Cerita Orang-orang di Tanah yang Kerontang

kompas.id
4 jam lalu
Cover Berita

Dengan napas yang tersengal-sengal, Rahmat beristirahat seusai mengangkat satu jeriken air yang dia ambil dari Kali Cihoe. Di umur yang sudah menginjak 57 tahun, Rahmat masih mampu mengangkut jeriken dari tepian kali menuju ke jalan raya. Keadaan itu menjadi rutinitas Rahmat dan warga setempat saat musim kemarau tiba.

Kali Cihoe yang berada di Desa Ridomanah, Kecamatan Cibarusah, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, menjadi oase saat musim kemarau datang. Kali itu menghidupi warga yang sehari-hari mengandalkan air dari PDAM untuk keperluan memasak hingga mencuci. Saat musim kemarau, air dari PDAM acap kali berhenti mengalir ke rumah-rumah warga.

Rahmat menuangkan air ke dalam jeriken.

KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN

Membawa jeriken untuk dibawa ke atas.

KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN

Rahmat (57) salah satu warga yang terdampak kekeringan.

KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN

”Ini sudah satu minggu air PDAM mati. Jadi, terpaksa harus ambil air dari kali, mau bagaimana lagi,” ujar Rahmat saat ditemui Jumat (31/7/2026).

Pada hari itu, Rahmat mengambil 20 jeriken air untuk memenuhi dua tangki air miliknya. Satu tangki dapat menampung sekitar 500 liter. Tangki miliknya itu bisa memenuhi kebutuhan air Rahmat dan keluarga selama dua minggu. Jika persediaan air habis dan kemarau belum kunjung selesai, Rahmat tidak punya pilihan lain selain harus kembali ke kali untuk mencari air.

Dengan tangan yang tak lagi kekar dan bahu yang tak lagi tegap, jeriken berisi air itu ia pikul sendiri sebanyak 10 kali balikan. Kontur tanah yang naik turun menjadi tantangan tersendiri. Peluh di wajahnya dan panas yang menyengat tak lagi ia hiraukan. Seusai ditinggal anaknya bekerja merantau, Rahmat menjadi satu-satunya yang bisa diandalkan di keluarganya.

Saat ini ia cukup beruntung. Air di Kali Cihoe yang biasanya keruh dan licin kini cukup jernih. Air Kali Cihoe hanya dapat diambil saat musim kemarau karena jika saat musim hujan, Kali Cihoe beraliran deras sehingga berbahaya untuk didekati warga. Pada musim kemarau, debit air menyusut sehingga warga bisa turun ke kali.

Air kali yang bening itu dimanfaatkan Rahmat dan warga lain untuk menjadi tempat mandi bersama. Air yang mengguyur badan menjadi pereda panas yang menyengat. Tidak ketinggalan, Rahmat dan warga lain pun membawa pakaian kotor mereka untuk dicuci di Kali Cihoe.

Selain mengandalkan air dari Kali Cihoe, warga sesekali mendapatkan bantuan air dari pihak pemerintah ataupun swasta. Namun, semenjak kekeringan yang melanda Desa Ridomanah sedari Juni ini, belum ada bantuan distribusi air ke kampung mereka. Hal itu karena keterbatasan armada sehingga membuat pendistribusian air belum merata.

Kemarau panjang tahun ini kian meluas. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat mencatat sebanyak 207 desa yang tersebar di 17 kabupaten dan kota di Jawa Barat. Daerah itu, antara lain, Bekasi, Bogor, Garut, Purwakarta, Tasikmalaya, Bandung Barat, Bandung, Kabupaten Sukabumi, Indramayu, Cianjur, Banjar, Pangandaran, dan Ciamis. Akibatnya, 214.381 jiwa terdampak dan mengalami krisis air bersih.

Sementara di Kabupaten Bekasi, sedikitnya 39.355 jiwa terdampak krisis air bersih akibat musim kemarau. Hingga saat ini, Pemerintah Kabupaten Bekasi telah menyalurkan 3,2 juta liter air bersih ke 23 desa terdampak. Salah satu desa yang mendapatkan air bersih ialah Desa Sukasari, Kecamatan Serang Baru.

Sejak pagi, warga telah berbondong-bondong membawa ember, jeriken, dan galon plastik bekas untuk menjadi wadah penampung air saat bantuan air bersih tiba. Bantuan air ini memberikan sedikit napas lega di tengah kekeringan yang melanda desa mereka. Setidaknya, bantuan itu bisa memenuhi dua sampai tiga hari pemakaian air warga desa.

Membawa galon air untuk diisi distribusi air bersih.

KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN

Mengantre untuk mendapatkan bantuan air bersih.

KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN

Warga membawa ember kosong untuk diisi air bersih.

KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN

Pukul 11.05 WIB, yang ditunggu-tunggu warga pun tiba. Truk tangki berisikan 5.000 liter air itu langsung diserbu warga yang sudah bersiap menampung air. Dalam hitungan menit, berbagai wadah kosong yang dibawa warga mulai diisikan air secara bergantian.

”Selagi ada wadah kosong, langsung isi, Mas, jangan disia-siakan,” celoteh Mimin (45) saat mengisi air.

Saat tidak ada bantuan air bersih, Mimin dan warga lainnya harus membeli air ke salah satu warga. Dalam seminggu, Mimin mesti merogoh kocek sekitar Rp 20.000. Setiap hari ia mengisi 10 galon air untuk kebutuhan mandi, mencuci, hingga memasak. 

Sebanyak 10 galon air berisi 3 liter untuk setiap galon itu masih kurang untuk memenuhi kebutuhan keluarganya sehari-hari. Mimin dan keluarga harus sangat cermat mengirit air. Mandi hingga mencuci pun harus dihitung betul-betul agar pengeluaran tidak bertambah.

Hampir sebagian warga Desa Sukasari mengandalkan sumur untuk kebutuhan air sehari-hari mereka. Namun, sudah empat bulan sumur-sumur mereka kering akibat tidak ada hujan yang turun. Desa Sukasari yang jauh dari kali dan mata air membuat warganya harus membeli air untuk kebutuhan sehari-hari.

”Hampir setiap kemarau pasti selalu begini, kesulitan air. Inginnya pemerintah bisa memberikan solusi. Kamir berterima kasih sudah memberikan bantuan air, tapi itu cuma sementara,” ucapnya.

Wadah-wadah kosong itu kini terisi air, memberikan harapan untuk beberapa hari ke depan. Harapan sementara itu setidaknya menjadi jeda warga untuk bersiap menghadapi kekeringan di hari-hari mendatang.

Serial Artikel

Air Hujan Hilang, Warga Pun Berharap dari Air Bantuan

Kakeringan membuat warga di Desa Kunjorowesi, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, kesulitan air. Sejak 22 Juli, mereka mendapat bantuan air bersih.

Baca Artikel


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Bayi Terlantar Trenggalek Didampingi UPT PPSAB, Proses Adopsi Tunggu Polisi
• 12 jam lalurepublika.co.id
thumb
Ternyata Ini Hukum Memakai Peci saat Shalat Dijelaskan Buya Yahya
• 13 jam lalutvonenews.com
thumb
Viral Mahasiswi Undana Disebut 12 Kali Gagal Sidang Skripsi, Fakultas Lakukan Investigasi
• 2 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
PIHPS: Harga cabai rawit Rp55.800/kg, telur ayam Rp29.650/kg
• 2 jam laluantaranews.com
thumb
Pramono: Halte Transjabodetabek di Banten Tetap Dikelola Pemprov DKI
• 23 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.