Yogyakarta: Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta melaporkan peningkatan volume kubah lava Gunung Merapi selama periode pengamatan 24–30 Juli 2026. Kubah Barat Daya bertambah sekitar 2.000 meter kubik menjadi 4.021.200 meter kubik, sementara Kubah Tengah bertambah sekitar 600 meter kubik menjadi 2.369.400 meter kubik.
Hasil analisis foto termal menunjukkan suhu Kubah Barat Daya dan Kubah Tengah terukur 243 derajat Celsius, relatif stabil dibandingkan pengukuran sebelumnya.
Kepala BPPTKG Yogyakarta, Agus Budi Santosa, menjelaskan selama sepekan, Gunung Merapi tampak mengeluarkan asap putih dengan ketebalan tipis hingga tebal, tekanan lemah, dan tinggi asap bervariasi antara 10 hingga 150 meter.
"Pada minggu ini terjadi 2 kali awan panas guguran dengan jarak luncur maksimum 2.000 meter ke arah hulu Kali Boyong dan Kali Sat/Putih. Guguran lava yang dapat teramati adalah 6 kali ke arah hulu Kali Boyong sejauh 2.000 meter, 38 kali ke arah hulu Kali Krasak sejauh maksimum 2.000 meter, 7 kali ke arah hulu Kali Bebeng sejauh maksimum 1.700 meter, dan 48 kali ke arah hulu Kali Sat/Putih sejauh maksimum 2.000 meter," kata Agus dalam keterangan resminya, Jumat, 31 Juli 2026.
Baca Juga :
Gunung Merapi Luncurkan Awan Panas Guguran Sejauh 1,9 Kilometer
Selama periode tersebut, jaringan seismik mencatat 2 kali gempa Awan Panas Guguran (APG), 31 gempa Vulkanik Dangkal (VTB), 551 gempa Fase Banyak (MP), 4 gempa Low Frequency (LF), 647 gempa Guguran (RF), dan 12 gempa Tektonik (TT). Intensitas kegempaan pada periode ini lebih rendah dibandingkan minggu sebelumnya.
Berdasarkan hasil pengamatan visual dan instrumental, BPPTKG menyimpulkan bahwa aktivitas vulkanik Gunung Merapi masih cukup tinggi berupa aktivitas erupsi efusif. Status aktivitas ditetapkan pada tingkat "Siaga".
"Data pemantauan menunjukkan suplai magma masih berlangsung yang dapat memicu terjadinya awan panas guguran di dalam daerah potensi bahaya," ujar Agus.
Gunung Merapi memuntahkan awan panas guguran pada Jumat malam, 24 Juli 2026.
Potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awan panas pada sektor selatan–barat daya, meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 kilometer, Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng sejauh maksimal 7 kilometer.
Pada sektor tenggara, meliputi Sungai Woro sejauh maksimal 3 kilometer dan Sungai Gendol 5 kilometer. Lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius 3 kilometer dari puncak.
BPPTKG mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas di daerah rawan bahaya dan selalu mengikuti arahan dari pemerintah setempat serta memantau informasi resmi melalui kanal BPPTKG.




