Industri Aesthetic Medicine Indonesia Tumbuh Pesat, Dokter Soroti Perubahan Pola Pikir Pasien

tvonenews.com
6 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, tvOnenews.com - Industri aesthetic medicine di Indonesia terus berkembang seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap perawatan berbasis teknologi yang dinilai lebih aman, minim invasif, dan memberikan hasil yang tampak natural.

Namun di balik pertumbuhan tersebut, para dokter melihat adanya perubahan yang lebih mendasar: pasien kini tidak lagi hanya mengejar tampilan yang lebih muda, melainkan juga kenyamanan, keamanan, dan kesesuaian perawatan dengan kondisi tubuh serta gaya hidup mereka.

Perubahan preferensi itu mendorong semakin banyak klinik estetika menggabungkan pendekatan medis dengan konsep wellness yang lebih menyeluruh. Co-Founder MAC, Liza Suwandi, mengatakan bahwa konsep tersebut lahir dari keinginan menghadirkan ruang yang lebih personal bagi perempuan.

"Kami tidak ingin MAC hanya dikenal sebagai tempat perawatan. Kami ingin menjadi ruang di mana setiap perempuan bisa merasa didengar, dipahami, dan kembali terhubung dengan versi terbaik dari dirinya sendiri," ujar Liza Suwandi saat konferensi pers melalui Zoom.

Sementara itu, Founder Melinda Hospital Group, dr. Susan Melinda, SpOG, menilai bahwa perkembangan teknologi estetika perlu selalu diimbangi dengan standar ilmiah dan keselamatan pasien.

"Kami percaya bahwa inovasi harus selalu didukung oleh bukti ilmiah, keamanan pasien, dan pendekatan yang personal. Oleh karena itu, pada tahun 2026 kami mempercayakan Regenesis Indonesia sebagai representatif resmi InMode di Indonesia untuk menghadirkan teknologi terbaru Morpheus8 dan InMode Lift bagi masyarakat Bandung," tutur dr. Susan.

Salah satu teknologi yang kini banyak digunakan dalam praktik estetika modern adalah fractional radiofrequency microneedling. Menurut dr. Liem Fenny, Sp.D.V.E, teknologi tersebut bekerja tidak hanya pada permukaan kulit, tetapi juga pada lapisan dermis dan jaringan di bawahnya untuk merangsang pembentukan kolagen, memperbaiki tekstur kulit, dan membantu membentuk kontur wajah.

Perawatan berbasis radiofrekuensi juga semakin diminati karena menawarkan waktu pemulihan yang relatif singkat dibandingkan prosedur bedah, sehingga lebih sesuai dengan kebutuhan pasien yang memiliki mobilitas tinggi.

Selain itu, pendekatan non-bedah untuk efek lifting wajah turut berkembang melalui kombinasi teknologi radiofrequency yang dirancang untuk mengencangkan kulit, memperbaiki elastisitas jaringan, dan mempertahankan karakter wajah alami pasien.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kronologi Kebakaran KM Mutiara Sentosa 2 Diungkap Kemenhub, Empat Orang Dikabarkan Meninggal Dunia
• 3 jam lalutvonenews.com
thumb
Lexus ES Terbaru Debutkan Tombol Digital Tersembunyi, Tetap Terasa saat Ditekan
• 2 jam lalukumparan.com
thumb
Komisaris PLN Andi Arief Ungkap Pemicu Mati Listrik di Sebagian Jakarta-Tangsel
• 1 jam lalukumparan.com
thumb
UMKM Binaan Pertamina Patra Niaga Curi Perhatian di IFW 2026
• 22 jam lalurepublika.co.id
thumb
Kebakaran Rumah di Cideng Gambir, 11 Mobil Damkar Diterjunkan ke Lokasi | KOMPAS SIANG
• 19 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.