EtIndonesia.com – Ukraina kembali meningkatkan intensitas serangan jarak jauhnya ke wilayah Rusia melalui operasi drone berskala besar yang menargetkan infrastruktur strategis.
Pada Selasa pagi, 29 Juli 2026 waktu setempat, puluhan pesawat nirawak (drone) dilaporkan memasuki wilayah udara Kota Ryazan, sekitar 180–200 kilometer di tenggara Moskow. Serangan ini tidak hanya menghantam salah satu pusat logistik terbesar Rusia, tetapi juga memicu kebakaran di Kilang Minyak Ryazan yang memiliki peran vital dalam pasokan energi negara tersebut.
Rangkaian serangan tersebut memperlihatkan bagaimana Ukraina semakin mengandalkan strategi perang asimetris untuk menekan kemampuan logistik, industri, dan ekonomi Rusia, sekaligus memaksa Moskow mengeluarkan biaya yang jauh lebih besar dalam mempertahankan wilayahnya.
Menurut berbagai laporan yang beredar, operasi dimulai menjelang fajar ketika puluhan drone Ukraina terbang dalam beberapa gelombang menuju wilayah Ryazan. Waktu pelaksanaan diperkirakan dipilih secara sengaja karena kondisi cahaya yang masih minim dinilai dapat mengurangi efektivitas deteksi visual maupun respons awal sistem pertahanan udara Rusia.
Militer Rusia segera mengaktifkan sistem pertahanan udara setelah mendeteksi ancaman tersebut. Gelombang pertama drone dilaporkan berhasil dicegat oleh rudal pertahanan udara Rusia. Namun, serangan tidak berhenti sampai di situ.
Beberapa menit kemudian, gelombang kedua datang dengan jumlah yang lebih besar. Drone-drone tersebut dilaporkan mengubah jalur penerbangan, ketinggian, serta pola pendekatannya sehingga mampu melewati sebagian jaringan pertahanan udara sebelum akhirnya mencapai sasaran yang telah ditentukan.
Pusat Logistik Wildberries Menjadi Sasaran Utama
Salah satu target utama dalam operasi tersebut adalah pusat logistik milik Wildberries, perusahaan e-commerce terbesar sekaligus salah satu operator logistik terbesar di Rusia.
Kompleks logistik di Ryazan itu memiliki luas sekitar 173.000 meter persegi dan termasuk dalam jajaran sepuluh pusat logistik terbesar di Rusia. Lokasinya juga sangat strategis karena berada kurang dari 200 kilometer dari Moskow dan menjadi salah satu simpul utama distribusi barang menuju berbagai wilayah Rusia bagian tengah.
Beberapa drone dilaporkan menghantam langsung bangunan gudang tersebut.
Tak lama kemudian, ledakan besar mengguncang kawasan industri. Kobaran api raksasa disertai asap hitam pekat membubung tinggi ke udara dan terlihat dari berbagai titik di sekitar Ryazan.
Besarnya kebakaran memaksa pengelola menghentikan seluruh aktivitas operasional. Para pekerja dievakuasi secara darurat demi menghindari risiko ledakan susulan maupun runtuhnya struktur bangunan akibat kebakaran.
Kerusakan terhadap fasilitas logistik sebesar ini diperkirakan akan mengganggu rantai distribusi barang, baik untuk kebutuhan komersial maupun berbagai sektor industri yang bergantung pada jaringan logistik di sekitar Moskow.
Banyak analis menilai bahwa serangan tersebut bukan sekadar ditujukan untuk menghancurkan sebuah gudang, melainkan merupakan bagian dari upaya sistematis Ukraina dalam melemahkan kemampuan distribusi logistik Rusia melalui penghancuran pusat-pusat penyimpanan dan jaringan pendukungnya.
Kilang Minyak Ryazan Ikut Terbakar
Pada waktu yang hampir bersamaan, sasaran strategis lain juga dilaporkan terkena serangan.
Kilang Minyak Ryazan, salah satu fasilitas pengolahan minyak terbesar Rusia, mengalami ledakan yang diikuti kebakaran besar.
Fasilitas tersebut memiliki kapasitas pengolahan sekitar 17 juta ton minyak mentah per tahun, atau sekitar 5 persen dari total kapasitas pengilangan minyak Rusia.
Selama bertahun-tahun, kilang ini menjadi pemasok utama bahan bakar untuk kawasan Moskow dan wilayah Rusia bagian tengah, baik bagi kebutuhan sipil maupun militer.
Ini bukan pertama kalinya fasilitas tersebut menjadi target serangan Ukraina.
Sejak perang Rusia-Ukraina berlangsung, Kilang Ryazan telah beberapa kali diserang menggunakan drone jarak jauh. Bahkan pada pertengahan Mei 2026, salah satu serangan sebelumnya sempat memaksa sebagian operasi kilang dihentikan sementara akibat kerusakan pada fasilitas penting.
Serangan terbaru diperkirakan kembali memberikan tekanan terhadap produksi bahan bakar Rusia, terutama ketika negara tersebut masih menghadapi tantangan dalam menjaga keseimbangan antara pasokan dan permintaan energi domestik.
Serangan Meluas ke Puluhan Wilayah Rusia
Ryazan bukan satu-satunya wilayah yang menjadi sasaran.
Dalam 24 jam terakhir, jaringan serangan drone Ukraina dilaporkan menjangkau 63 wilayah di Rusia maupun wilayah yang berada di bawah kendali Rusia.
Sejumlah daerah strategis seperti Bryansk, Belgorod, Taganrog, hingga Rostov-on-Don dilaporkan mengalami aktivitas pertahanan udara yang intens ketika pasukan Rusia berusaha menghadang gelombang drone yang datang dari berbagai arah.
Dari keseluruhan operasi tersebut, sedikitnya 20 sasaran dilaporkan berhasil ditembus dan terkena serangan.
Skala operasi ini menunjukkan bahwa Ukraina kini mampu melaksanakan serangan terkoordinasi terhadap banyak target secara bersamaan, sehingga memaksa Rusia membagi perhatian dan sumber daya pertahanan udaranya ke berbagai wilayah dalam waktu yang sama.
Perang Asimetris Semakin Mendominasi
Perkembangan terbaru di medan perang menunjukkan bahwa konflik Rusia-Ukraina kini telah memasuki fase baru.
Jika pada awal perang pertempuran lebih banyak mengandalkan artileri berat, tank, dan pesawat tempur, kini perang semakin didominasi oleh penggunaan drone murah yang mampu memberikan dampak strategis terhadap infrastruktur penting.
Sebagian besar drone bunuh diri maupun drone serang jarak jauh yang digunakan Ukraina diperkirakan hanya bernilai sekitar 3.000 hingga 8.000 dolar Amerika Serikat per unit.
Drone-drone tersebut relatif murah, mudah diproduksi secara massal, serta dapat dirakit menggunakan komponen yang tersedia secara luas.
Sebaliknya, untuk menghentikan ancaman tersebut, Rusia sering kali harus mengerahkan sistem pertahanan udara strategis seperti S-300 maupun S-400.
Setiap rudal pencegat yang ditembakkan oleh sistem tersebut dapat bernilai hingga jutaan dolar Amerika Serikat.
Perbedaan biaya yang sangat besar ini menciptakan apa yang banyak analis sebut sebagai ketimpangan biaya paling mencolok dalam peperangan modern.
Dengan menghabiskan drone bernilai beberapa ribu dolar, Ukraina dapat memaksa Rusia menggunakan rudal pencegat yang harganya ratusan bahkan ribuan kali lebih mahal.
Dilema Besar bagi Rusia
Situasi tersebut menempatkan Moskow dalam posisi yang sulit.
Apabila seluruh drone dicegat, Rusia harus terus menguras anggaran pertahanan sekaligus menghabiskan stok rudal pertahanan udara yang produksinya membutuhkan waktu cukup lama.
Namun jika memilih membiarkan sebagian drone lolos, berbagai fasilitas strategis seperti kilang minyak, pangkalan militer, pusat logistik, jaringan rel kereta api, hingga infrastruktur energi berpotensi mengalami kerusakan besar yang nilainya dapat mencapai puluhan juta dolar.
Dengan kata lain, apa pun keputusan yang diambil, Rusia tetap menghadapi konsekuensi yang mahal.
Dukungan Intelijen Barat Dinilai Berperan Penting
Laporan Financial Times yang dipublikasikan pada 29 Juli 2026 menyebut bahwa badan intelijen Amerika Serikat dan Prancis memberikan dukungan intelijen yang sangat rinci kepada Ukraina.
Informasi tersebut disebut membantu operator drone Ukraina memilih rute penerbangan yang mampu menghindari konsentrasi pertahanan udara Rusia.
Selain itu, data intelijen juga diyakini memungkinkan Ukraina mengidentifikasi bagian-bagian paling vital di dalam fasilitas industri, termasuk pusat kendali, sistem otomatisasi, jaringan pipa utama, serta komponen penting lain yang apabila rusak akan menghentikan keseluruhan proses produksi.
Berbeda dengan tangki penyimpanan minyak yang relatif lebih mudah diperbaiki atau diganti, pusat kendali dan sistem kontrol industri merupakan komponen berteknologi tinggi yang diproduksi secara khusus melalui proses manufaktur presisi.
Apabila bagian-bagian tersebut hancur, pemulihan fasilitas dapat memakan waktu berbulan-bulan, bahkan lebih lama, karena memerlukan penggantian peralatan khusus yang tidak tersedia dalam jumlah besar.
Serangan di Ryazan memperlihatkan bahwa perang Rusia-Ukraina kini bukan lagi sekadar perlombaan jumlah tank atau pesawat tempur, melainkan telah berkembang menjadi persaingan menghancurkan infrastruktur industri, logistik, dan energi lawan secara presisi.
Dengan memanfaatkan drone berbiaya rendah namun didukung intelijen yang semakin canggih, Ukraina terus berupaya menekan kemampuan ekonomi dan militer Rusia, sementara Moskow dipaksa menghadapi dilema antara mempertahankan wilayahnya dengan biaya yang sangat besar atau menerima risiko kerusakan terhadap aset-aset strategis yang menjadi tulang punggung operasional negaranya. (***)





