Mengapa Pagi Hari di Musim Kemarau Terasa Lebih Dingin? Ini Penjelasan Ilmiahnya

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Banyak orang mengira musim kemarau identik dengan cuaca panas sepanjang hari. Namun, kenyataannya justru berbeda. Saat musim kemarau tiba, terutama di wilayah Indonesia bagian selatan seperti Jawa, Bali dan Nusa Tenggara, udara pada pagi hari sering kali terasa lebih dingin dibandingkan musim hujan.

Fenomena ini bukan sekadar perasaan, melainkan dapat dijelaskan secara ilmiah melalui proses yang terjadi di atmosfer. Perbedaan suhu yang cukup mencolok antara pagi dan siang hari merupakan karakteristik khas musim kemarau di daerah tropis.

Penyebab utama dinginnya udara pada pagi hari adalah minimnya tutupan awan saat musim kemarau. Pada malam hari, permukaan Bumi terus melepaskan panas yang telah diserap sepanjang siang melalui proses yang dikenal sebagai radiative cooling atau pendinginan karena radiasi.

Ketika langit cerah tanpa banyak awan, panas tersebut dapat dengan mudah lolos ke atmosfer dan ruang angkasa. Sebaliknya, pada musim hujan, awan berfungsi layaknya "selimut" yang memantulkan kembali sebagian panas ke permukaan sehingga suhu malam dan pagi tidak turun terlalu drastis. Akibatnya, suhu udara menjelang matahari terbit pada musim kemarau menjadi lebih rendah.

Selain itu, kelembapan udara yang lebih rendah pada musim kemarau juga berperan penting. Uap air di atmosfer memiliki kemampuan menyerap dan menyimpan panas. Ketika kandungan uap air berkurang, kemampuan atmosfer untuk mempertahankan panas juga menurun.

Oleh karena itu, udara menjadi lebih cepat mendingin pada malam hingga dini hari. Inilah alasan mengapa masyarakat yang tinggal di dataran tinggi maupun pedesaan sering merasakan udara pagi yang menusuk, meskipun pada siang harinya suhu dapat meningkat hingga lebih dari 30 derajat Celsius.

Menariknya, kondisi tersebut justru berbalik setelah Matahari terbit. Karena langit cerah dan hampir tidak ada awan yang menghalangi, radiasi Matahari dapat mencapai permukaan Bumi secara maksimal.

Permukaan tanah kemudian menyerap energi Matahari dan memanaskan udara di sekitarnya dengan cepat. Akibatnya, suhu udara meningkat tajam dari pagi menuju siang hingga sore hari.

Fenomena inilah yang menyebabkan musim kemarau memiliki amplitudo suhu harian yang lebih besar, yakni selisih antara suhu minimum pada pagi hari dan suhu maksimum pada siang hari lebih tinggi dibandingkan musim hujan.

Horizon Astronomy and Atmospheric Science Network (HASAN Institute) menjelaskan bahwa memahami penyebab ilmiah di balik udara pagi yang dingin saat musim kemarau membantu kita menyadari bahwa perubahan suhu tersebut merupakan bagian dari dinamika atmosfer yang normal.

Meski demikian, perbedaan suhu yang cukup ekstrem antara pagi dan siang hari dapat memengaruhi kenyamanan dan kesehatan, terutama bagi anak-anak, lansia, serta mereka yang memiliki penyakit pernapasan.

Menggunakan pakaian hangat saat beraktivitas pada pagi hari, menjaga daya tahan tubuh, dan tetap memenuhi kebutuhan cairan ketika suhu mulai meningkat pada siang hari merupakan langkah sederhana untuk beradaptasi dengan karakteristik musim kemarau.

Dengan memahami sains di balik fenomena ini, masyarakat tidak hanya memperoleh pengetahuan baru, tetapi juga dapat lebih bijak dalam menjaga kesehatan di tengah perubahan cuaca.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Lebih dari 50.000 Migran Masuk Ceuta, Mayoritas Kembali ke Maroko
• 9 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Prabowo: Negara Mana yang Maju Tapi Elitenya Ribut Terus, Tunjukkin ke Saya!
• 13 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
6 Kecamatan dan 9 Desa di Lumajang Dilanda Kekeringan, Warga Andalkan Bantuan Air Bersih
• 16 jam lalukompas.tv
thumb
Tingkatkan Kreativitas Siswa, Program Literasi Universitas Hasanuddin Hadirkan Pembelajaran Interaktif di SD Negeri 23 Bangkala Barat
• 21 jam laluharianfajar
thumb
Jadwal Piala Presiden 2026 Hari Ini: Big Match Persebaya vs Port FC hingga Persija Tantang PSMS
• 8 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.