Makassar (ANTARA) - Tim Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) Himpunan Mahasiswa Kedokteran Hewan (Himakaha) Universitas Hasanuddin (Unhas) menghadirkan program OCEANS (One Health Coastal Environment and Nutrition Sustainability) sebagai strategi pengendalian faktor risiko stunting yang memanfaatkan potensi dan karakteristik wilayah pesisir.
Ketua Tim PPK Ormawa Himakaha Unhas Rahmat Satrio di Makassar, Minggu, mengatakan program tersebut dikembangkan melalui pendekatan One Health yang mengintegrasikan aspek kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan kesehatan lingkungan untuk mendukung upaya pencegahan stunting secara berkelanjutan.
Menurut dia, keterlibatan mahasiswa kedokteran hewan dalam program tersebut berangkat dari keilmuan veteriner yang memiliki keterkaitan erat dengan kesehatan masyarakat.
"Persoalan stunting dan diare berkaitan dengan keamanan pangan, kesehatan lingkungan, dan kesehatan manusia yang saling mempengaruhi," ujar Rahmat.
Konsep One Health diterapkan melalui serangkaian intervensi yang saling melengkapi. Pada aspek pangan, tim memanfaatkan ikan nila hasil budidaya bioflok sebagai sumber protein untuk makanan pendamping ASI (MPASI).
Pada aspek kesehatan masyarakat, mahasiswa memperkuat edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) untuk mengurangi risiko penyakit infeksi.
Sementara pada aspek lingkungan, program tersebut mendorong peningkatan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya sanitasi sebagai bagian dari upaya pencegahan stunting.
"Melalui pendekatan One Health, kami berkontribusi dalam mendorong keamanan pangan asal hewan, edukasi kesehatan lingkungan, serta kolaborasi lintas disiplin untuk mendukung peningkatan kualitas kesehatan masyarakat," lanjut Rahmat.
Sebagai upaya menjaga keberlanjutan program, tim mengembangkan aplikasi GiziTa yang dapat dimanfaatkan masyarakat untuk memantau status gizi secara mandiri tanpa bergantung pada kehadiran mahasiswa.
Selain itu, pelatihan bagi kader Posyandu juga dilakukan untuk memperkuat kemampuan deteksi dini stunting sehingga pendampingan dapat terus dilanjutkan oleh masyarakat setempat.
Rahmat mengatakan pengalaman pelaksanaan program di Desa Popo, Takalar District, South Sulawesi, menunjukkan bahwa ketersediaan sumber protein hewani merupakan modal penting dalam pencegahan stunting.
Namun, menurut dia, manfaat sumber protein tersebut perlu didukung oleh lingkungan yang sehat, perilaku hidup bersih, keamanan pangan, serta keterlibatan aktif masyarakat agar dapat memberikan dampak optimal terhadap tumbuh kembang anak.
Baca juga: BGN: Daerah dengan stunting tinggi jadi prioritas Program MBG
Baca juga: BGN fokuskan pembangunan SPPG di daerah stunting tinggi
Ketua Tim PPK Ormawa Himakaha Unhas Rahmat Satrio di Makassar, Minggu, mengatakan program tersebut dikembangkan melalui pendekatan One Health yang mengintegrasikan aspek kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan kesehatan lingkungan untuk mendukung upaya pencegahan stunting secara berkelanjutan.
Menurut dia, keterlibatan mahasiswa kedokteran hewan dalam program tersebut berangkat dari keilmuan veteriner yang memiliki keterkaitan erat dengan kesehatan masyarakat.
"Persoalan stunting dan diare berkaitan dengan keamanan pangan, kesehatan lingkungan, dan kesehatan manusia yang saling mempengaruhi," ujar Rahmat.
Konsep One Health diterapkan melalui serangkaian intervensi yang saling melengkapi. Pada aspek pangan, tim memanfaatkan ikan nila hasil budidaya bioflok sebagai sumber protein untuk makanan pendamping ASI (MPASI).
Pada aspek kesehatan masyarakat, mahasiswa memperkuat edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) untuk mengurangi risiko penyakit infeksi.
Sementara pada aspek lingkungan, program tersebut mendorong peningkatan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya sanitasi sebagai bagian dari upaya pencegahan stunting.
"Melalui pendekatan One Health, kami berkontribusi dalam mendorong keamanan pangan asal hewan, edukasi kesehatan lingkungan, serta kolaborasi lintas disiplin untuk mendukung peningkatan kualitas kesehatan masyarakat," lanjut Rahmat.
Sebagai upaya menjaga keberlanjutan program, tim mengembangkan aplikasi GiziTa yang dapat dimanfaatkan masyarakat untuk memantau status gizi secara mandiri tanpa bergantung pada kehadiran mahasiswa.
Selain itu, pelatihan bagi kader Posyandu juga dilakukan untuk memperkuat kemampuan deteksi dini stunting sehingga pendampingan dapat terus dilanjutkan oleh masyarakat setempat.
Rahmat mengatakan pengalaman pelaksanaan program di Desa Popo, Takalar District, South Sulawesi, menunjukkan bahwa ketersediaan sumber protein hewani merupakan modal penting dalam pencegahan stunting.
Namun, menurut dia, manfaat sumber protein tersebut perlu didukung oleh lingkungan yang sehat, perilaku hidup bersih, keamanan pangan, serta keterlibatan aktif masyarakat agar dapat memberikan dampak optimal terhadap tumbuh kembang anak.
Baca juga: BGN: Daerah dengan stunting tinggi jadi prioritas Program MBG
Baca juga: BGN fokuskan pembangunan SPPG di daerah stunting tinggi





