Pantau - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Karawang mencatat krisis air bersih akibat musim kemarau meluas hingga melanda sembilan desa dengan total 4.044 kepala keluarga atau 12.155 jiwa terdampak.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Karawang Ferry Muharram mengatakan wilayah terdampak tersebar di Kecamatan Tegalwaru, Ciampel, Pangkalan, dan Telukjambe Barat.
Menurut data BPBD Karawang, Kecamatan Tegalwaru menjadi wilayah yang mengalami dampak paling parah meski hanya mencakup Desa Kutalanggeng dan Desa Cintalanggeng.
Sebanyak 1.386 kepala keluarga dengan 3.876 jiwa di dua desa tersebut mengalami kesulitan memperoleh air bersih.
Di Kecamatan Pangkalan, sebanyak 656 kepala keluarga atau 1.728 jiwa di Desa Kertasari, Mulangsari, dan Jatilaksana terdampak kekeringan yang memicu krisis air bersih.
Sementara itu, Desa Wanakerta di Kecamatan Telukjambe Barat mencatat 417 kepala keluarga atau 1.590 jiwa terdampak.
Di Kecamatan Ciampel, sekitar 1.200 kepala keluarga di Desa Parungmulya, Mulyasejati, dan Kutanegara juga mengalami dampak kekeringan.
Ferry mengatakan BPBD Karawang bersama sejumlah pihak terus mendistribusikan air bersih ke desa-desa terdampak sejak bencana kekeringan mulai terjadi pada 11 Juni 2026.
BPBD Karawang juga akan terus memantau perkembangan kondisi kekeringan dan menyalurkan bantuan air bersih selama musim kemarau masih berlangsung.
BPBD menyebut cakupan wilayah terdampak kini bertambah dibandingkan sekitar sepekan sebelumnya yang hanya meliputi enam desa di Kecamatan Tegalwaru, Pangkalan, dan Ciampel.




