Adu Kinerja Anggota MIND ID TINS dan INCO, Mana yang Lebih Moncer?

katadata.co.id
5 jam lalu
Cover Berita

Dua emiten tambang pelat merah di bawah naungan MIND ID yaitu PT Timah Tbk (TINS) dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mencatatkan kinerja moncer dengan lonjakan laba ratusan persen pada semester pertama 2026. Kinerja tersebut ditopang kenaikan harga komoditas, peningkatan produksi serta efisiensi operasional di tengah ketidakpastian geopolitik dan dinamika perdagangan global.

Secara terperinci, TINS menjadi emiten dengan pertumbuhan laba yang lebih agresif. Perseroan membukukan laba bersih Rp 2,79 triliun pada semester pertama 2026. Torehan tersebut melonjak 779% dibandingkan periode yang sama tahun lalu (YoY) sebesar Rp 318,47 miliar. Sleian itu capaian itu telah melampaui target laba bersih sepanjang 2026 sebesar Rp 1,61 triliun atau setara 169% dari target tahunan.

Pendapatan TINS juga melonjak 147% secara tahunan menjadi Rp 10,41 triliun dari Rp 4,21 triliun. EBITDA meningkat 363% YoY menjadi Rp 3,9 triliun. Kinerja tersebut ditopang kenaikan volume penjualan dan naiknya harga timah global.

Direktur Utama PT Timah, Restu Widiyantoro mengatakan, peningkatan produktivitas, disiplin pengelolaan biaya, serta transformasi operasional menjadi faktor utama yang mendorong pertumbuhan kinerja perseroan.

"Kami akan terus memperkuat fundamental usaha melalui eksplorasi berkelanjutan, penguatan tata kelola pertambangan, dan peningkatan efisiensi operasional guna menjaga pertumbuhan jangka panjang," ungkap Restu dalam keterangan resminya dikutip Jumat (31/7).

Secara operasional, produksi bijih timah naik 75% menjadi 12.232 ton, sedangkan produksi logam timah meningkat 58% menjadi 10.865 metrik ton. Volume penjualan logam timah bahkan melonjak 85% menjadi 10.984 metrik ton.

Kinerja tersebut didukung kenaikan harga jual rata-rata timah menjadi US$ 49.794 per metrik ton, naik 52% dibandingkan tahun sebelumnya. Sebanyak 97% penjualan masih berasal dari pasar ekspor, dengan Cina menjadi tujuan utama yang menyerap 36% penjualan. Lalu disusul India dan Korea Selatan.

Penguatan laba juga tercermin dari perbaikan rasio profitabilitas. Margin laba bersih meningkat menjadi 26,05% dari 7,11% pada semester I 2025. Sementara return on equity (ROE) melonjak menjadi 25,74% dari 3,57%.

Di sisi lain, Vale Indonesia (INCO) juga mencatat lonjakan laba yang signifikan. Perseroan membukukan laba bersih US$ 104,37 juta atau sekitar Rp 1,86 triliun pada semester pertama 2026, melonjak lebih dari empat kali lipat dibandingkan US$ 25,24 juta pada periode yang sama tahun lalu.

Pendapatan INCO meningkat menjadi US$ 543,06 juta dari US$ 426,73 juta. Presiden Direktur dan Chief Executive Officer INCO, Bernardus Irmanto mengatakan, perseroan memperoleh keuntungan dari kenaikan harga nikel, peningkatan produksi serta disiplin pengendalian biaya.

Produksi nikel matte pada semester pertama mencapai 29.773 ton setelah produksi kuartal kedua naik 19% menjadi 16.153 ton menyusul rampungnya pembangunan kembali Tanur Listrik 3 pada Juni 2026. Harga jual rata-rata nikel matte juga naik 4% menjadi US$ 14.765 per ton.

Selain memperkuat bisnis utama, INCO mulai memperoleh tambahan kontribusi dari penjualan bijih nikel di proyek pertumbuhan Bahodopi dan Pomalaa. Penjualan bijih nikel dari Bahodopi mencapai 1,96 juta wet metric ton (wmt) sepanjang semester pertama, sedangkan Pomalaa mencapai 585 ribu wmt. Perseroan menilai peningkatan tersebut menjadi fondasi diversifikasi pendapatan sekaligus memperkuat kapasitas produksi jangka panjang.

Di tengah kenaikan harga energi global akibat ketegangan geopolitik, INCO mampu menjaga biaya tunai produksi nikel matte tetap kompetitif di level US$ 10.005 per ton pada kuartal II 2026, turun dibandingkan kuartal sebelumnya.

Bernardus menyebut perseroan akan terus mempercepat proyek hilirisasi. Salah satunya ditandai dengan tibanya autoclave untuk proyek HPAL Sambalagi yang menjadi bagian dari Indonesia Growth Project (IGP) Morowali. Proyek tersebut akan memperkuat rantai pasok bahan baku baterai kendaraan listrik sekaligus mendukung agenda hilirisasi nasional.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ditangkap di Bandara, Pilot Asing Sudah 3 Selundupkan Ekstasi ke Jakarta
• 8 jam laluliputan6.com
thumb
Jelang Indonesia vs Timor Leste, John Herdman: Kami Harus Tumbuh Sepanjang Piala AFF 2026
• 22 jam lalukompas.tv
thumb
Polda Riau Ajak Masyarakat Jaga Persatuan Lewat Ekspedisi Merah Putih Presisi
• 10 jam laludetik.com
thumb
Efek Danantara Mulai Terasa, Arah Transformasi BUMN Kini Lebih Fokus ke Pasar Global
• 19 jam lalutvonenews.com
thumb
DPR Dorong Revisi Aturan Gaji Kepala Daerah
• 16 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.