, ia terus mengedukasi masyarakat tentang cara menikmati teh yang benar. Menurutnya, masih banyak masyarakat yang belum mengenal teh berkualitas karena terbiasa mengonsumsi teh dengan mutu rendah.
Menjaga Kualitas dari Kebun hingga Cangkir
Salah satu keunggulan Teh Mbah Djie adalah penggunaan daun teh utuh yang diproses secara tradisional tanpa tambahan perisa maupun pengawet. Pendekatan tersebut dilakukan untuk menjaga karakter asli teh tubruk khas Jawa.
Ketut juga terus mendampingi petani dalam meningkatkan kualitas pengolahan daun teh, termasuk memperbaiki peralatan roasting agar menghasilkan produk yang lebih konsisten.
Baginya, kualitas menjadi fondasi utama dalam membangun kepercayaan konsumen. Filosofi yang selalu ia pegang sederhana, yakni “mulailah dari rasa, percayalah dengan rasa, dan lakukan dengan jujur.”
Terus Berinovasi Mengikuti Zaman
Meski mengusung konsep tradisional, Teh Mbah Djie tidak menutup diri terhadap perubahan.
Ketut menyadari bahwa generasi muda membutuhkan pengalaman baru dalam menikmati teh. Karena itu, setiap tahun ia menghadirkan inovasi produk sekaligus mengembangkan Galeri Teh Mbah Djie di Desa Dono sebagai pusat edukasi mengenai sejarah, pengolahan, hingga budaya minum teh.
Galeri tersebut menjadi ruang bagi masyarakat untuk memahami bahwa teh bukan sekadar minuman, tetapi bagian dari perjalanan sejarah bangsa.
“Orang kota mulai jenuh dengan kebisingan. Saya ingin menghadirkan pengalaman menikmati teh di desa sekaligus belajar tentang budaya teh,” ujarnya.
Dukungan Bank Indonesia
Perjalanan Teh Mbah Djie tidak lepas dari dukungan berbagai pihak, salah satunya Bank Indonesia.
Melalui program pembinaan UMKM, Ketut memperoleh kesempatan mengikuti berbagai pameran dan festival, termasuk Java Coffee & Flavors Fest (JCFF).
Menurutnya, program tersebut memberikan ruang promosi yang sangat berarti bagi produk lokal.
“Saya diberi wadah untuk mengenalkan teh lokal kepada masyarakat yang lebih luas. Banyak orang akhirnya mengenal dan menikmati Teh Mbah Djie,” katanya.
Ketut berharap Bank Indonesia dan pemerintah terus merangkul pelaku industri teh skala kecil melalui pelatihan, promosi, dan berbagai kegiatan yang membuka akses pasar.
Menjaga Warisan Budaya
Bagi Ketut, Teh Mbah Djie bukan sekadar merek dagang.
Ia ingin menjadikan teh sebagai media untuk mengingat sejarah, membangun kebersamaan, dan memperkuat identitas budaya Tulungagung.
Karena itu, visi Teh Mbah Djie adalah menjadi simbol kebangkitan teh lokal Tulungagung yang berakar pada tradisi, berdaya saing, dan berkelanjutan. Sementara misinya mencakup pelestarian sejarah, pemberdayaan petani, inovasi produk, serta menjaga keseimbangan alam lereng Gunung Wilis.
Peluang Teh Indonesia Masih Sangat Besar
Secara nasional, Indonesia masih menjadi salah satu produsen teh dunia. Berdasarkan data Food and Agriculture Organization (FAO) dan International Tea Committee, Indonesia termasuk dalam 10 besar negara penghasil teh, meski luas perkebunan terus mengalami penurunan akibat alih fungsi lahan. Di sisi lain, tren konsumsi teh premium, specialty tea, serta wisata berbasis agro semakin meningkat di berbagai negara.
Kondisi tersebut membuka peluang bagi pelaku usaha seperti Teh Mbah Djie untuk menghadirkan produk teh berkualitas dengan cerita sejarah dan nilai budaya yang kuat.
Ketut optimistis masa depan industri teh Indonesia masih sangat menjanjikan selama pelaku usaha terus berinovasi, menjaga kualitas, dan mengikuti perkembangan pasar. Ia juga mengajak generasi muda untuk lebih bangga terhadap produk lokal.
“Galilah potensi daerah masing-masing. Kembangkan dengan cara modern agar bisa dikenal dunia,” pesannya.
Dari Secangkir Teh, Menjaga Masa Depan
Perjalanan Teh Mbah Djie membuktikan bahwa sebuah produk lokal dapat memiliki makna yang jauh lebih besar daripada nilai ekonominya. Di balik setiap seduhan teh terdapat upaya menghidupkan kembali perkebunan yang hampir hilang, memberdayakan petani, menjaga kelestarian alam, dan melestarikan budaya minum teh Indonesia.
Ketika banyak orang berlomba menciptakan tren baru, Ketut Sunyoto justru mengajak masyarakat kembali pada akar budaya melalui secangkir teh tubruk. Sebab, baginya, secangkir teh bukan hanya soal rasa, melainkan juga tentang sejarah, kejujuran, dan harapan agar kejayaan teh Tulungagung kembali harum, bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di panggung dunia.





