Ceuta (ANTARA) - Migran ilegal yang memasuki wilayah Ceuta, daerah otonom Spanyol di Afrika Utara, dilaporkan bersembunyi di berbagai lokasi untuk menghindari pemulangan ke Maroko.
Menurut koresponden RIA Novosti pada Sabtu, para migran ditemukan bersembunyi di bawah jembatan, di atap bangunan, di pantai, taman, saluran pembuangan, dan sejumlah lokasi lainnya.
Ratusan migran dilaporkan masih berada di kawasan pesisir dan jalan-jalan di dekat perbatasan. Mereka tersebar dalam kelompok-kelompok kecil sehingga menyulitkan aparat keamanan untuk menemukan seluruh pendatang ilegal tersebut.
Meskipun jumlah personel keamanan telah ditambah, jumlah migran yang berada di jalanan dan kawasan pesisir disebut jauh lebih besar dibandingkan jumlah patroli yang dikerahkan.
Banyak dari mereka tampak kelelahan dan membawa kantong kecil berisi makanan kering. Sebagian di antaranya mendatangi pejalan kaki untuk meminta makanan dan uang.
Warga setempat juga mulai menghindari kawasan pesisir di sekitar pos perbatasan Tarajal karena situasi yang masih tegang.
Pada akhir Juli, Ceuta mengalami lonjakan besar kedatangan migran dari Maroko. Wali Kota Ceuta, Juan Jesus Vivas, pada Jumat mengatakan sekitar 60.000 orang memasuki wilayah tersebut dalam kurun waktu 24 jam.
Krisis tersebut memicu kerusuhan di sejumlah lokasi di Ceuta. Pemerintah Spanyol kemudian mengerahkan tambahan personel kepolisian, Garda Sipil, dan militer ke wilayah itu.
Ceuta merupakan wilayah kantong Spanyol yang terletak di pesisir utara Afrika dan berbatasan langsung dengan Maroko. Bersama Melilla, wilayah tersebut menjadi satu-satunya perbatasan darat antara Uni Eropa dan Afrika serta dikenal sebagai salah satu jalur utama migrasi ilegal menuju Eropa.
Sumber: Sputnik
Baca juga: Polisi berjaga di supermarket Ceuta usai kerusuhan migran
Baca juga: Krisis Ceuta: 69.500 imigran kembali ke Maroko, korban 67 jiwa
Menurut koresponden RIA Novosti pada Sabtu, para migran ditemukan bersembunyi di bawah jembatan, di atap bangunan, di pantai, taman, saluran pembuangan, dan sejumlah lokasi lainnya.
Ratusan migran dilaporkan masih berada di kawasan pesisir dan jalan-jalan di dekat perbatasan. Mereka tersebar dalam kelompok-kelompok kecil sehingga menyulitkan aparat keamanan untuk menemukan seluruh pendatang ilegal tersebut.
Meskipun jumlah personel keamanan telah ditambah, jumlah migran yang berada di jalanan dan kawasan pesisir disebut jauh lebih besar dibandingkan jumlah patroli yang dikerahkan.
Banyak dari mereka tampak kelelahan dan membawa kantong kecil berisi makanan kering. Sebagian di antaranya mendatangi pejalan kaki untuk meminta makanan dan uang.
Warga setempat juga mulai menghindari kawasan pesisir di sekitar pos perbatasan Tarajal karena situasi yang masih tegang.
Pada akhir Juli, Ceuta mengalami lonjakan besar kedatangan migran dari Maroko. Wali Kota Ceuta, Juan Jesus Vivas, pada Jumat mengatakan sekitar 60.000 orang memasuki wilayah tersebut dalam kurun waktu 24 jam.
Krisis tersebut memicu kerusuhan di sejumlah lokasi di Ceuta. Pemerintah Spanyol kemudian mengerahkan tambahan personel kepolisian, Garda Sipil, dan militer ke wilayah itu.
Ceuta merupakan wilayah kantong Spanyol yang terletak di pesisir utara Afrika dan berbatasan langsung dengan Maroko. Bersama Melilla, wilayah tersebut menjadi satu-satunya perbatasan darat antara Uni Eropa dan Afrika serta dikenal sebagai salah satu jalur utama migrasi ilegal menuju Eropa.
Sumber: Sputnik
Baca juga: Polisi berjaga di supermarket Ceuta usai kerusuhan migran
Baca juga: Krisis Ceuta: 69.500 imigran kembali ke Maroko, korban 67 jiwa





