Jakarta, VIVA – Fenomena El Nino di Indonesia kini telah memasuki kategori kuat. Namun, kondisi tersebut ternyata tidak membuat hujan berhenti sepenuhnya. Dalam beberapa hari terakhir, sejumlah wilayah di Tanah Air justru masih diguyur hujan dengan intensitas sedang hingga sangat lebat.
Kondisi ini menimbulkan pertanyaan di tengah masyarakat. Pasalnya, El Nino selama ini identik dengan musim kemarau yang lebih kering dan berkurangnya curah hujan. Lantas, mengapa hujan masih terjadi ketika El Nino semakin menguat?
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa hujan yang masih turun di sejumlah daerah dipicu oleh dinamika atmosfer yang mendukung pembentukan awan hujan dalam skala lokal. Dengan kata lain, penguatan El Nino tidak otomatis menghilangkan potensi hujan di seluruh wilayah Indonesia.
BMKG mencatat perkembangan iklim global menunjukkan El Nino kini berada pada kategori kuat dan bahkan masih berpotensi mengalami penguatan dalam beberapa waktu ke depan.
Hal itu terlihat dari nilai Indeks Niño 3.4 dasarian yang mencapai +2,26, sementara Southern Oscillation Index (SOI) tercatat berada di angka -28,2.
Kedua indikator tersebut menunjukkan pengaruh El Nino masih sangat dominan terhadap pola cuaca di Indonesia.
Secara umum, El Nino menyebabkan berkurangnya pembentukan awan hujan sehingga curah hujan di banyak wilayah Indonesia menjadi lebih rendah dibandingkan kondisi normal. Dampaknya, musim kemarau cenderung berlangsung lebih kering.
Mengapa Hujan Masih Terjadi?Meski El Nino semakin kuat, BMKG menegaskan hujan tetap dapat terjadi apabila terdapat fenomena atmosfer yang mendukung pertumbuhan awan.
Dalam beberapa hari terakhir, aktivitas Gelombang Kelvin dan Gelombang Rossby Ekuatorial terpantau melintasi sebagian wilayah Indonesia bagian barat hingga tengah.
Keberadaan kedua gelombang atmosfer tersebut mampu meningkatkan pembentukan awan hujan sehingga sejumlah daerah masih mengalami hujan meski sedang berada pada musim kemarau.
Selain itu, BMKG juga mendeteksi anomali Outgoing Longwave Radiation (OLR) negatif pada periode yang sama. Kondisi ini menjadi indikator meningkatnya tutupan awan yang mendukung terbentuknya hujan.





