Mesir memperoleh pencairan pendanaan sekitar USD 1,8 miliar atau sekitar Rp 32,5 triliun (kurs Rp 18.075) setelah berhasil menyelesaikan tinjauan kedua terakhir dalam program pinjaman yang diperluas dari Dana Moneter Internasional (IMF).
IMF menyatakan, Mesir menghadapi dampak perang di Timur Tengah dengan posisi makroekonomi yang lebih kuat dibandingkan pada periode tekanan eksternal sebelumnya. Hal itu juga ditopang oleh pertumbuhan ekonomi yang solid, inflasi yang terus menurun, serta peningkatan cadangan devisa bruto.
“Penyelesaian tinjauan ketujuh dalam kerangka Extended Fund Facility (EFF) membuat dana sebesar USD 1,5 miliar dapat segera dicairkan kepada Mesir,” kata IMF dalam pernyataannya setelah rapat dewan eksekutif pada Kamis (29/7), dikutip dari Bloomberg.
Dewan eksekutif IMF juga menyetujui akses pendanaan tambahan sebesar USD 272 juta melalui fasilitas terpisah, yakni Resilience and Sustainability Facility.
Negara dengan populasi terbesar di Timur Tengah itu lebih dari dua kali lipat meningkatkan nilai program pinjaman IMF yang telah ada menjadi USD 8 miliar pada awal 2024, ketika dampak perang di Gaza memperburuk krisis ekonominya.
Sebagai bagian dari kesepakatan tersebut, Mesir berkomitmen menerapkan nilai tukar yang lebih fleksibel serta menjalankan program privatisasi untuk mengurangi peran negara dalam perekonomian.
Hubungan Mesir dengan IMF menjadi perhatian para investor yang telah menanamkan miliaran dolar AS di pasar obligasi domestik negara tersebut. Arus investasi itu mengalami pasang surut dalam lima bulan terakhir seiring berlangsungnya perang dengan Iran.
Dewan IMF memberikan persetujuan setelah menilai Mesir telah membuat kemajuan yang memadai dalam penjualan aset-aset milik negara. Pemerintah Mesir juga telah menerbitkan dokumen mengenai rencana kepemilikan aset publik di masa depan serta merevisi aturan pajak pertambahan nilai (PPN) guna meningkatkan penerimaan negara.
Nilai tukar pound Mesir bergerak naik turun dalam beberapa bulan terakhir dan kerap mengikuti perkembangan konflik di kawasan. Pergerakan tersebut dipandang investor sebagai bukti meningkatnya fleksibilitas mata uang Mesir.
Pada bulan ini, Komisi Eropa juga mencairkan dana sebesar 1,5 miliar euro atau sekitar USD 1,73 miliar kepada Mesir dalam program Macro-Financial Assistance senilai 4 miliar euro.
Pencairan tahap kedua dari tiga tahap tersebut dilakukan setelah Komisi Eropa menilai Kairo telah memenuhi sejumlah persyaratan, termasuk melaksanakan reformasi ekonomi yang telah disepakati, sebagaimana disebutkan dalam pernyataan tersebut.





