Kebakaran Hutan Picu Ledakan Amunisi Perang Dunia II, Prancis Dibayangi Ancaman Ganda

republika.co.id
6 jam lalu
Cover Berita

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kebakaran hutan raksasa di Gironde, Prancis barat daya, tidak hanya membakar puluhan ribu hektare hutan pinus dan menghancurkan ratusan rumah. Panas ekstrem dari kobaran api juga memicu ledakan persediaan obus peninggalan Perang Dunia II yang selama puluhan tahun terlupakan di wilayah komune Le Porge.

Lebih dari 100 dentuman terdengar ketika api menerjang Le Porge pada malam Kamis, 23 Juli, hingga Jumat, 24 Juli 2026. Warga dan petugas pemadam pada awalnya menduga suara ledakan tersebut berasal dari tabung-tabung gas di rumah yang terbakar. Pemeriksaan setelah api mereda menunjukkan sejumlah obus tua telah meledak, sedangkan amunisi lainnya terpental dan tersebar di sekitar lokasi.

Baca Juga
  • AS Tegaskan AUKUS Bukan Ancaman, Kapal Selam Nuklir Australia Jadi Sorotan
  • JK Minta PMI dan Relawannya Siaga Bantu Penanganan Bencana Kekeringan
  • Merdeka Run Libatkan 8 Ribu Pelari, Menpora Erick: Wujud Syukur dan Kolaborasi Sambut HUT Ke-81 RI

Salah satu obus bahkan melesat menembus sebuah rumah. Tidak ada korban luka yang dilaporkan akibat ledakan amunisi tersebut. Namun, penemuan itu memunculkan bahaya baru bagi warga yang mulai kembali untuk memeriksa rumah dan harta benda mereka setelah gelombang evakuasi besar-besaran.

Wali Kota Le Porge Martial Zaninetti mengatakan unit penjinak bom telah diterjunkan untuk menyisir dan mengamankan kawasan. Area tempat obus ditemukan harus diperlakukan sebagai zona berbahaya karena sebagian amunisi belum meledak dan dapat berpindah dari lokasi semula akibat tekanan ledakan maupun pergerakan api.

.rec-desc {padding: 7px !important;}

Temuan itu juga membuat kepulangan warga harus dilakukan dengan kewaspadaan berlapis. Selain menghadapi rumah yang rusak, pohon hangus, kabel listrik, abu, dan potensi api yang kembali menyala, masyarakat kini berhadapan dengan benda peledak berusia lebih dari delapan dekade yang sulit dikenali di antara puing-puing.

Panas Membuka Kembali Jejak Perang

Ledakan di Le Porge memperlihatkan bagaimana jejak Perang Dunia II masih menjadi ancaman nyata di Prancis. Wilayah negara itu pernah dipenuhi jutaan ranjau, bom, granat, dan peluru artileri milik pasukan Jerman maupun Sekutu. Sebagian ditemukan dan dimusnahkan setelah perang berakhir, tetapi sebagian lainnya tertimbun tanah, tersimpan di lokasi lama, atau tidak pernah tercatat.

Direktorat Jenderal Keamanan Sipil Prancis memperingatkan bahwa amunisi lama tidak otomatis menjadi aman karena usia. Sebuah obus yang telah berada di dalam tanah selama puluhan, bahkan lebih dari 100 tahun, masih dapat berfungsi dan meledak apabila terkena panas, benturan, tekanan, atau dipindahkan tanpa prosedur khusus.

Prancis membentuk layanan penjinakan ranjau pada 1945 untuk membersihkan lahan pertanian dan kawasan permukiman dari sisa-sisa perang. Delapan dekade kemudian, sekitar 350 petugas penjinak bom Prancis masih memusnahkan rata-rata 450 ton amunisi dan bahan peledak setiap tahun. Besarnya jumlah tersebut menunjukkan bahwa “warisan peledak” dua perang dunia belum sepenuhnya hilang dari daratan Prancis.

Dalam kebakaran biasa, tabung gas, tangki bahan bakar, kendaraan, dan jaringan listrik telah menjadi ancaman serius bagi petugas. Kehadiran obus membuat operasi jauh lebih rumit karena pemadam tidak dapat mendekati sejumlah titik sebelum petugas penjinak bom memastikan jalurnya aman.

Ledakan juga dapat melemparkan pecahan logam dengan kecepatan tinggi, memicu titik api baru, atau membuat amunisi yang belum meledak berpindah ke lokasi yang sebelumnya dinilai aman. Karena itu, pembersihan tidak cukup dilakukan dengan mengangkat puing. Setiap benda mencurigakan harus diidentifikasi, diamankan, kemudian dipindahkan atau dihancurkan secara terkendali.

 

Loading...
.img-follow{width: 22px !important;margin-right: 5px;margin-top: 1px;margin-left: 7px;margin-bottom:4px}
Ikuti Whatsapp Channel Republika
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;} .wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;}
sumber : Antara
@font-face { font-family: "LPMQ"; src: url("https://static.republika.co.id/files/alquran/LPMQ-IsepMisbah.ttf") format("truetype"); font-weight: normal; font-style: normal } .arabic-text { font-family: "LPMQ"; font-weight: normal !important; direction: rtl; text-align: right; font-size: 2.5em !important; line-height: 49px !important; }

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Permudah Layanan, IKD Dukcapil Kemendagri Raih Top Public Service Award
• 8 jam lalukumparan.com
thumb
Kebakaran Hebat di Permukiman Padat Makassar, 80 Rumah Hangus Dilalap Api
• 21 jam lalurctiplus.com
thumb
Kebakaran Hebat Hanguskan Puluhan Kios di Pasar Sepinggan Balikpapan
• 12 jam lalurctiplus.com
thumb
6 Dokter Internship Meninggal di 2026, Anggota Komisi IX Minta Evaluasi Total
• 37 menit lalukumparan.com
thumb
Unai Emery Senang Kembali ke Jakarta, Aston Villa Siap Hadapi Indonesia All Stars
• 3 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.