Havana: Wilayah ibu kota dan lima provinsi di Kuba bagian barat kembali dilanda pemadaman listrik besar sepanjang Sabtu, setelah jaringan listrik nasional mengalami gangguan yang menyebabkan sebagian wilayah negara itu kehilangan pasokan energi.
Perusahaan listrik milik negara, Unión Eléctrica (UNE), menyatakan lima dari 15 provinsi di Kuba mengalami pemadaman akibat "keruntuhan parsial" jaringan listrik yang terjadi sekitar pukul 18.07 waktu setempat.
Gangguan terbaru ini terjadi di tengah krisis ekonomi terburuk yang dialami Kuba dalam beberapa dekade terakhir. Pemerintah Kuba menyebut kondisi tersebut semakin memburuk akibat blokade bahan bakar yang diberlakukan Amerika Serikat sejak Januari di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump.
Dikutip dari Hurriyet Daily News, Minggu, 2 Agustus 2026, UNE menjelaskan kelangkaan bahan bakar membuat sistem kelistrikan nasional semakin rentan mengalami gangguan. Kondisi itu juga menghambat pengoperasian generator darurat yang sebagian besar bergantung pada pasokan solar.
Dalam beberapa pekan terakhir, pemadaman listrik di Havana dilaporkan berlangsung lebih dari 30 jam. Di sejumlah wilayah lain, warga bahkan harus menghadapi pemadaman selama beberapa hari berturut-turut.
Sejak awal 2026, Kuba telah mengalami lima kali pemadaman listrik berskala nasional. Tiga di antaranya terjadi hanya dalam rentang 10 hari selama Juli. Jika dihitung sejak akhir 2024, jumlah pemadaman nasional telah mencapai 10 kali. Warga Keluhkan Pemadaman Pemadaman berkepanjangan semakin membebani kehidupan sehari-hari masyarakat Kuba.
"Kami hidup seperti kunang-kunang, selalu berada dalam kegelapan. Kami tidak pernah tahu kapan listrik akan menyala. Inilah kenyataan pahit kami," kata Julian Gonzalez, seorang tukang kayu berusia 72 tahun.
Gonzalez, seperti banyak warga Havana lainnya yang tinggal di sekitar kawasan pesisir Malecon, memilih menghabiskan waktu di luar rumah untuk mencari udara segar.
"Lebih baik berada di luar daripada duduk di rumah sambil kesal," ujarnya. Kuba dan AS Saling Menyalahkan Pemerintah Kuba menyalahkan sanksi dan kebijakan Amerika Serikat sebagai penyebab memburuknya sistem kelistrikan nasional. Sebaliknya, Washington menilai akar persoalan berada pada salah urus ekonomi oleh pemerintah Kuba.
Tujuh pembangkit listrik tenaga termal yang menjadi tulang punggung sistem kelistrikan Kuba telah beroperasi lebih dari 40 tahun dan sebagian besar berada dalam kondisi yang memerlukan perbaikan.
Hubungan Havana dan Washington semakin memburuk sejak awal tahun, terutama setelah Amerika Serikat membawa Presiden Venezuela Nicolas Maduro ke wilayahnya untuk menghadapi dakwaan pidana federal. Maduro selama ini dikenal sebagai salah satu sekutu utama Kuba.
Di tengah tekanan tersebut, Amerika Serikat hanya mengizinkan satu kapal tanker Rusia yang membawa sekitar 100.000 ton minyak mentah memasuki Kuba pada Maret lalu. Cadangan tersebut kini dilaporkan telah habis.
Selain membatasi pasokan minyak, pemerintahan Trump juga memperluas sanksi terhadap perusahaan-perusahaan milik negara Kuba, sehingga mendorong sejumlah perusahaan asing menghentikan operasinya di negara tersebut.
Menghadapi tekanan ekonomi yang semakin berat, parlemen Kuba mengesahkan berbagai reformasi berorientasi pasar untuk mengurangi peran negara dalam perekonomian serta menarik investasi di sektor perbankan, pariwisata, hingga pertanian.
Pada 29 Juli lalu, pemerintah juga mengumumkan akan membuka sejumlah sektor strategis bagi swasta, termasuk pengelolaan SPBU, pembangkit listrik, layanan pengangkutan sampah, dan apotek.
Baca juga: Kuba Alami Pemadaman Listrik Nasional Ketiga dalam Kurang dari Dua Pekan




