Natalius Pigai Rekomendasikan Buku Karya Orang Barat, Apa Alasannya?

kompas.com
1 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai merekomendasikan karya penulis Barat untuk dibaca anak muda. Apa alasannya?

Pigai beralasan, rekomendasinya saat itu didasarkan pada pengalaman menulis sejak muda.

Pigai mengaku pernah mendapat rekomendasi buku bacaan yang harus ia baca dari penulis kenamaan Romo Mangunwijaya. Ia juga pernah ditantang menulis oleh orang yang sama.

Adapun pernyataan tersebut diungkapkan Pigai melalui laman akun X dan Instagram pribadinya, disertai dengan foto sejumlah buku yang berhasil ia tulis, Minggu (2/7/2026).

"Mengapa saya berkomentar soal buku dan karya cipta yang wajib dibaca oleh generasi muda dan saat ini mendapat beragam reaksi publik," kata Pigai dalam unggahannya.

Baca juga: Ide Dedi Mulyadi soal Sayembara Tangkap Begal Ditolak Yusril dan Pigai

Pigai menjelaskan bahwa dulu saat berada di Yogyakarta, dia mendapat rekomendasi pustaka dari rohaniawan, budayawan, dan aktivis kenamaan Yusuf Bilyarta (YB) Mangunwijaya alias Romo Mangun.

"Buku pertama ini saya menulis karena dididik dan ditantang oleh penulis kenamaan Indonesia berkelas dunia Romo Mangunwijaya di Gang Kuwera Nomor 12 Gejayan. Beliau pula yang mengajarkan saya buku seperti apa yang saya harus baca," imbuh Pigai.

Dia lantas mengingat tantangan Romo Mangun terhadap dirinya untuk menulis karya yang objektif tentang Papua meskipun Pigai sendiri adalah orang Papua.

“Natalius kau bisa enggak nulis buku sejarah papua tetapi objektif? tidak boleh melibatkan perasaanmu sebagai orang Papua agar isinya berkualitas dan objektif?” kata Romo Mangun kepada Pigai sebagaimana diceritakan Pigai.

Kartono Ryadi JB Mangunwijaya.

Karena tantangan tersebut, Pigai mengungkapkan, ia menjadi salah satu penulis termuda Indonesia yang menulis buku ilmiah populer di luar sastra pada umur 21 tahun.

Pigai memamerkan buku karyanya yang berjudul "Evolusi Nasionalisme dan Sejarah Konflik Politik di Papua" itu pula yang mengantarkannya menjadi Staf Khusus Menteri di usia yang masih muda.

Ia lalu bercerita, buku tersebut diterbitkan pada tahun 1999 oleh penerbit nasional Pustaka Sinar Harapan Jakarta. Peluncurannya dilakukan di sebuah hotel di Yogyakarta yang dihadiri paling sedikit lima orang duta besar.

"Buku Evolusi sudah diulas di berbagai bahasa dan ada di berbagai perpustakaan di seluruh dunia," beber Pigai.

Mengapa Saya berkomentar soal buku dan karya cipta yang wajib dibaca oleh generasi muda dan saat ini mendapat beragam reaksi publik.

Buku pertama ini saya menulis karena dididik & ditantang oleh penulis kenamaan Indonesia berkelas dunia Romo Mangunwijaya di Gg Kuwera Nomor 12… pic.twitter.com/QtnMBuHtu7

— NataliusPigai (@NataliusPigai2) August 2, 2026

Tak cuma itu, Pigai juga memperlihatkan sejumlah karya lain yang ia tulis, yakni buku berjudul "Migrasi Tenaga Kerja Internasional".

Buku itu, kata Pigai, sudah jadi referensi di berbagai universitas baik luar maupun dalam negeri.

"Hasilnya karena buku ini hari ini, saya menjadi satu diantara 39 Menteri dari 287 juta penduduk Indonesia. Jadi saya bukan anak karbitan kemarin sore ikuti perkembangan ilmu pengetahuan di negeri ini," beber dia.

Menteri HAM RI Natalius Pigai membagikan rekomendasi bacaan untuk meningkatkan literasi.

Menurutnya, jika belum bisa membaca buku berbahasa Inggris, versi terjemahannya tetap bisa menjadi pilihan. Ia juga mengajak anak-anak Indonesia untuk membiasakan diri datang ke perpustakaan… pic.twitter.com/th7ZOVw3hb

— Kompas.com (@kompascom) July 29, 2026 Pigai rekomendasikan buku karya Barat

Menteri HAM Natalius Pigai merekomendasikan masyarakat dan anak-anak Indonesia untuk membaca buku-buku yang dikarang oleh penulis dari luar negeri atau versi terjemahannya.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Ia beralasan bahwa buku yang ditulis orang Barat lebih objektif. Selain itu, ia mendorong publik untuk membiasakan diri membaca dan datang ke perpustakaan.

"Rekomendasi untuk anak-anak Indonesia, baca saja buku yang dikarang oleh orang Barat atau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Kalau tidak bisa dalam bahasa Inggris, bahasa Indonesia. Kenapa? Karena kalau orang Indonesia nulis itu sesuai versinya dan subjektif," tutur Pigai.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Dukung Program Prioritas Presiden, Mendagri Tito Groundbreaking Sekolah Rakyat Biak Numfor
• 22 jam laluliputan6.com
thumb
Shin Tae-yong Beri Pujian Setinggi Langit untuk Persija
• 4 jam lalumedcom.id
thumb
Lama Hilang dari Dunia Keartisan, Aura Kasih Tak Gengsi Kelola Peternakan Ayam: Aku Dasarnya Orang Kampung
• 9 jam lalugrid.id
thumb
Ekonom menilai insentif otomotif dorong produksi EV nasional
• 4 jam laluantaranews.com
thumb
Unai Emery dan Kiper Aston Villa Terpukau Atmosfer SUGBK, Suporter Indonesia Banjir Pujian
• 15 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.