Pantau - Qualcomm berencana menaikkan harga chipset Snapdragon mulai 1 September 2026 yang berpotensi mendorong kenaikan harga ponsel Android, tablet, dan perangkat wearable yang menggunakan chipset tersebut.
Kenaikan Harga Dipicu Biaya ProduksiChief Executive Officer (CEO) Qualcomm Cristiano Amon mengatakan penyesuaian harga dilakukan untuk meningkatkan margin keuntungan sekaligus memperkuat rantai pasok perusahaan.
Menurut Cristiano, konsumen saat ini lebih banyak memilih ponsel premium kelas bawah atau perangkat generasi sebelumnya akibat kenaikan harga memori yang meningkatkan biaya produksi.
Ia menambahkan meningkatnya biaya pasokan juga telah menekan margin kotor perusahaan.
"Ini merupakan langkah sementara dalam jangka pendek yang kami tangani melalui kenaikan harga," ungkap Cristiano.
Qualcomm belum mengungkapkan besaran kenaikan harga chipset yang akan diberlakukan, namun sejumlah laporan menyebut penyesuaian tersebut berpotensi mencapai dua digit untuk produk yang dikirim setelah 1 September 2026.
Penjualan Chipset TurunRencana kenaikan harga muncul setelah Qualcomm melaporkan pendapatan bisnis chipset ponsel turun 20 persen secara tahunan pada kuartal ketiga 2026 menjadi 5,1 miliar dolar AS atau sekitar Rp92,1 triliun.
Perusahaan mengaitkan penurunan tersebut dengan melemahnya permintaan pasar, terutama di China, serta meningkatnya harga memori.
Qualcomm juga menyatakan industri semikonduktor saat ini menghadapi kenaikan biaya produksi mulai dari wafer, perakitan, pengujian, pengemasan, memori, hingga material lainnya.
Kenaikan harga chipset diperkirakan akan berdampak pada berbagai merek ponsel Android yang menggunakan Snapdragon, seperti Samsung, Xiaomi, Realme, Oppo, dan OnePlus.
Qualcomm juga diperkirakan memperkenalkan chipset generasi terbaru Snapdragon 8 Elite Gen 6 pada ajang Snapdragon Summit pada September 2026 untuk digunakan pada sejumlah ponsel flagship mendatang.



