Warga Malang Sudah Beli Air dan Andalkan Sungai, Bantuan Belum Datang

kompas.id
4 jam lalu
Cover Berita

Sebagian warga di Kabupaten Malang, Jawa Timur, sudah membeli air bersih, mengandalkan air sungai, dan menghemat penggunaan air selama musim kemarau. Namun, bantuan dari pemerintah belum juga datang karena kondisi mereka belum dinilai cukup kritis.

Berada di kawasan karst Malang Selatan, Desa Sumberagung di Kecamatan Sumbermanjing Wetan, pasrah selalu terdampak kekeringan setiap musim kemarau tiba.

Ketika itu terjadi, mereka harus mengeluarkan uang tambahan untuk membeli air bersih hingga memanfaatkan air sungai untuk keperluan mandi dan cuci. Tahun ini, kondisi itu sepertinya belum akan berubah.

Hingga Kamis (30/7/2026), Kepala Desa Sumberagung Ahmad Muzayid mengatakan, krisis air sudah terjadi di RT 01-012 di RW 01 dan RT 013-022 di RW 02. Totalnya, ada 800 rumah tangga yang terdampak.

“Tidak menutup kemungkinan di RT lain juga ada, seperti RT 025 dan RT 027 juga mulai terdampak,” ujarnya.

Hujan, kata Ahmad, sempat turun dua hari lalu. Namun, harapan itu cepat pupus. Intensitas hujan terlalu rendah sehingga air langsung meresap ke tanah karst tanpa sempat mengisi sumur warga. Desa itu juga belum terlayani jaringan PDAM.

Akibatnya, untuk memenuhi kebutuhan air bersih, sebagian warga harus mengeluarkan Rp 90.000-Rp 100.000 untuk satu tangki air berukuran 5.000 liter. Sementara itu, warga yang rumahnya dekat sungai sedikit lebih beruntung.

Baca JugaSebagian Besar Daerah di Jabar Kemarau Lebih Awal, Kekeringan Mengancam

“Mereka mengambil air dari Kali Bambang. Airnya untuk cuci hingga mandi,” kata dia.

Terkait hal ini, Ahmad mengatakan, sudah mengajukan bantuan air bersih pada Pemerintah Kabupaten Malang sejak awal Juli 2026. Namun, hingga kini, belum ada bantuan yang datang.

Selain Desa Sumberagung, hal serupa juga dialami warga Dusun Gunung Kunci, Desa Jabung, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang. Berada di lereng Bromo-Tengger, sumber air masih bisa diandalkan.

Kondisi saluran air belum kering kerontang. Setidaknya, warga masih bisa mencuci baju, terlihat dari jemuran pakaian masih ada di depan rumah warga.

Baca JugaKalbar Catat Titik Panas Terbanyak, Karhutla Banyak di Area Perusahaan

Namun, kondisinya jauh dari ideal. Hujan, misalnya, terakhir turun dua bulan lalu. Debit air jaringan perpipaan dari sumber di Lemahbang juga mulai tersendat beberapa pekan terakhir.

“Airnya mulai tersendat. Kadang dua malam ada air, dua malam tidak ada,” kata Margianto (65) sambil menunjuk ke arah meteran air yang ada di tepi jalan, di depan rumahnya, Kamis (30/7/2026) sore.

Margianto mengatakan, sejauh ini, air yang tersisa masih bisa dipakai untuk masak, mandi, mencuci, hingga kebutuhan air untuk dua sapinya. Namun, ia mengaku mesti benar-benar berhemat agar semua kebutuhannya terpenuhi.

“Biasanya, setiap kemarau ada bantuan air pemerintah menggunakan truk tangka. Airnya ditampung di bak semen. Nanti, warga mengambil air dari situ. Tapi entah ini, kemarau kali ini, kok, belum ada bantuan,” ujar Margianto.

Margianto mengatakan, warga bukan tanpa usaha meminimalkan dampak kemarau. Lima tahun lalu, warga pernah membangun sumur bor. Namun, airnya tidak keluar.

“Di sini, warga tidak ada yang beli air, (hanya) mengandalkan sumber air di Lemahbang,” katanya.

Baca JugaKemarau di Jatim Lebih Kering, BMKG Ingatkan Antisipasi Dini

Menanggapi hal ini, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang Sadono Irawan mengakui belum mendistribusikan air bersih. Alasannya, kondisi kekeringan belum kritis.

Namun, ia mengatakan, akan segera melakukan pendataan untuk mengetahui kondisi terkini. “Minggu depan kami akan asesmen ulang semua desa yang berpotensi kekeringan. Apakah sudah diperlukan peningkatan status dari siaga ke tanggap darurat,” ujarnya.

Berdasarkan data BPBD Jatim, tercatat ada sembilan kabupaten yang melakukan pendistribusian air bersih hingga 24 Juli 2026. Sembilan daerah itu adalah Bojonegoro, Bangkalan, Mojokerto, Pasuruan, Lumajang, Probolinggo, Jember, Bondowoso, dan Tulungagung.

Di Kabupaten Malang sendiri kini tercatat sedikitnya 13 desa di 6 kecamatan yang berpotensi terancam kekeringan pada kemarau 2026. Dampaknya rawan dialami 3.948 rumah tangga. Penyebabnya beragam, mulai dari kondisi geologi, klimatologi, dan vegetasi.

Minim pilihan, tangki air bantuan pemerintah menjadi hal paling dinantikan warga terdampak kemarau. Mereka berharap pendataan segera rampung dan berujung air bersih datang ke rumah mereka.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Marak Kekerasan dan Main Hakim Sendiri, Dampak Tekanan Ekonomi di Masyarakat?
• 22 jam lalukatadata.co.id
thumb
Harley-Davidson Bawa Dua Motor Edisi Terbatas ke GIIAS, Ini Keistimewaannya
• 34 menit laluviva.co.id
thumb
Prabowo: Indonesia harus indah demi tarik wisatawan
• 4 jam laluantaranews.com
thumb
Warga Semper Jakut Sempat Protes Kompensasi SUTET, PLN Pastikan Pembayaran Sudah Rampung
• 2 jam lalukompas.com
thumb
AS-Saudi Serang Milisi Pro-Iran di Irak, Konflik Timur Tengah Kembali Memanas
• 22 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.