Kontroversi istilah “londo ireng” yang diucapkan Presiden Prabowo Subianto masih memantik reaksi keras. Mantan Menko Polhukam Mahfud MD menilai ucapan tersebut menunjukkan cara pemerintah yang keliru dalam menghadapi kritik.
Mahfud menyoroti bahwa istilah itu sarat dengan beban sejarah. Dalam tradisi Jawa, “londo ireng” berarti “Belanda hitam” dan dahulu dipakai untuk menyebut pihak yang dianggap berpihak pada kolonial Belanda. Konotasinya negatif, identik dengan pengkhianatan terhadap perjuangan rakyat.
Meski pihak Istana sudah menegaskan ucapan Presiden tidak ditujukan untuk semua jurnalis, pengamat, maupun LSM, Mahfud menilai klarifikasi itu tidak menghapus kesan pelabelan.
"Presiden ini tidak suka pada kritik, selalu mengatakan ini negara demokrasi, silakan kritik pemerintah, tapi sesudah itu menghantam balik para pengkritiknya tanpa penjelasan yang substantif," ucapnya dalam kanal YouTube Mahfud MD Official, dikutip Jumat (31/7).
Ia menekankan bahwa kritik adalah bagian vital dari demokrasi. Perbedaan pandangan, menurutnya, seharusnya dijawab dengan dialog dan argumentasi, bukan dengan label yang bisa melukai kelompok tertentu.
"Jadi kalau orang disebut londo ireng itu kalau kritik dia, seperti LSM, pengamat, jurnalis yang paling banyak, itu agak menyakitkan karena londo ireng itu sejarahnya pengkhianatan terhadap perjuangan," ucap Mahfud.
Sebelumnya, Prabowo dalam sambutannya di Peringatan Hari Lahir ke-28 PKB di Jakarta Convention Center, Kamis (23/7/2026), menyebut mentalitas londo ireng masih ada hingga kini.
Ia menilai sebagian orang Indonesia lebih senang mengabdi kepada kepentingan bangsa asing daripada bangsa sendiri.
Baca Juga: Kenang Gus Dur hingga Peringatan Soal Pemimpin Korup, Ada Pesan Tegas di Balik Napak Tilas Mahfud MD
"Kita tahu ada orang-orang Indonesia yang senang mengabdi dan berbakti kepada bangsa lain. Itu yang dulu kita sebut Londo Ireng. Iya, yang ikut Belanda perang lawan kita, Londo-Londo Ireng ini sampai sekarang masih ada, hanya dia sekarang pakai baju lain kan," kata Prabowo.
"Wartawan, jurnalis, apa itu, pengamat, LSM harus kita tanya, yang gaji lu siapa? Yang bayar listrikmu siapa? Yang bayar handphonemu siapa? Cari pekerjaan susah, kita tahu kan?" imbuhnya.





