Harga Perak Lagi "Ngambek", Bagaimana Proyeksi Pekan Depan?

cnbcindonesia.com
4 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga perak dunia kembali berakhir di zona merah setelah bergerak volatil sepanjang pekan ini. XAG/USD menutup perdagangan Jumat (31/7/2026) di US$57,63 per troy ons, turun US$0,53 atau 0,92% dibandingkan penutupan pekan sebelumnya di US$58,17.

Perak sebenarnya mengawali pekan dengan positif. Harga naik 0,41% ke US$58,41 pada Senin. Namun, penguatan tersebut langsung terhapus setelah harga anjlok 2,16% menjadi US$57,15 pada Selasa.

Perak kemudian pulih 0,87% menuju US$57,64 pada Rabu. Penguatan berlanjut pada Kamis dengan kenaikan 2,33% ke US$58,99, sekaligus menjadi penutupan tertinggi sepanjang pekan.

Sayangnya, reli tersebut tidak bertahan lama. Pada Jumat, perak kembali tertekan 2,29% dan menutup perdagangan di US$57,63.

Sepanjang pekan, penutupan tertinggi tercatat di US$58,99 dan terendah di US$57,15. Rentang pergerakannya mencapai US$1,84 atau sekitar 3,12%, menunjukkan volatilitas masih tinggi meskipun penurunan bersih secara mingguan relatif terbatas.

The Fed Belum Beri Angin Segar

Tekanan terhadap perak datang dari kebijakan bank sentral Amerika Serikat. The Federal Reserve mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,50%-3,75% dalam rapat 28-29 Juli.

Keputusan tersebut memang sesuai perkiraan pasar. Namun, tiga pejabat The Fed justru menginginkan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin.

The Fed juga menegaskan bahwa inflasi masih tinggi dibandingkan target 2%, antara lain akibat gangguan pasokan yang mendorong kenaikan harga energi. Sikap tersebut memperkuat kemungkinan suku bunga dipertahankan tinggi lebih lama.

Bagi perak, kondisi tersebut cenderung negatif. Logam mulia tidak memberikan imbal hasil sehingga menjadi kurang menarik ketika suku bunga dan imbal hasil obligasi berada pada level tinggi.

Pada akhir pekan, imbal hasil obligasi pemerintah AS juga kembali meningkat seiring kekhawatiran bahwa kenaikan harga minyak akan mempertahankan tekanan inflasi.

Geopolitik Belum Otomatis Mengangkat Perak

Ketegangan di Timur Tengah belum memberikan dorongan konsisten bagi perak sebagai aset aman. Pasar justru lebih mengkhawatirkan dampak konflik terhadap pasokan minyak dan perekonomian global.

Risiko gangguan pelayaran di Selat Hormuz masih menjadi perhatian utama. Jika ketegangan terus mendorong harga minyak, biaya transportasi dan produksi dapat ikut meningkat serta memperlambat proses penurunan inflasi.

Skenario tersebut berpotensi membuat The Fed mempertahankan kebijakan moneter ketat. Dampaknya, dolar AS dan imbal hasil obligasi dapat menguat sehingga kembali menekan harga perak.

Meskipun demikian, fundamental jangka panjang perak masih cukup kuat. Silver Institute memperkirakan pasar mengalami defisit 67 juta ons pada 2026, menjadi defisit tahunan keenam berturut-turut.

Investasi fisik juga diproyeksikan meningkat 20%. Namun, permintaan industri diperkirakan turun sekitar 2%, terutama akibat penghematan dan pengurangan penggunaan perak dalam industri panel surya.

Tren Jangka Pendek Masih Rapuh

Dari sisi teknikal, XAG/USD masih berada dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan bearish.

Rata-rata penutupan lima hari berada di US$57,96, sedikit lebih rendah dibandingkan rata-rata 10 hari sebesar US$58,06. Sementara itu, rata-rata 20 hari berada di US$58,31.

Harga penutupan Jumat di US$57,63 berada di bawah ketiga rata-rata tersebut. Kondisi ini menunjukkan momentum kenaikan belum cukup kuat dan rebound masih berisiko menjadi kenaikan teknikal sementara.

Namun, tekanan jual juga belum terlalu dominan. Indeks kekuatan relatif atau RSI 14 hari berada di sekitar 50, yakni wilayah netral dan belum menunjukkan kondisi jenuh jual.

Struktur harga terbaru turut memperlihatkan penyempitan rentang. Puncak US$58,99 masih lebih rendah daripada US$59,71 pada 22 Juli. Namun, lembah US$57,15 masih lebih tinggi dibandingkan US$56,42 pada 20 Juli.

Pola lower high dan higher low tersebut menunjukkan pasar sedang berkonsolidasi sebelum menentukan arah berikutnya.

Proyeksi Harga Perak Pekan Depan

Untuk perdagangan 3-7 Agustus 2026, XAG/USD diproyeksikan bergerak bearish-sideways dalam rentang US$56,42-US$59,71 per troy ons.

Area US$57,15 menjadi support terdekat sekaligus level penentu. Selama harga bertahan di atasnya, perak masih memiliki peluang rebound menuju US$58,41.

Sebaliknya, penutupan harian di bawah US$57,15 akan meningkatkan tekanan jual dan membuka jalan menuju US$56,42. Jika level tersebut ikut ditembus, target penurunan berikutnya berada di US$55,90-US$55,51.

Dari sisi atas, US$58,41 menjadi resistance pertama, kemudian US$58,99. Penembusan US$58,99 akan membuka peluang menuju US$59,71.

Pembalikan arah baru mendapatkan konfirmasi lebih kuat apabila XAG/USD mampu ditutup di atas US$59,71, dengan target berikutnya di sekitar US$59,84-US$60,01.

Bias perak masih negatif selama harga berada di bawah US$58,99. Data tenaga kerja AS, pergerakan dolar dan imbal hasil obligasi, harga minyak, serta perkembangan konflik Timur Tengah akan menjadi penentu utama pergerakan perak sepanjang pekan depan.

(gls/luc)

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pengamen Manusia Silver Tewas Dibunuh Teman di Probolinggo, 2 Pelaku Ditangkap di Kediri
• 10 jam lalurctiplus.com
thumb
iPhone Air 2 diperkirakan hadir dengan peningkatan chip dan kamera
• 2 jam laluantaranews.com
thumb
Presiden Prabowo Soroti Elite Ribut: Tunjukkan kepada Saya Negara Mana yang Berhasil?
• 18 jam lalukompas.tv
thumb
Respons Pemerintah dan DPR soal Anggaran MBG Harus Dipisah dari Anggaran Pendidikan
• 2 jam lalurctiplus.com
thumb
Jadi Calon Lawan Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026, India Malah Hadapi Brasil pada 3 Oktober 2026
• 19 jam lalubola.com
Berhasil disimpan.