Jakarta (ANTARA) - Pelaku pasar aset kripto dalam negeri menyatakan terus menyermati kebijakan Federal Reserve (The Fed) yang kembali mempertahankan suku bunga acuannya di kisaran 3,50 – 3,75 persen yang berdampak pada harga Bitcoin.
Dampak keputusan The Fed, menurut Chief Marketing Officer Indodax Aloysia Dian, Bitcoin cenderung bertahan setelah hasil pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) diumumkan.
Hal itu, lanjut dia dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu mencerminkan bahwa keputusan The Fed telah sesuai dengan ekspektasi pasar. Meski demikian, pelaku pasar masih mencermati perkembangan data ekonomi yang akan menjadi acuan arah kebijakan moneter berikutnya.
Menurut dia pasar saat ini tidak hanya memperhatikan keputusan suku bunga yang bertahan, tetapi juga mencermati keseluruhan pesan yang disampaikan bank sentral, termasuk pandangan para pembuat kebijakan terhadap prospek ekonomi ke depan.
"Bagi pasar, yang terpenting bukan hanya apakah suku bunga dinaikkan atau dipertahankan, tetapi juga seberapa besar kepastian yang diberikan terhadap arah kebijakan berikutnya," ujarnya.
Harga Bitcoin di Market Indodax, tambahnya, masih bertahan sekitar Rp1.150.000.000 hingga Rp1.172.000.000 semenjak pengumuman The Fed hingga berita ini ditulis.
Aloysia menyatakan ketika hasil FOMC sesuai dengan ekspektasi, ruang bagi volatilitas akibat kejutan kebijakan cenderung berkurang, sehingga ini menunjukkan bahwa sentimen pasar terbentuk dari kombinasi berbagai faktor, bukan hanya satu indikator.
Menurutnya, kebijakan suku bunga The Fed memiliki pengaruh yang luas terhadap pasar keuangan global karena memengaruhi likuiditas, biaya pendanaan, serta preferensi investor terhadap aset berisiko, termasuk kripto.
Baca juga: BTC sentuh 65.500 dolar AS, sentimen pasar kripto dinilai membaik
Oleh karena itu, tambahnya, setiap perubahan arah kebijakan moneter Amerika Serikat umumnya turut memengaruhi pergerakan berbagai kelas aset, termasuk pergerakan Bitcoin.
Dikatakannya, keputusan The Fed sering menjadi salah satu faktor yang memengaruhi sentimen pasar. Namun, pergerakan pasar tidak ditentukan oleh satu faktor saja.
"Oleh karena itu, investor sebaiknya tetap disiplin menjalankan strategi investasinya dan tidak terpaku pada fluktuasi harga dalam jangka pendek, tetapi tetap disiplin menjalankan strategi investasi sesuai tujuan dan profil risikonya," katanya.
Dalam menghadapi kondisi pasar yang masih dinamis, investor juga dapat mempertimbangkan pendekatan investasi yang lebih teratur, seperti Dollar Cost Averaging (DCA), yaitu berinvestasi rutin secara berkala dengan nominal yang tetap.
Baca juga: Bittime: Negosiasi AS-Iran berpotensi jadi penentu arah pasar global
Strategi ini membantu mengurangi risiko melakukan pembelian pada satu titik harga tertentu (market timing) dan dapat menjadi salah satu pendekatan dalam meredam volatilitas pasar dalam jangka panjang.
“Melihat kondisi pasar saat ini, DCA dapat menjadi salah satu strategi yang relevan karena membantu investor berinvestasi secara bertahap di tengah volatilitas," katanya.
Namun, menurut dia apa pun strategi yang dipilih, investor tetap perlu Do Your Own Research (DYOR) agar keputusan investasi didasarkan pada pemahaman yang memadai.
Dampak keputusan The Fed, menurut Chief Marketing Officer Indodax Aloysia Dian, Bitcoin cenderung bertahan setelah hasil pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) diumumkan.
Hal itu, lanjut dia dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu mencerminkan bahwa keputusan The Fed telah sesuai dengan ekspektasi pasar. Meski demikian, pelaku pasar masih mencermati perkembangan data ekonomi yang akan menjadi acuan arah kebijakan moneter berikutnya.
Menurut dia pasar saat ini tidak hanya memperhatikan keputusan suku bunga yang bertahan, tetapi juga mencermati keseluruhan pesan yang disampaikan bank sentral, termasuk pandangan para pembuat kebijakan terhadap prospek ekonomi ke depan.
"Bagi pasar, yang terpenting bukan hanya apakah suku bunga dinaikkan atau dipertahankan, tetapi juga seberapa besar kepastian yang diberikan terhadap arah kebijakan berikutnya," ujarnya.
Harga Bitcoin di Market Indodax, tambahnya, masih bertahan sekitar Rp1.150.000.000 hingga Rp1.172.000.000 semenjak pengumuman The Fed hingga berita ini ditulis.
Aloysia menyatakan ketika hasil FOMC sesuai dengan ekspektasi, ruang bagi volatilitas akibat kejutan kebijakan cenderung berkurang, sehingga ini menunjukkan bahwa sentimen pasar terbentuk dari kombinasi berbagai faktor, bukan hanya satu indikator.
Menurutnya, kebijakan suku bunga The Fed memiliki pengaruh yang luas terhadap pasar keuangan global karena memengaruhi likuiditas, biaya pendanaan, serta preferensi investor terhadap aset berisiko, termasuk kripto.
Baca juga: BTC sentuh 65.500 dolar AS, sentimen pasar kripto dinilai membaik
Oleh karena itu, tambahnya, setiap perubahan arah kebijakan moneter Amerika Serikat umumnya turut memengaruhi pergerakan berbagai kelas aset, termasuk pergerakan Bitcoin.
Dikatakannya, keputusan The Fed sering menjadi salah satu faktor yang memengaruhi sentimen pasar. Namun, pergerakan pasar tidak ditentukan oleh satu faktor saja.
"Oleh karena itu, investor sebaiknya tetap disiplin menjalankan strategi investasinya dan tidak terpaku pada fluktuasi harga dalam jangka pendek, tetapi tetap disiplin menjalankan strategi investasi sesuai tujuan dan profil risikonya," katanya.
Dalam menghadapi kondisi pasar yang masih dinamis, investor juga dapat mempertimbangkan pendekatan investasi yang lebih teratur, seperti Dollar Cost Averaging (DCA), yaitu berinvestasi rutin secara berkala dengan nominal yang tetap.
Baca juga: Bittime: Negosiasi AS-Iran berpotensi jadi penentu arah pasar global
Strategi ini membantu mengurangi risiko melakukan pembelian pada satu titik harga tertentu (market timing) dan dapat menjadi salah satu pendekatan dalam meredam volatilitas pasar dalam jangka panjang.
“Melihat kondisi pasar saat ini, DCA dapat menjadi salah satu strategi yang relevan karena membantu investor berinvestasi secara bertahap di tengah volatilitas," katanya.
Namun, menurut dia apa pun strategi yang dipilih, investor tetap perlu Do Your Own Research (DYOR) agar keputusan investasi didasarkan pada pemahaman yang memadai.





