PM Spanyol Minta Uni Eropa Gelar Rapat Darurat usai Krisis Migran Ceuta

metrotvnews.com
1 jam lalu
Cover Berita

Madrid: Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez meminta Uni Eropa (UE) menggelar pertemuan darurat para menteri dalam negeri menyusul krisis migran di wilayah Ceuta.

Dikutip dari Anadolu Agency, Sabtu, 1 Agustus 2026, ia menilai Spanyol menerima "dukungan yang sangat minim" dari sejumlah negara anggota selama lonjakan kedatangan puluhan ribu migran dari Maroko.

Dalam surat kepada Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen, Sanchez menyampaikan keprihatinannya atas respons beberapa pemerintah Eropa setelah sekitar 50.000 migran memasuki Ceuta, wilayah Spanyol di Afrika Utara yang berbatasan langsung dengan Maroko.

Sanchez meminta digelarnya konferensi video luar biasa para menteri dalam negeri Uni Eropa untuk menyusun respons bersama. Menurutnya, perlindungan terhadap perbatasan luar Uni Eropa merupakan tanggung jawab seluruh negara anggota.

Ia mengatakan pemerintah Spanyol berhasil memulihkan kendali perbatasan, memberikan bantuan kemanusiaan, memulangkan hampir seluruh migran yang masuk secara tidak sah, serta mencegah perpindahan mereka ke negara anggota Uni Eropa lainnya dalam waktu kurang dari 48 jam.

Menurut Sanchez, seluruh langkah tersebut dilakukan melalui koordinasi dengan pemerintah Maroko, tetapi tanpa dukungan yang memadai dari negara-negara anggota Uni Eropa lainnya.

Ia juga mengkritik usulan sejumlah pemerintah yang ingin sementara mengecualikan Spanyol dari kawasan Schengen. Menurutnya, gagasan tersebut lahir dari prasangka, disinformasi, ketidaktahuan, atau kepentingan politik, serta bertentangan dengan hukum Uni Eropa, hukum humaniter, dan prinsip solidaritas antarnegera anggota.

Sanchez menegaskan bahwa Ceuta memang merupakan wilayah Spanyol di pesisir Afrika Utara, tetapi tidak termasuk dalam kawasan Schengen. Ia juga menyebut Spanyol memiliki salah satu perbatasan eksternal Uni Eropa yang paling ketat berdasarkan data Badan Penjaga Perbatasan dan Pantai Eropa (Frontex).

Di akhir suratnya, Sanchez mendesak Komisi Eropa memastikan adanya respons yang cepat, efektif, dan terkoordinasi terhadap krisis tersebut.

Sementara itu, pemerintah Spanyol mengumumkan akan mulai membuka kembali secara bertahap perlintasan Beni Enzar di Melilla, wilayah kantong Spanyol lainnya di Afrika Utara yang berjarak sekitar 225 kilometer di sebelah timur Ceuta. Pembukaan dilakukan secara bertahap sesuai dengan perkembangan situasi keamanan sebagai bagian dari Operasi Crossing the Strait.

Kementerian Dalam Negeri Spanyol menyebut sedikitnya 67 orang meninggal dalam upaya mencapai wilayah Spanyol selama krisis tersebut. Hingga kini, lebih dari 48.000 dari hampir 50.000 migran yang memasuki Ceuta telah kembali ke Maroko.

Baca juga: Lebih dari 50.000 Migran Masuk Ceuta, Mayoritas Kembali ke Maroko


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Keringanan Pajak dan Peta Riset Pertanian Indonesia
• 5 jam lalukumparan.com
thumb
Termasuk Sopir Ambulans, 5 Saksi Diperiksa Polisi Terkait Kematian Sutrimo
• 12 jam laludetik.com
thumb
Bangun Soliditas Pranata Humas, Kemendagri Perkuat Konsolidasi-Kompetensi
• 23 jam laludetik.com
thumb
Jelang Muktamar, Eks Ketua PBNU: Pemilihan Pimpinan NU Bukan Sekadar Election
• 22 jam lalurctiplus.com
thumb
Sekjen PBB Sebut Konflik Teluk Berubah Menjadi Ancaman Stabilitas Global
• 10 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.