Yogyakarta, tvOnenews.com-Seniman sangat produktif dan maestro seni rupa Indonesia Nasirun meninggal dunia di Rumah Sakit AMC Muhammadiyah Yogyakarta pada Sabtu sekitar pukul 05.58 WIB. Salah seorang tetangga Nasirun, Bimo Aditya, di Perum Bayeman Permai, Onggobayan, Kalurahan Ngestiharjo, Kapanewon Kasihan, Kabupaten Bantul, Sabtu, membenarkan kabar duka tersebut.
"Benar, ini saya persiapan menuju ke rumah duka," katanya. Saat dihubungi sekitar pukul 08.00 WIB, Bimo mengatakan jenazah Nasirun masih berada di Rumah Sakit AMC Muhammadiyah Yogyakarta.
"Jenazah masih di RS AMC, informasinya jenazah akan dimakamkan di Makam Seniman Girisapto Imogiri, Bantul," ujarnya.
Menurut Bimo, kabar duka tersebut cukup mengejutkan karena dirinya masih sempat berbincang dengan Nasirun pada Jumat sore."Tapi memang akhir-akhir ini (Nasirun) mengeluh dada sakit dan ada asam lambung," katanya.
Berdasarkan informasi dalam surat berita lelayu, jenazah akan dimakamkan di Makam Seniman Girisapto Imogiri, Tilamat, Kalurahan Wukirsari, Kapanewon Imogiri, Kabupaten Bantul, pada Sabtu pukul 14.00 WIB.
Seniman produktif
Nasirun seniman Indonesia yang sangat produktif, karakter karyanya seperti dekoratif, karena tumbuh dalam tradisi membatik dari keluarganya. Ia menggambari apa saja, kanvas, pintu, mobil, peci, baju, kartu pos. Ia selalu dalam keadaan setiap hari dengan media yang berganti ganti.
Nasirun dikenal sebagai seniman sejak boom seni rupa pada 1990-an hingga 2000-an ketika karyanya banyak dikoleksi oleh kolektor. Salah satu kolektor yang cukup banyak memiliki karya Nasirun adalah dokter dan pencicip tembakau dari Magelang, Oei Hong Djien. Setelah dikoleksi OHD, harga luisan Nasirun melambung hingga miliaran rupiah. Karyanya ditunggu kolektor dari berbagai kota. Perlahan lahan seniman yang kuliah di ISI Yogyakarta dari ibunya yang menggadai daun pintu rumahnya seharga Rp 70 ribu untuk berangkat Yogyakarta jadi pelukis makmur dan mapan.
Rumahnya indah didesain oleh arsitek Eko Prawoto. Selain rumah Nasirun juga membangun museum untuk mengoleksi karya guru gurunya di ISi Yogyakarta. Karya guru gurunya tak hanya disimpan di museum, tetapi di halaman belakang rumahnya. Ia hidup nyentrik, tanpa memiliki telepon genggam, media sosial maupun rekening bank. Pekerjaannya selain melukis adalah menyapu halaman dan tidur siang.




