Ceuta (ANTARA) - Petugas kepolisian berjaga di pintu-pintu masuk supermarket di Kota Ceuta, kota otonom dan enklave Spanyol di Afrika Utara, setelah kerusuhan terjadi pada Jumat (31/7).
Menurut laporan koresponden RIA Novosti di Ceuta, Spanyol, Sabtu, para petugas ditempatkan langsung di pintu masuk toko untuk mengendalikan akses pengunjung.
Langkah-langkah tambahan terkait keamanan telah diterapkan guna mencegah upaya baru masuknya massa ke dalam supermarket.
Kerusuhan terjadi di dekat sejumlah gerai ritel pada Jumat, dengan kaca etalase mengalami kerusakan dan sekelompok orang berusaha masuk secara paksa ke dalam toko.
Beberapa toko di Ceuta ditutup sementara demi keamanan. Pihak berwenang pun kemudian memperketat pengamanan.
Langkah serupa tidak hanya diterapkan di supermarket, tetapi juga di apotek, restoran, dan hotel.
Petugas keamanan maupun pegawai hotel memeriksa para pengunjung di pintu masuk dan meminta informasi pribadi pengunjung sebelum diizinkan masuk.
Pada akhir Juli, Kota Ceuta menerima gelombang arus masuk besar-besaran para migran dari Maroko.
Pada Jumat, Wali Kota sekaligus Presiden Ceuta Juan Jesus Vivas mengatakan sekitar 60.000 orang dari Maroko telah memasuki wilayah kota tersebut hanya dalam waktu satu hari.
Kerusuhan pun terjadi di tengah krisis migrasi itu, sehingga pasukan tambahan dari kepolisian, Garda Sipil, dan militer dikerahkan.
Sumber: Sputnik
Baca juga: Gelombang migrasi di Ceuta, Prancis perketat perbatasan dengan Spanyol
Baca juga: Presiden Komisi Eropa dukung rapat darurat soal krisis Ceuta
Menurut laporan koresponden RIA Novosti di Ceuta, Spanyol, Sabtu, para petugas ditempatkan langsung di pintu masuk toko untuk mengendalikan akses pengunjung.
Langkah-langkah tambahan terkait keamanan telah diterapkan guna mencegah upaya baru masuknya massa ke dalam supermarket.
Kerusuhan terjadi di dekat sejumlah gerai ritel pada Jumat, dengan kaca etalase mengalami kerusakan dan sekelompok orang berusaha masuk secara paksa ke dalam toko.
Beberapa toko di Ceuta ditutup sementara demi keamanan. Pihak berwenang pun kemudian memperketat pengamanan.
Langkah serupa tidak hanya diterapkan di supermarket, tetapi juga di apotek, restoran, dan hotel.
Petugas keamanan maupun pegawai hotel memeriksa para pengunjung di pintu masuk dan meminta informasi pribadi pengunjung sebelum diizinkan masuk.
Pada akhir Juli, Kota Ceuta menerima gelombang arus masuk besar-besaran para migran dari Maroko.
Pada Jumat, Wali Kota sekaligus Presiden Ceuta Juan Jesus Vivas mengatakan sekitar 60.000 orang dari Maroko telah memasuki wilayah kota tersebut hanya dalam waktu satu hari.
Kerusuhan pun terjadi di tengah krisis migrasi itu, sehingga pasukan tambahan dari kepolisian, Garda Sipil, dan militer dikerahkan.
Sumber: Sputnik
Baca juga: Gelombang migrasi di Ceuta, Prancis perketat perbatasan dengan Spanyol
Baca juga: Presiden Komisi Eropa dukung rapat darurat soal krisis Ceuta





