SELAMA beberapa dekade, ukuran ilmu yang berdampak cenderung mengikuti logika ilmu eksakta.
Sebuah inovasi dianggap berhasil jika menghasilkan teknologi baru, obat baru, aplikasi baru, atau mesin baru. Dampaknya mudah dilihat, dihitung, dan dipamerkan.
Sebaliknya, ilmu sosial sering kali berhenti pada publikasi, teori, atau kritik terhadap realitas.
Padahal, masyarakat tidak hidup hanya dengan teknologi. Mereka hidup dalam sistem sosial, hukum, budaya, agama, politik, ekonomi, dan komunikasi.
Dan banyak persoalan besar justru muncul dari kegagalan mengelola dimensi-dimensi tersebut.
Menurut saya, ada beberapa sebab ilmu sosial kurang berdampak. Pertama, orientasi akademik selama ini masih terlalu kuat pada publikasi daripada penyelesaian masalah.
Kedua, penelitian sering selesai ketika artikel diterbitkan.
Baca juga: Retorika Prabowo Menurunkan Popularitas Sendiri
Ketiga, masyarakat tidak dilibatkan sejak awal. Keempat, pemerintah jarang menjadikan hasil penelitian sosial sebagai dasar desain kebijakan.
Selain empat hal di atas, banyak penelitian ilmu sosial berhenti pada rekomendasi normatif, seperti "perlu meningkatkan...", "harus memperkuat..." atau "disarankan melakukan..."
Padahal, yang dibutuhkan adalah bagaimana caranya.
Saya kira, tantangan terbesar ilmu sosial bukan kekurangan teori, melainkan kekurangan mekanisme transformasi teori menjadi rekayasa sosial (social engineering).
Sehubungan dengan itu, ilmu sosial harus bergeser dari explanatory science menjadi design science.
Baca juga: Hujan Kartu Kuning untuk Gaya Kepemimpinan KDM
Selama ini ilmu sosial lebih banyak menjawab pertanyaan, mengapa kemiskinan terjadi?
Tentu, semua ini penting, tetapi masyarakat juga membutuhkan jawaban tentang bagaimana kemiskinan dapat diturunkan, bagaimana sistem antikorupsi dirancang, bagaimana birokrasi diubah, dan bagaimana konflik dicegah sebelum terjadi?