REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menetapkan tujuh dari 10 kabupaten/kota di Nusa Tenggara Barat (NTB) berstatus awas kekeringan meteorologis akibat musim kemarau yang diperkuat fenomena El Nino. Kondisi tersebut meningkatkan risiko krisis air bersih hingga kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah.
Prakirawan Stasiun Klimatologi NTB Suci Agustiarini mengatakan, Pos Hujan Belo dan Pos Hujan Bolo di Kabupaten Bima tidak mencatat hujan selama 74 hari berturut-turut.
Baca Juga
Dikawal Amerika, Dua Kapal Tanker Tetap tak Lolos dari Serangan Iran
Typhoon Eropa Masuki Era Radar Baru, Mampukah Menundukkan Su-35S Rusia?
Pertamina Patra Niaga Turunkan Harga Tiga Jenis BBM per 1 Agustus
"Pos Hujan Belo dan Pos Hujan Bolo di Kabupaten Bima tidak mencatat adanya hujan selama 74 hari berturut-turut. Kedua daerah itu masuk kategori kekeringan ekstrem karena sudah lebih dari dua bulan tanpa hujan," kata Suci di Mataram, Sabtu (1/8/2026).
Suci menjelaskan, tujuh daerah yang berstatus awas kekeringan meliputi Kabupaten Lombok Timur, Lombok Utara, Sumbawa Barat, Sumbawa, Dompu, Bima, serta Kota Bima.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Saat ini terdapat 17 kecamatan di tujuh daerah tersebut yang berada pada level tertinggi peringatan dini kekeringan meteorologis.
Menurut Suci, fenomena El Nino yang semakin menguat selama musim kemarau tahun ini menyebabkan periode tanpa hujan terus bertambah panjang di sejumlah wilayah.
Kondisi El Nino diperkirakan masih akan bertahan dalam beberapa bulan ke depan. Sementara itu, fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) yang saat ini berada pada fase netral diproyeksikan berubah menjadi fase positif pada September hingga Desember 2026.