Gresik (beritajatim.com)- Hujan dulu menjadi momok bagi Ahmad Yani (42). Nelayan asal Dusun Karangtumpuk, Desa Campurejo, Kecamatan Panceng, Gresik itu tak pernah benar-benar bisa menikmati malam ketika awan mulai gelap.
Rumah sederhana yang ditempatinya sejak kecil hanya berdinding triplek. Saat hujan turun, air tak hanya merembes dari atap, tetapi juga menyusup dari bawah lantai. Di tengah keterbatasan ekonomi, memperbaiki rumah hanyalah angan yang terus tertunda.
“Pingin renovasi, tapi belum mampu,” kenang Ahmad Yani, di sela-sela peresmian Kawasan Permukiman Melalui Dana Alokasi Khusus Tematik, Pengentasan Pemukiman Kumuh Terpadu (DAK TPPKT) oleh Menko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono, Sabtu (1/8/2026).
Sebagai nelayan, penghasilannya tak menentu. Saat cuaca bersahabat, ia bisa membawa pulang sekitar Rp200 ribu per hari. Namun, ketika angin timur datang, perahu lebih sering bersandar di darat dari pada melaut. Penghasilan pun ikut menghilang.
Di tengah kondisi itu, Ahmad Yani tetap menghidupi keluarga besarnya. Ia memiliki empat anak dan dua cucu yang selama bertahun-tahun merasakan hidup di rumah yang jauh dari kata layak.
Kini cerita itu berubah. Sudah dua bulan terakhir Ahmad Yani menempati rumah baru yang berdiri kokoh di kawasan permukiman Desa Campurejo. Rumah yang bersih, sehat, memiliki akses air bersih, listrik, hingga sistem pengolahan air limbah (IPAL) menjadi babak baru bagi keluarganya.
Perubahan tersebut merupakan bagian dari Program Penataan Kawasan Permukiman melalui Dana Alokasi Khusus Tematik Pengentasan Permukiman Kumuh Terpadu (DAK TPPKT) yang digagas Pemerintah Kabupaten Gresik.
Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani mengatakan, penataan kawasan kumuh bukan sekadar membangun rumah, tetapi menghadirkan kehidupan yang lebih bermartabat bagi masyarakat.
Desa Campurejo menjadi titik kedua pelaksanaan program setelah sebelumnya dilakukan di Desa Randuboto, Kecamatan Sidayu. Di kawasan ini, sebanyak 109 unit rumah dibangun melalui kolaborasi pendanaan dari DAK, APBD, CSR, serta program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH).
Menurut Gus Yani sapaan akrabnya, konsep yang dibangun tidak berhenti pada penyediaan hunian, tetapi juga menciptakan lingkungan yang sehat dan tertata melalui pembangunan saluran drainase, jaringan air bersih, listrik, hingga fasilitas sanitasi.
“Yang kita bangun bukan hanya rumah, tetapi kawasan tempat masyarakat bisa hidup lebih sehat, aman, dan memiliki masa depan yang lebih baik,” ujarnya.
Program tersebut juga memberi kesempatan warga memiliki rumah melalui skema relokasi. Masyarakat membeli lahan menggunakan fasilitas pinjaman sekitar Rp60 juta dari Bank Gresik dengan tenor hingga delapan tahun. Bahkan, sebagian warga telah berhasil melunasi cicilannya dan kini menetap di lingkungan yang jauh lebih layak.
Peresmian kawasan permukiman itu turut dihadiri Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono. Ia secara simbolis menyerahkan kawasan tersebut kepada masyarakat Desa Campurejo.
AHY mengaku terharu mendengar langsung kisah warga yang kini dapat tinggal di rumah layak setelah bertahun-tahun hidup di kawasan kumuh.
Menurutnya, kualitas hidup masyarakat memang harus dimulai dari rumah yang sehat dan lingkungan yang baik. Karena itu, kawasan seluas sekitar 17 hektare yang kini dihuni lebih dari 200 kepala keluarga tersebut dilengkapi berbagai fasilitas penunjang, mulai dari IPAL, jaringan air bersih, listrik hingga desain rumah yang lebih nyaman bagi keluarga.
Bagi Ahmad Yani yang berprofesi sebagai nelayan, rumah baru bukan sekadar bangunan berdinding bata. Rumah itu menjadi simbol berakhirnya kekhawatiran setiap kali hujan turun dan awal kehidupan yang lebih tenang bagi anak-anak serta cucunya.
Dari rumah triplek yang bocor, kini ia menatap masa depan dari teras rumah yang kokoh—sebuah perubahan yang lahir ketika program pemerintah benar-benar hadir menyentuh kehidupan masyarakat pesisir. [adv/dny]




