PT Indika Energy Tbk (INDY) membukukan laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$10,2 juta pada semester I-2026, melonjak dari US$2,2 juta pada periode yang sama tahun lalu.
Kinerja tersebut ditopang pertumbuhan pendapatan sebesar 19,9% menjadi US$1,15 miliar, didorong peningkatan kontribusi dari sejumlah lini usaha utama.
Pendapatan perseroan meningkat menjadi US$1,146,9 miliar dari US$956,8 juta pada semester I-2025. Pertumbuhan tersebut terutama berasal dari kontribusi yang lebih tinggi dari Kideco Jaya Agung (Kideco), Tripatra, Interport Mandiri Utama (Interport), serta Indika Indonesia Resources.
Kontributor terbesar pendapatan masih berasal dari Kideco yang membukukan pendapatan US$855,1 juta atau naik 10,2% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Peningkatan tersebut ditopang kenaikan harga jual rata-rata sebesar 6,8% menjadi US$54,7 per ton serta kenaikan volume penjualan 2,4% menjadi 14,8 juta ton.
Sebanyak 43,5% penjualan Kideco diserap pasar domestik, sementara 56,5% diekspor.
Di sisi lain, Tripatra mencatat pertumbuhan pendapatan 41,3% menjadi US$167,4 juta, sedangkan Interport meningkat 57,9% menjadi US$86,7 juta.
Indika Indonesia Resources juga membukukan kenaikan pendapatan 79,4% menjadi US$42,7 juta, ditopang lonjakan volume perdagangan batu bara dan penjualan batu bara berkalori lebih tinggi.
Seiring pertumbuhan pendapatan, laba kotor perseroan meningkat 36,5% menjadi US$181,2 juta, sedangkan laba usaha melonjak 82,9% menjadi US$99 juta dengan marjin laba usaha naik menjadi 8,6% dari 5,7%.
Adjusted EBITDA juga tumbuh 43,8% menjadi US$139,1 juta dibandingkan US$96,8 juta pada semester I-2025.
Baca Juga: INDY Bungkam Rumor Jual Kideco, Manajeman Malah Ungkap Saat Ini Masih Sumbang 72,8% Pendapatan
Baca Juga: Pertamina Pastikan Distribusi Energi di Jawa Bagian Barat Tetap Andal
Direktur Utama dan Group CEO Indika Energy, Azis Armand, mengatakan kinerja semester I-2026 mencerminkan penguatan operasional di berbagai lini bisnis perseroan.
"Pada saat yang sama, alokasi lebih dari 99% belanja modal ke bisnis non-batubara, terutama pengembangan proyek Awak Mas, menegaskan disiplin kami dalam membangun portofolio yang lebih terdiversifikasi, resilien, dan berkelanjutan," tutur Azis Armand dalam keterangan resemi, Minggu (2/8/2026).





