Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN) menyiapkan Hunian Pekerja Konstruksi (HPK) dengan berbagai kebijakan yang responsif gender untuk memberikan perlindungan dan kenyamanan bagi seluruh penghuni, khususnya pekerja perempuan.
Hunian Pekerja Konstruksi merupakan fasilitas yang disediakan sebagai tempat tinggal bagi para pekerja yang terlibat dalam pembangunan IKN, mulai dari tenaga konstruksi, petugas keamanan, petugas kebersihan, hingga tenaga pendukung lainnya. Seluruh kawasan hunian dikelola melalui sistem building management yang memastikan pengelolaan fasilitas, keamanan, dan layanan berjalan secara profesional sehingga penghuni dapat tinggal dengan aman dan nyaman.
Selain dilengkapi fasilitas pendukung seperti kantin, masjid, dan taman, pengelolaan HPK juga mengedepankan prinsip-prinsip perlindungan terhadap seluruh penghuni. Saat ini, sebanyak 716 perempuan (16,6 persen) dan 3.586 laki-laki (83,4 persen) menghuni kawasan HPK.
Pelaksana Tugas Direktur Pengelolaan Gedung, Kawasan, dan Perkotaan Otorita IKN, Cakra Nagara, mengatakan bahwa penerapan pendekatan responsif gender merupakan bagian dari upaya menciptakan lingkungan hunian yang aman dan mendukung produktivitas seluruh pekerja.
"Penghuni HPK berasal dari berbagai profesi dan latar belakang. Karena itu, pengelolaan hunian kami rancang agar setiap penghuni merasakan keamanan dan kenyamanan. Lingkungan tempat tinggal yang aman akan membuat para pekerja dapat bekerja secara optimal," ujar Cakra, dikutip dari keterangan resmi, Jumat (31/7).
Sebagai bagian dari pengelolaan tersebut, Otorita IKN menyediakan empat tower khusus perempuan dari total 35 tower yang tersedia di kawasan HPK. Seluruh tower tersebut berada di kawasan HPK 2 dan diperuntukkan bagi pekerja perempuan guna menjaga privasi sekaligus meningkatkan rasa aman selama tinggal di kawasan hunian.
Selain itu, petugas keamanan perempuan ditempatkan di area hunian perempuan agar pelayanan keamanan dapat diberikan secara lebih optimal. Penempatan petugas housekeeping juga disesuaikan berdasarkan gender dan lokasi kerja. Di area-area publik, kamera pengawas (CCTV) dipasang sebagai bagian dari sistem keamanan kawasan, sementara tata tertib penghuni diterapkan untuk menciptakan lingkungan yang tertib, aman, dan kondusif.
Salah seorang Petugas Keamanan Perempuan HPK 2, Nirwana, menegaskan bahwa tata tertib yang diterapkan demi menjaga keamanan dan kenyamanan penghuni.
“Kalau di tower perempuan, laki-laki itu tidak boleh masuk tanpa pengawalan oleh security. Peraturan itu dibuat agar penghuni nyaman, tertib dan aman,” ujar Nirwana.
Kebijakan tersebut juga dirasakan langsung oleh para penghuni. Salah satunya Sri, yang telah tinggal di Hunian Pekerja Konstruksi selama sekitar satu tahun.
Menurut Sri, sejak pertama kali datang ke IKN dirinya langsung ditempatkan di area khusus perempuan. Penataan tersebut membuatnya merasa lebih nyaman selama tinggal di kawasan hunian pekerja.
"Sejak pertama datang saya memang langsung ditempatkan di area perempuan. Jadi selama tinggal di sini terasa lebih nyaman karena tidak bercampur dengan penghuni laki-laki," ujar Sri.
Selama tinggal di HPK, Sri mengaku tidak pernah mengalami gangguan ketika beraktivitas di lingkungan hunian. Menurutnya, keberadaan petugas keamanan dan sistem pengawasan melalui CCTV turut memberikan rasa aman bagi seluruh penghuni.
"Selama tinggal di sini saya tidak pernah mengalami gangguan. Keberadaan petugas keamanan dan CCTV cukup membantu menjaga lingkungan tetap aman. Kalau ada kejadian biasanya bisa ditelusuri melalui rekaman CCTV," katanya.
Bagi Sri, rasa aman merupakan kebutuhan dasar setiap orang. Menurutnya, lingkungan hunian yang nyaman membuat para pekerja dapat beristirahat dengan tenang sebelum kembali menjalankan aktivitas pembangunan Ibu Kota Nusantara. "Semua orang tentu membutuhkan rasa aman," tuturnya.





