REPUBLIKA.CO.ID, JAKARA -- Video sekelompok lansia di Singapura yang melakukan parkour baru-baru ini viral di media sosial. Aktivitas tersebut juga dikenal sebagai geriatric parkour, yaitu bentuk latihan yang dirancang khusus untuk membantu lansia meningkatkan kemampuan fungsional tubuh agar lebih siap menghadapi aktivitas sehari-hari.
Dokter spesialis bedah ortopedi dan traumatologi Dr dr Mohammad Khumaidi Sp.OT menjelaskan bahwa geriatric parkour bukan sekadar aktivitas fisik biasa, melainkan latihan yang berfokus pada penguatan otot, keseimbangan, serta menjaga kemandirian lansia. Gerakannya dapat berupa melompat di bangku, merangkak, hingga berguling, dengan tujuan meningkatkan kemampuan tubuh dalam melakukan berbagai aktivitas.
Baca Juga
Viral Lansia Main Parkour, Spesialis Ortopedi Jelaskan Manfaat dan Risikonya
Lansia yang Hobi Jalan Cepat Lebih Sulit Pikun
Risiko Jatuh pada Lansia Bisa Dicegah, Dokter Ingatkan Pentingnya Deteksi Dini
Menurut dia, latihan fisik seperti ini menjadi penting karena risiko jatuh pada lansia cukup tinggi. Berdasarkan data Centers for Disease Control and Prevention (CDC), satu dari empat lansia memiliki risiko mengalami jatuh.
"Lansia tentu lebih berisiko jatuh. Kalau istilah di ortopedi itu ada istilah trivial fall yaitu jatuh dengan benturan rendah atau bukan high impact, seperti terpeleset atau tersandung. Tapi bagi lansia, ini tetap bisa mengakibatkan terjadinya fracture atau patah tulang," ujar dr Adib saat dihubungi Republika, Kamis (30/7/2026).
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Karena itu, penguatan otot melalui aktivitas fisik yang dilakukan secara rutin, intens, dan berkelanjutan dapat menjadi salah satu bagian dalam menjaga kekuatan tubuh dan tulang. Namun, dr Adib mengatakan geriatric parkour tidak bisa langsung dianggap sebagai latihan yang direkomendasikan untuk semua lansia.
Sebelum mengikuti tren tersebut, lansia harus terlebih dahulu menjalani evaluasi kondisi fisik. Hal pertama yang perlu diperiksa adalah kekuatan otot dan kondisi sendi.
"Karena seiring bertambahnya usia, berbagai sendi seperti pergelangan kaki, lutut, panggul, hingga tulang belakang dapat mengalami masalah, termasuk osteoartritis dengan tingkat keparahan yang berbeda-beda, entah itu grade 1,2,3 atau 4," kata dia.
Selain itu, kondisi tulang juga harus menjadi perhatian. Lansia perlu mengetahui apakah memiliki osteoporosis atau tidak melalui pemeriksaan kepadatan tulang atau bone densitometry. Jika hasil pemeriksaan menunjukkan adanya osteoporosis, maka hal tersebut harus menjadi pertimbangan sebelum melakukan aktivitas dengan gerakan yang cukup menantang.
"Dua hal ini harus menjadi perhatian terlebih dahulu pada para lansia yang ingin mengikuti gerakan-gerakan atau latihan-latihan parkour ini," kata dr Adib.
la menambahkan, keputusan untuk mengikuti geriatric parkour sebaiknya berdasarkan rekomendasi dokter. Jika hasil evaluasi menunjukkan kondisi lutut baik, kekuatan otot memadai, serta tidak terdapat osteoporosis, maka lansia dapat melakukan latihan tersebut.