JAKARTA, DISWAY.ID - Chairman Lippo Group James Riady menyebut Indonesia semakin dilirik perusahaan-perusahaan teknologi global sebagai basis pengembangan industri kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan robotika.
Menurutnya, minat tersebut didorong oleh keunggulan Indonesia dalam ketersediaan energi, konektivitas digital, serta kebijakan luar negeri yang membuka akses terhadap teknologi strategis.
James mengatakan sejumlah perusahaan teknologi dunia mulai menjajaki investasi di Indonesia, terutama di kawasan Batam dan koridor Jakarta-Karawang yang dinilai memiliki infrastruktur pendukung bagi industri berbasis AI.
BACA JUGA:Hunian Tetap Pascabencana Dikebut hingga 2027, Kementerian PKP Target Bangun 25.606 Unit
"Contohnya di industri yang paling futuristik, paling ke depan itu, yaitu AI dan robotics. Perusahaan-perusahaan teknologi sangat positif terhadap Indonesia. Rata-rata mereka ingin masuk ke Indonesia," kata James kepada wartawan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat, 31 Juli 2026.
Ia menjelaskan Batam dan kawasan Jakarta-Karawang menjadi tujuan utama investasi karena memiliki kecukupan pasokan energi serta koneksi serat optik (fiber connection) yang terhubung dengan jaringan global.
"Rata-rata masuk ke Indonesia, khususnya di Batam dan juga di jalur Jakarta ke Karawang itu karena memiliki kecukupan dari energi dan memiliki fiber connection ke dunia," ujarnya.
Menurut James, keberhasilan politik luar negeri Indonesia yang menganut prinsip bebas aktif turut menjadi faktor penting dalam meningkatkan daya tarik investasi teknologi tinggi.
BACA JUGA:KPK Ungkap Kejanggalan Stafnya Jadi Tersangka, Chat dengan Ayah Selalu Dihapus Otomatis
Ia menyebut Indonesia memperoleh akses untuk membeli GPU chip terkemuka di dunia yang tidak dapat diakses oleh banyak negara.
"Karena hubungan luar negeri bebas aktif dari Indonesia yang berhasil, sehingga Amerika mengizinkan Indonesia bisa membeli GPU chip yang terkemuka di dunia yang banyak negara tidak bisa akses, tapi Indonesia bisa," katanya.
Ia menilai kondisi tersebut membuka peluang bagi Indonesia untuk tidak hanya menjadi pengguna teknologi AI, tetapi juga berkembang sebagai pusat produksi dan pengembangan teknologi di kawasan.
"Sehingga itu merupakan satu industri baru, merupakan suatu hari depan baru. Indonesia tidak saja menjadi konsumen AI, tetapi menjadi produser, menjadi basis teknologi untuk setidaknya ASEAN, tapi juga untuk keseluruhan Global South," tuturnya.





