Tragedi Memilukan di Korea Selatan Ini Jadi Pelajaran Berharga

detik.com
2 jam lalu
Cover Berita
Jakarta -

Korea Selatan pernah menyaksikan tragedi yang sangat memilukan, yaitu runtuhnya gedung Sampoong Department Store. Bencana ini menewaskan lebih dari 500 orang.

Dikutip dari laporan jurnal karya Tae Won Park dari Departemen Teknik Arsitektur Universitas Dankook, bencana ini terjadi pada masa damai di Korea Selatan. Pusat perbelanjaan tersebut berlokasi di Seoul.

Pembangunan gedung dimulai pada Juli 1987 dan resmi dibuka untuk umum pada 7 Juli 1990. Selama lima tahun beroperasi, gedung ini mampu menarik sekitar 40.000 pengunjung setiap harinya.

Baca juga: Letusan Gunung yang Bikin Suhu Bumi Turun hingga 2 Tahun

Namun, pada April 1995, retakan kecil mulai muncul di langit-langit lantai lima. Kondisi memburuk pada 29 Juni 1995 ketika jumlah retakan bertambah secara mendadak. Pihak pengelola memilih menutup lantai atas dan mematikan pendingin udara (AC), tetapi enggan melakukan evakuasi karena tidak ingin kehilangan pendapatan dari pengunjung.

Tak lama kemudian, suara dentuman keras terdengar dari lantai atas. Getaran dari unit AC rupanya telah memperlebar retakan di pelat lantai hingga mencapai 10 cm.

Langit-langit lantai empat mulai merosot, dan pekerja baru memblokir akses pelanggan ke lantai tersebut. Ketika suara retakan besar kembali terdengar, alarm akhirnya dibunyikan dan evakuasi dimulai. Namun, segalanya sudah terlambat.

Atap gedung ambruk, unit AC jatuh menembus lantai lima, dan seluruh kolom pendukung di sayap selatan runtuh satu per satu. Gedung tersebut roboh total hingga ke lantai dasar hanya dalam kurun waktu 20 detik.

Tragedi ini berdampak sangat mengerikan. Catatan resmi menunjukkan 502 orang meninggal dunia dan 937 orang mengalami luka-luka. Peristiwa ini dicatat sebagai kecelakaan konstruksi bangunan paling mematikan di Korea Selatan, dengan kerugian diperkirakan mencapai lebih dari 100 miliar won.

Berdasarkan hasil penyelidikan, ambruknya gedung ini disebabkan oleh kombinasi kesalahan desain, kegagalan konstruksi, dan kelalaian manajemen.

Gedung tersebut mengadopsi sistem flat slab (pelat lantai tanpa balok). Masalah diperparah ketika lantai lima-yang awalnya dirancang sebagai arena sepatu roda-diubah fungsinya menjadi area restoran. Perubahan ini meningkatkan beban struktur hingga 50% akibat penggunaan peralatan dapur berat serta pemanas lantai.

Runtuhnya Sampoong Department Store menjadi pelajaran berharga bagi dunia konstruksi. Ambisi untuk meraup keuntungan semestinya tak pernah mengorbankan nyawa ratusan manusia.




(rdp/imk)

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Idgitaf Isi Soundtrack Home Sweet Loan The Musical, Hadirkan Lagu Baru
• 16 jam lalurepublika.co.id
thumb
2 Remaja Tewas Tenggelam di Sungai Bone Bolango Gorontalo
• 1 jam laludetik.com
thumb
KM Mutiara Sentosa 2 Terbakar di Perairan Sumenep, Penumpang Panik dan Berkumpul di Geladak
• 2 jam laludisway.id
thumb
Laporan Rizky Billar Berlanjut, Identitas Pemilik Akun Penyebar Hoaks Teridentifikasi
• 10 jam lalutabloidbintang.com
thumb
Jelang HUT ke-81 RI, Inilah Detik-detik Peristiwa Rengasdengklok hingga Proklamasi Kemerdekaan RI
• 10 jam lalugrid.id
Berhasil disimpan.