Metro Community: Memanfaatkan Barang Sekitar Jadi Alat Musik

metrotvnews.com
1 jam lalu
Cover Berita

Komunitas Nabuh Bareng Jakarta lahir dari kesuksesan komunitas Nyanyi Bareng Jakarta atau lebih dikenal dengan NBJ. Ide pendirian Nabuh Bareng muncul sebagai upaya mengembangkan komunitas dengan aktivitas baru yang masih berkaitan dengan musik. 

Melalui komunitas ini, warga diajak berani mencoba hal baru sekaligus membangun pertemanan dengan sesama peserta.

"Kami mulainya dari Nyanyi Bareng Jakarta sebenarnya, dan kita bersyukur kita cukup sukseslah mengadakan itu Nyanyi Bareng Jakarta. Jadi kita berpikir minat apa lagi yang bisa kita kembangkan untuk menjadi sebuah komunitas gitu. Dan sebenarnya ide ini udah ada dari tahun lalu, waktu NBJ baru mulai jalan, Nyanyi Bareng Jakarta mulai jalan," kata Co-Founder Nabuh Bareng Jakarta, Jusuf Winardi, dalam segmen Metro Community Metro TV, Minggu, 2 Agustus 2026.

"Saya berpikir ama teman-teman apa lagi ya? Oh kayaknya kalau nabuh menarik nih ya gitu sesuatu yang berbeda, masih berhubungan dengan musik. Jadi sebenarnya kita lebih mengembangkan dari sisi minat apa lagi yang bisa kita kembangkan sebagai komunitas. Idenya dari situ sebenarnya," katanya.
 

Baca Juga :

Metro Community: Belajar Sejarah dengan Berkunjung ke Kuburan


Perabotan rumah tangga seperti sendok, tumbler, hingga ember dipilih sebagai alat musik bukan tanpa alasan. Benda-benda ini dipilih sebagai instrumen karena melambangkan hal-hal yang sering terlupakan atau tidak terpakai untuk kemudian dihidupkan kembali menjadi sumber bunyi dan kebahagiaan.

"Jadi kita berpikir alat-alat rumah tangga kan banyak yang nggak dipakai tumbler atau mungkin ada apa tuh tempat makanan, sering kali tidak terpakai dan terbengkalai di rumah. Sementara kalau kita melihat ke dalam rumah kita, dalam diri kita mungkin ada hal-hal yang terbengkalai yang mungkin sudah kita pikir tidak bernilai. Tapi ternyata mungkin menarik ketika kita angkat lagi kita bisa mencari sesuatu yang fun dengan alat-alat atau hal-hal yang terbengkalai dalam hidup kita itu, gitulah filosofinya," kata Jusuf.

Filosofi itu pun terasa saat sesi berlangsung. Antusiasme peserta menjadi kepuasan tersendiri bagi Jusuf dan tim Nabuh Bareng lantaran bisa menyediakan wadah bagi warga untuk meluapkan emosi yang selama ini terpendam. Para peserta pun mengaku energinya terisi kembali setelah bermain musik bersama Nabuh Bareng di sela-sela kesibukan.

"Jadi menurutku ini sangat-sangat sebagai media yang positif ya untuk kita bisa melepas penat, melepas 
emosi juga dalam konteks bisa bertemu teman-teman baru yang punya passion yang sama dalam musik ataupun menabuh seperti itu," kata Tama, salah satu peserta.

Bagi tim Nabuh Bareng, musik tak sekadar menghasilkan irama. Lebih dari itu mereka berharap komunitas ini menjadi ruang yang mempertemukan lebih banyak orang dan menyebarkan kebahagiaan. Komunitas ini terbuka bagi masyarakat umum berusia minimal 13 tahun dengan biaya dukungan untuk komunitas sebesar Rp150 ribu per satu kali pertemuan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pedestrian Deck Dukuh Atas: Menembus Batas Ruang, Menuju Ikon Baru Jakarta
• 7 jam lalukumparan.com
thumb
LCC Empat Pilar MPR RI Sumbar Resmi Dibuka, Sembilan Sekolah Bersaing
• 22 jam laludetik.com
thumb
BMKG Minta Waspadai El Nino Kuat dan Puncak Kemarau
• 4 jam lalumetrotvnews.com
thumb
DPRD DKI sepakat usulan obligasi Rp3,5 triliun dibahas di Banggar
• 7 jam laluantaranews.com
thumb
Sahroni Tegaskan Komitmen Komisi III Matangkan RUU Perampasan Aset
• 23 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.