Refleksi Sebuah Penamaan di Mata Seniman

kompas.id
4 jam lalu
Cover Berita

Nama bunga bangkai Rafflesia arnoldii diambil dari Thomas Stamford Raffles dan Joseph Arnold, dua tokoh Inggris yang terlibat dalam pendokumentasian spesies tersebut di Sumatera pada awal abad ke-19. Bunga ini menjadi contoh sederhana bahwa sebuah nama lebih dari sekadar penanda.

Di dalamnya tersimpan sejarah tentang siapa yang memiliki kuasa untuk memberi nama. Persoalan tentang penamaan itulah yang kemudian menjadi titik berangkat pameran bertajuk ”Menamai | Naming”. Pameran tunggal perempuan seniman Octora ini diselenggarakan di Gajah Gallery Jakarta hingga 23 Agustus.

Melalui fotografi, patung, karya berbasis sulam dan instalasi, Octora mengkaji bagaimana tindakan menamai membentuk cara kita memahami manusia, alam, dan sejarah. Dari sana, pameran ini menelusuri sistem pengetahuan yang diwariskan kolonialisme serta pengaruhnya terhadap cara kita melihat dunia.

Ketertarikan Octora terhadap persoalan ini berawal dari pengalaman pribadi, yaitu ketika ia menemukan selembar kertas yang disembunyikan ibunya. Kertas tersebut berisi peringatan mengenai kekerasan seksual terhadap perempuan peranakan pada Tragedi Mei 1998, lengkap dengan foto tubuh manusia yang rusak akibat kekerasan.

Bagi Octora, gambar itu terasa asing dan berjarak, sebagaimana trauma yang direpresentasikannya terasa jauh karena tidak pernah dibicarakan di dalam keluarga. Temuan tersebut mendorong Octora memikirkan kembali hubungan antara gambar dan cara seseorang memahaminya. Sebagai seniman dan peneliti, ia menyadari bahwa melihat tidak pernah menjadi tindakan yang sepenuhnya netral.

Setiap gambar lahir dari sudut pandang tertentu. Cara kita memaknainya juga dipengaruhi oleh pengetahuan, pengalaman, dan posisi masing-masing. Kesadaran inilah yang kemudian berkembang menjadi dasar praktik artistiknya. Dari titik ini, Octora mulai menelusuri cara pandang kolonial.

Dalam upaya menguasai wilayah jajahan, pemerintah kolonial menyusun sensus, peta, klasifikasi, dan penamaan untuk memahami masyarakat yang sangat beragam. Berbagai identitas kemudian disederhanakan ke dalam kategori yang lebih mudah dikenali dan diatur. Cara berpikir semacam itu terus diwariskan dan masih memengaruhi pola kita memahami fenomena sehari-hari hingga saat ini.

Fotografi, khususnya arsip foto dan dokumentasi etnografis, kemudian menjadi medium utama yang dipilih Octora untuk menelusuri warisan tersebut. Gambar-gambar arsip masyarakat lokal di masa kolonial itu dipotong, dianyam, lalu dirangkai kembali menjadi komposisi baru yang membuka kemungkinan pembacaan berbeda.

Arsip yang semula dipahami sebagai dokumen kemudian hadir sebagai ruang untuk mempertanyakan cara pandang yang membentuknya. Sebagian karyanya hanya menyajikan kain sulaman. Namun, ada pula yang dikombinasikan dengan patung berupa bentuk fase puncak dari bunga Rafflesia arnoldii.

Pendekatan tersebut salah satunya terwujud dalam ”The Flower That Remembers”, patung aluminium hasil kolaborasi pertama Octora dengan Yogya Art Lab (YAL) yang mengambil bentuk Rafflesia arnoldii. Karya ini menyajikan instalasi kelopak berwarna perak dari bahan aluminium solid membingkai sulaman bergambar sebuah mata dengan warna dasar marun.

Berkebalikan dengan karya utama itu, seri instalasi berjudul ”Olfactory Field” menampilkan tujuh kelopak bunga berwarna marun yang menjadi bingkai kain sulaman bergambar mata.

Sementara pada karya berjudul ”Monalisa dari Jawa,” Octora murni menyajikan potret perempuan zaman itu dengan tatapan mata yang kuat. Latar merah muda polos seakan memperkuat nuansa feminisme yang kontras dengan figur subyek yang menonjol. Potret-potret dalam kain sulam juga disajikan Octora dalam karya-karya lainnya.

Melalui ”Menamai | Naming”, Octora mengajak pengunjung untuk meninjau kembali hal-hal yang selama ini terasa akrab, mulai dari arsip fotografi hingga nama yang kita gunakan sehari-hari. Pameran ini memperlihatkan bahwa tindakan melihat, mengklasifikasikan, dan menamai selalu dipengaruhi oleh sejarah serta sistem pengetahuan yang membentuknya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Bareskrim Limpahkan Tersangka Kasus Ekstasi di Kelab Malam Bali
• 13 jam laludetik.com
thumb
Chairul Tanjung: Peserta Hoegeng Awards Terus Meningkat, Bukti Banyak Polisi Baik
• 15 jam laludetik.com
thumb
Dunia Dihantam Neraka Bolong, Sekjen PBB Beri Ramalan Mengerikan
• 46 menit lalucnbcindonesia.com
thumb
Budisatrio Djiwandono dan Gus Ipul Membuka Retret Nasional Karang Taruna untuk Perkuat Konsolidasi Organisasi
• 15 jam lalupantau.com
thumb
Cek Kesehatan Gratis Tak Berhenti pada Diagnosis, Pasien Didampingi hingga Pengobatan
• 3 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.