Tanggapi Wacana Relaksasi Kuota RKAB, Ini Kata Bos Vale Indonesia

wartaekonomi.co.id
2 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Jakarta -

PT Vale Indonesia Tbk (INCO) belum memberikan kepastian mengenai rencana pengajuan tambahan kuota Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) pertambangan di tengah kebijakan relaksasi kuota yang tengah disiapkan pemerintah. 

Perseroan menyatakan proses penyusunan dan penyampaian RKAB masih berjalan sesuai mekanisme yang ditetapkan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Presiden Direktur dan Chief Executive Officer PT Vale Indonesia, Bernardus Irmanto, mengatakan perseroan senantiasa menjalankan proses penyusunan dan penyampaian RKAB sesuai ketentuan yang berlaku.

"PT Vale Indonesia senantiasa menjalankan proses penyusunan dan penyampaian RKAB sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan serta mekanisme yang ditetapkan oleh Kementerian ESDM," kata Bernardus dalam keterangan kepada Warta Ekonomi, Kamis (30/7/2026).

Namun, Bernardus belum bersedia memberikan keterangan lebih lanjut mengenai proses tersebut, termasuk terkait kemungkinan pengajuan tambahan kuota RKAB di tengah relaksasi yang dibuka pemerintah.

"Terkait proses yang sedang berlangsung, Perseroan belum dapat memberikan komentar lebih lanjut. Apabila terdapat perkembangan material yang perlu disampaikan kepada publik, Perseroan akan mengomunikasikannya melalui kanal resmi sesuai dengan ketentuan keterbukaan informasi yang berlaku," ujarnya.

Di tengah proses tersebut, PT Vale mencatat perbaikan kinerja operasional pada kuartal II 2026. Produksi nikel dalam matte mencapai 16.153 metrik ton, naik sekitar 19% dibandingkan kuartal I 2026 yang sebesar 13.620 ton. 

Meski demikian, secara kumulatif semester I 2026 produksi masih turun menjadi 29.773 ton dibandingkan 35.584 ton pada periode yang sama tahun lalu. 

Perbaikan produksi turut mendongkrak kinerja keuangan perseroan. Pada kuartal II 2026, pendapatan meningkat 15% secara kuartalan menjadi US$290 juta dari US$253 juta pada kuartal sebelumnya. 

Sementara itu, laba bersih naik 39% menjadi US$61 juta dari US$44 juta, sedangkan EBITDA melonjak 45% menjadi US$116 juta dari US$80 juta. 

Peningkatan tersebut didorong oleh kenaikan produksi, menguatnya harga realisasi nikel, serta efisiensi biaya operasional. 

Di sisi lain, PT Vale juga terus mempercepat pengembangan proyek hilirisasi. Perseroan baru saja menerima autoclave untuk Proyek High Pressure Acid Leaching (HPAL) Sambalagi yang merupakan bagian dari Indonesia Growth Project (IGP) Morowali. 

Peralatan utama tersebut akan digunakan untuk mengolah bijih nikel limonit menjadi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), bahan baku penting dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik. 

Menurut Bernardus, kedatangan autoclave menjadi tonggak penting dalam pengembangan industri hilirisasi nikel nasional.

"Kedatangan autoclave tersebut merupakan langkah maju yang signifikan dalam pengembangan rantai nilai bahan baku baterai terintegrasi di Indonesia serta memperkuat komitmen PT Vale untuk mendukung agenda hilirisasi nasional," tutup Bernardus dalam keterangan resmi.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
2 Pemuda Curi 14 Baterai Tower BTS Telkomsel Dibekuk Resmob Polres Toraja Utara
• 1 jam laluharianfajar
thumb
Dua Kasus yang Melibatkan Husniah Talenrang Sedang Digarap Polda Sulsel Bersamaan
• 20 jam laluterkini.id
thumb
BI Pertahankan BI-Rate 5,75%, Ekonom Nilai Jeda Kebijakan Sudah Tepat
• 9 jam lalukatadata.co.id
thumb
Sekjen DPD RI Tekankan Evaluasi Jadi Budaya Kerja untuk Tingkatkan Kinerja
• 20 jam laludetik.com
thumb
Dari Logistik hingga Industri Kreatif, Isuzu Tampilkan Solusi Kendaraan Niaga Andal di GIIAS 2026
• 7 jam laludisway.id
Berhasil disimpan.