Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kehutanan (Kemenhut) melaporkan kelahiran satu individu bayi orang utan sumatra (Pongo abelii) di Pusat Reintroduksi Orangutan Jantho di Cagar Alam (CA) Jantho, Kabupaten Aceh Besar, Aceh menjelang Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-81 Republik Indonesia.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni dalam keterangan dikonfirmasi dari Jakarta, Sabtu, mengatakan kehadiran bayi orang utan itu simbol harapan baru bagi keberlanjutan ekosistem hutan yang tak ternilai harganya.
Ia juga menekankan bahwa pemerintah berkomitmen untuk terus memperkuat upaya konservasi, menindak tegas perdagangan satwa liar ilegal, dan memastikan setiap orang utan yang dilepasliarkan memiliki kesempatan hidup, beradaptasi, dan berkembang biak di habitat alaminya.
Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh Kemenhut Ujang Wisnu Barata menjelaskan anak orang utan tersebut berasal dari induk bernama Wenda, yang sempat menjalani rehabilitasi sebelum hidup bebas di habitat alaminya sejak 2014.
Terkonfirmasi pada 29 Juli 2026, sekitar pukul 16.30 WIB, tim Post Release Monitoring (PRM) mendeteksi keberadaan satu individu orang utan betina dewasa tampak menggendong bayinya.
Setelah diamati lebih dekat orang utan tersebut Wenda sedang menggendong bayi yang diperkirakan bayinya berusia kurang dari sepekan dan berjenis kelamin betina. Tanda-tanda kehamilan mulai teridentifikasi sejak Januari 2026 melalui perubahan fisik yang diamati selama kegiatan pengamatan.
Baca juga: Menhut siapkan kawasan preservasi orangutan seluas 87 ribu hektare
Wenda merupakan orang utan yang dibawa ke Pusat Karantina dan Rehabilitasi Orangutan-SOCP Sibolangit pada 2009 saat masih berusia kurang lebih satu tahun. Pada 2013, Wenda dipindahkan ke Pusat Reintroduksi Jantho dan dilepasliarkan pada 2014.
Penambahan populasi satwa terancam punah itu, katanya, hasil sinergi antara pemerintah, mitra konservasi, dan masyarakat dalam menjaga kelestarian CA Jantho sebagai habitat orang utan sumatra.
"Komitmen untuk menjaga kelestarian CA Jantho sebagai habitat orang utan sumatra dengan memperkuat pengawasan, meningkatkan kolaborasi dengan mitra konservasi, serta melibatkan masyarakat dalam menjaga kawasan hutan dari ancaman perusakan dan perdagangan satwa liar. Keberhasilan ini adalah kerja bersama, dan kami percaya bahwa dengan sinergi semua pihak masa depan orang utan sumatra dan habitatnya akan tetap terjaga," katanya.
Dia menekankan bahwa kelahiran bayi orang utan di CA Jantho bukan hanya kabar gembira, tetapi juga pengingat bahwa menjaga hutan berarti menjaga kehidupan.
"Orang utan hanya bisa bertahan jika habitatnya tetap lestari," katanya.
Baca juga: Kemenhut umumkan kelahiran orangutan Badar di CA Jantho Aceh
Baca juga: Pusat rehabilitasi orang utan terancam dampak karhutla Kalbar
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni dalam keterangan dikonfirmasi dari Jakarta, Sabtu, mengatakan kehadiran bayi orang utan itu simbol harapan baru bagi keberlanjutan ekosistem hutan yang tak ternilai harganya.
Ia juga menekankan bahwa pemerintah berkomitmen untuk terus memperkuat upaya konservasi, menindak tegas perdagangan satwa liar ilegal, dan memastikan setiap orang utan yang dilepasliarkan memiliki kesempatan hidup, beradaptasi, dan berkembang biak di habitat alaminya.
Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh Kemenhut Ujang Wisnu Barata menjelaskan anak orang utan tersebut berasal dari induk bernama Wenda, yang sempat menjalani rehabilitasi sebelum hidup bebas di habitat alaminya sejak 2014.
Terkonfirmasi pada 29 Juli 2026, sekitar pukul 16.30 WIB, tim Post Release Monitoring (PRM) mendeteksi keberadaan satu individu orang utan betina dewasa tampak menggendong bayinya.
Setelah diamati lebih dekat orang utan tersebut Wenda sedang menggendong bayi yang diperkirakan bayinya berusia kurang dari sepekan dan berjenis kelamin betina. Tanda-tanda kehamilan mulai teridentifikasi sejak Januari 2026 melalui perubahan fisik yang diamati selama kegiatan pengamatan.
Baca juga: Menhut siapkan kawasan preservasi orangutan seluas 87 ribu hektare
Wenda merupakan orang utan yang dibawa ke Pusat Karantina dan Rehabilitasi Orangutan-SOCP Sibolangit pada 2009 saat masih berusia kurang lebih satu tahun. Pada 2013, Wenda dipindahkan ke Pusat Reintroduksi Jantho dan dilepasliarkan pada 2014.
Penambahan populasi satwa terancam punah itu, katanya, hasil sinergi antara pemerintah, mitra konservasi, dan masyarakat dalam menjaga kelestarian CA Jantho sebagai habitat orang utan sumatra.
"Komitmen untuk menjaga kelestarian CA Jantho sebagai habitat orang utan sumatra dengan memperkuat pengawasan, meningkatkan kolaborasi dengan mitra konservasi, serta melibatkan masyarakat dalam menjaga kawasan hutan dari ancaman perusakan dan perdagangan satwa liar. Keberhasilan ini adalah kerja bersama, dan kami percaya bahwa dengan sinergi semua pihak masa depan orang utan sumatra dan habitatnya akan tetap terjaga," katanya.
Dia menekankan bahwa kelahiran bayi orang utan di CA Jantho bukan hanya kabar gembira, tetapi juga pengingat bahwa menjaga hutan berarti menjaga kehidupan.
"Orang utan hanya bisa bertahan jika habitatnya tetap lestari," katanya.
Baca juga: Kemenhut umumkan kelahiran orangutan Badar di CA Jantho Aceh
Baca juga: Pusat rehabilitasi orang utan terancam dampak karhutla Kalbar





